Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ada Emosi Dalam Setiap Antrean Karcis Bioskop

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
12 Oktober 2018
A A
pop corn
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada banyak faktor yang membuat menonton film di bioskop menjadi sangat tidak menyenangkan. Dari mulai film yang ternyata jauh dari ekspektasi karena saking buruknya, suasana teater yang berisik karena ada banyak penonton yang membawa anak-anak, sampai adanya pasangan yang nekat cipokan klomoh dan kebetulan posisi duduknya di sebelah kita.

Nah, faktor-faktor di atas adalah faktor yang terjaid di dalam teater. Tentu saja juga faktor-faktor yang terjadi di luar teater. Salah satu yang paling menyebalkan tentu saja adalah tatkala harus mengikuti proses antrean beli karcis bioskop di jam-jam mepet.

Yang menyebalkan dari mengantre karcis bioskop di jam-jam mepet, jam-jam saat film sudah mau dimulai tentu saja adalah menahan emosi terhadap para pengantre di depan kita.

Saya pikir, ini hal yang lumrah dan dirasakan oleh banyak orang.

Bayangkan, Anda tiba di bioskop sekitar 10 menit sebelum jadwal film diputar. Tanpa banyak babibu, Anda langsung mengantre untuk membeli karcis. Di depan Anda, ada lima belas orang yang juga mengantre untuk membeli karcis. Kemudian, muncullah si pengantre bedebah itu.

Ia berdiri di depan loket dengan ketenangan yang luar biasa, namun dengan kebodohan yang luar biasa pula.

Film sudah hampir dimulai, para pengantri di belakangnya sudah tidak keburu waktu, tapi ia masih saja tidak mempersiapkan uang dalam genggaman, sehingga begitu sampai di depan petugas karcis, ia masih harus sibuk mengeluarkan dompet dari dalam tas, lalu kemudian mengeluarkan uang dari dalam dompet.

Hal itu kemudian menjadi lebih menyebalkan lagi, sebab setelah dompet didapat, ia bukannya mengambil duit, tapi malah kartu debit, yang mana akan membutuhkan waktu buat input pin dan tetek bengek lainnya sebelum pembayaran.

Dalam kondisi yang demikian, pihak bioskop biasanya juga ikut menguji kesabaran kita: sudah tahu kalau antrean banyak dan mengular, tapi loket karcis yang buka cuma satu.

Bodhol bakule slondok. Remuk bakule lombok.

Itu pengantre jenis pertama.

Pengantre jenis kedua tak kalah menyebalkannya. Mereka adalah tipikal pengantre yang tak bisa membedakan mana setia kawan dan mana yang bukan.

Betapa tidak, mereka datang berombongan, sekira empat sampai lima orang, namun saat mengantre, mereka ikut semuanya. Padahal sampai di depan loket karcis, yang ngomong sama penjaga karcis ya tetap saja satu orang.

Saya curiga, jangan-jangan, mereka tidak mengenal kata “representasi” dalam kamus hidup mereka.

Iklan

Nah, pengantre jenis ketiga saya yakin jauh lebih membuat Anda emosi. Kebetulan saya pernah beberapa kali kena sial karena ketemu pengantre jenis ini.

Pengantre jenis ini berwujud sepasang makhluk lelaki dan perempuan. Bisa berstatus pacaran, atau bisa juga berumah tangga.

Mengapa menyebalkan? Karena mereka tak bisa membedakan mana tempat yang layak dijadikan untuk tempat diskusi dan mana yang tidak.

Sekarang bayangkan, saat Anda antre —tentu saja dalam kondisi waktu yang mepet sebelum film diputar, pasangan ini berada di depan Anda. Begitu mereka sampai di depan loket karcis, mereka malah berdebat untuk menentukan film mana yang sebaiknya mereka tonton.

Bedebah.

“Nonton Yo Wis Ben aja beb, film bagus, penuh muatan lokal, gimana?”

“Ah, enggak, mau nonton Love for Sale aja, pengin liat pantatnya Gading Marten nih…”

“Pokoknya Yo Wis Ben.”

“Nggak mau, aku maunya Love for Sale, titik!”

Dalam kondisi yang demikian, saya yang ada di belakang mereka hanya bisa berdoa, semoga Yo Wis Ben dan Love For Sale kasetnya macet saat mau diputer.

Kepada kalian para pencinta film yang senantiasa simpel dan praktis dalam mengantre, semoga Gusti Alloh senantiasa memberkahi hidup kalian.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2018 oleh

Tags: antrebioskop
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Bioskop NSC Rembang, bangunan kecil di tanah tandus yang jadi hiburan banyak orang MOJOK.CO
Catatan

Bioskop NSC Rembang Jadi Olok-olokan Orang Sok Kota, Tapi Beri Kebahagiaan Sederhana

1 Desember 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Aktual

Tak Asyiknya Bioskop Belakangan Ini, Ruang Hiburan Jadi Alat Personal Branding Prabowo

16 September 2025
pengalaman pertama ke bioskop, pakuwon mall jogja.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Pertama ke Bioskop: Orang Desa Salah Pesan Tiket Mahal sampai Tersesat di Pakuwon Mall Jogja, Mau Bertanya Takut Dikira Kampungan

11 April 2025
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Ragam

Derita Tinggal di Rembang: Harus Tempuh 2 Jam ke Tuban Demi ke Mal, Nonton Bioskop atau Sekadar Makan Mie Gacoan

6 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi MOJOK.CO

Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi

31 Januari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.