Saya sedang menunggu dengan amat sabar di perempatan lampu merah kentungan yang memotong Ring Road utara Jogja dengan jalan Kaliurang.

Siang itu, panasnya bukan kepalang. Di atas motor Honda Beat Pop itu, saya menunggu lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Tak terlalu lama sebenarnya, hanya sekitar satu menitan. Namun, panasnya matahari yang menyengat dengan sangat sporadis membuat satu menit itu menjadi terasa begitu lama.

Hitungan lampu merah berangsur berkurang sesuai dengan durasinya.

5… 4… 3… 2…

Belum juga angka menunjuk angka satu, dari belakang saya, bunyi klakson sudah terdengar menyalak. “Tiiiiiiiiiin….”

Saya reflek berteriak, “Sabar, Cuuuuk!”

Beberapa orang kemudian langsung menatap saya yang tampak emosi.

Udara panas, tapi hati saya jauh lebih panas lagi. Bagaimana mungkin, lampu belum juga hijau, namun pengendara di belakang saya sudah langsung membunyikan klakson. Dalam hati saya membatin, “Ini orang pernah mengenyam bangku sekolah apa tidak, sih?”

Kejadian itu terjadi sekira beberapa bulan yang lalu. Dan itu bukan pertama bagi saya. Jauh sebelum itu, dan juga setelah itu, saya berkali-kali berada dalam situasi yang hampir sama: Menunggu di lampu merah, kemudian diklakson oleh kendaraan di belakang bahkan saat lampu belum berubah menjadi hijau.

Kadang, cobaan itu tampil menjadi lebih ringan, tapi tak kalah menyebalkannya.

Saya diklakson oleh pengendara di belakang saya tepat saat lampu berwarna hijau. Dia mungkin merasa saya buta warna sehingga saya perlu untuk diklakson agar tahu bahwa lampu sudah berubah.

Khusus untuk pengendara yang ini, saya hanya bisa membatin pelan, “Yah, mungkin orang ini memang pernah mengenyam bangku sekolah, tapi kebetulan, goblok.”

Mungkin ia tak tahu, Bahwa secanggih-canggihnya kendaraan, ia tak akan bisa langsung melaju ke depan dengan cepat. Butuh waktu setidaknya satu sampai dua detik.

Entah kenapa, rasanya saya begitu muak dengan orang-orang yang tak punya cukup kesabaran untuk sekadar menunggu antrian jalan tanpa harus nglakson.

Puncak kesabaran saya soal klakson ini terjadi pertengahan Juli lalu saat dihelat acara Pasar Kangen (semacam event pasar yang menjual aneka barang-barang dan makanan khas tempo dulu) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Jalan di depan Taman Budaya Yogyakarta waktu itu macet parah. Maklum saja, saat itu memang pas malam minggu, banyak orang yang ingin berkunjung ke pasar kangen. 

Ratusan motor memadati area jalan di depan TBY. Semuanya mengantre untuk mendapatkan tempat parkir di kantong-kantong parkir yang telah disediakan.

Dalam kondisi yang demikian, dari belakang saya, sebuah motor membunyikan klakson dengan sangat kencang.

Saya muntab. Sudah tahu macet, motor sudah untuk maju, kok ya masih saja nglakson.

Saya menoleh ke belakang dan reflek menghardik si pengendara, “Ngerti macet kok nglakson, selak pengin kenthu po piye?”

Beruntung ternyata si pengendara berbadan kecil dan tidak sangar, sehingga saya tidak jiper-jiper amat setelah mengeluarkan kata-kata yang tentu saja jauh dari kata sopan.

Lebih beruntung lagi sebab ternyata pengendara yang jengkel dengan ulah si pengklakson bukan saya thok. Beberapa pengendara lain juga ikut menghardik si pengendara yang entah sedang di mana otaknya itu.

Sebagai orang yang sangat-sangat-sangat jarang menggunakan klakson, saya tak pernah bisa mengerti bagaimana jalan pikiran orang-orang yang kerap membunyikan klakson.

Jalannya terhalang mobil yang terlalu pelan, nglakson. Melewati pertigaan, nglakson. Melihat ada pengendara lain yang akan menyeberang, nglakson. Di lampu merah, nglakson. Terjebak macet, nglakson.

Saya jadi ingat cerita kawan saya yang merantau di Jepang. Kata dia, di Jepang, orang-orang menggunakan klakson hanya dalam kondisi yang memang sangat terpaksa. Misal untuk mengingatkan pengendara lain yang tampak lengah saat berkendara sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan.

Ah, andai saja saya punya kewenangan, ingin sekali saya penjarakan mereka orang-orang yang terlalu hobi nglakson.

Sungguh, terberkatilah orang-orang yang senantiasa menjaga imannya, salatnya, pergaulannya, bicaranya, dan klakson di kendaraannya.