Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Raffi Ahmad, Denny JA, dan Ironi di Bulan Oktober

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
17 Oktober 2014
A A
Raffi Ahmad, Denny JA, dan Ironi di Bulan Oktober

Raffi Ahmad, Denny JA, dan Ironi di Bulan Oktober

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Negara ini adalah negara hukum. Apa artinja ini? Bahwa tiap2 pelanggaran hukum jang merugikan, harus diadili setjara setimpal. Dan dalam hal percobaan kudeta 17 Oktober ini, jang terdjadi bukanlah pelanggaran biasa, yang terdjadi jalah suatu kedjahatan politik! Adilkah djika pengadilan Republik mengampuni kedjahatan ini?” – Editorial Harian Rakjat, 17 Februari 1955, hlm 1

Saya sedang membaca runtutan editorial Harian Rakjat/PKI sepanjang Februari 1955 tentang upaya pemutihan peristiwa “17 Oktober”, ketika di media sosial gaduh oleh kriminalisasi dua sastrawan Indonesia oleh staf khusus Denny Januar Ali.

Peristiwa “17 Oktober” yang terjadi tahun 1952 adalah tonggak kekalahan bintang serdadu paling bersinar di tubuh Angkatan Perang, A.H. Nasution. Tepat ketika Prabowo Subianto berulang tahun yang pertama. Tujuh bulan sebelum pemilu 55, perwira-perwira Angkatan Perang berunding di Yogyakarta untuk memutihkan “dosa-dosa politik” Nasution terhadap Sukarno dalam peristiwa yang disebut PKI “Kudeta 17 Oktober.”

Kelak “17 Oktober” menjadi hari paling terkutuk bagi laki-laki gagah, parlente, di mana semua keburukan nasib seperti enggan menghampiri mereka. Prabowo Subianto yang masih mengeja satu dua patah kata dari ibundanya ketika bintang Nasution terjungkat, juga mengikuti garis kutukan saat ia sebagai lelaki tegap perkasa dengan airmuka gandrung terjerembab dengan memilukan saat bermain-main politik di senjakala kekuasaan mertuanya. Bukan hanya bintangnya yang terlindas arus massa, tapi juga ia (di)cerai(kan) oleh istri terkasihnya.

Dan di tanggal yang sama, Raffi Ahmad menggelar ritus kawin dengan mengambil semau-maunya frekuensi siar milik publik.

Seakan hendak melawan kutukan “17 Oktober” itulah, Raffi Ahmad berdiri, mengumumkan dengan lantang kepada seluruh manusia Republik—yang disiarkan secara LIVE nyaris tanpa jeda, bahwa 17 Oktober bukan kalender kutukan karir seorang megabintang, dan bukan pula jalan sungsang yang mengandaskan urusan perkelaminan.

Di 17 Oktober, seperti seorang panglima, Raffi ingin memberitahu kepada (arwah) Nasution dan Prabowo Subianto—sehabis meratapi kekalahan di Pilpres, agar tetap tangguh seperti dirinya; walaupun dijebloskan BNN ke penjara karena ketahuan pesta narkoba toh tetap berdiri tegap, gagah, dan bisa menyelenggarakan ritus pembuka dari kultur perkembangbiakan, yang insya Allah diharapkannya (bisa) berumur panjang.

Di luar cerita ini itu, Oktober dikenang-kenang sebagai bulan bahasa yang heroik, tapi sekaligus menyimpan luka dan ironinya.

Bagi Nasution, Oktober di hari ke-17 adalah hari naas dan sial. Bagi Prabowo, Oktober di hari ke-17 adalah hari yang gamang antara kebahagiaan merayakan hari lahir dan bayang-bayang kesialan seniornya yang sungguh juga menimpanya 46 tahun kemudian. Tapi bagi sastrawan, Oktober diingat sebagai pertaruhan yang heroik antara apakah kita memiliki bahasa nasional atau seperti Malaysia mesti ikut bahasa majikannya.

Oktober adalah pernyataan sikap yang gagah dan patriotis dalam berbahasa, yang menjadi kendaraan susastera. Tapi sekaligus menjadi luka ketika komplotan Denny JA—yang juga mendaku-daku hidup dari keajaiban bahasa dan sastra, justru mengajukan dua sastrawan Indonesia ke meja kayu interogator di ibukota republik.

Saya mesti mengoreksi pandangan saya sewaktu keluar dari gedung Mahkamah Konstitusi 13 Oktober 2010, bahwa sebuah buku tak boleh lagi dibekuk secara sepihak oleh negara dan masyarakat, melainkan lewat pengadilan jika tak ada titik temu dalam sebuah kolakium dan debat terbuka di ruang publik.

Justru di sini pokok sialnya. Komplotan Denny Januar Ali hanya mengambil frase “pengadilan”-nya tapi mengabaikan kronologi bagaimana substansi duduk soalnya; yakni beda pendapat ihwal buku yang disengketakan isinya.

Belum pernah ada pergelaran debat publik yang terbuka antara cendekia yang bersengketa—yang sama-sama mengendarai bahasa untuk dayacipta. Eh, tahu-tahunya reserse sudah dipanggil datang untuk ikut “menyelesaikan” perdebatan.

Aduan ke kepolisian pun bukan soal buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh itu, tapi sesuatu yang sifatnya defensif-narsistik, semata soal pertahanan “nama baik”. Saut Situmorang dan Iwan Soekri diseret ke kantor polisi, kita diseret ke masalah yang menjauhi pokok gagasan lebih besar dan bermutu; memperdebatkan buku sastra, kelak, di pengadilan! Menyeret sastrawan di bulan bahasa ke hadapan meja interogator karena soal “nama baik” betul-betul melengkapi ironi Oktober.

Ya, Oktober, pada akhirnya bukan saja menjadi kisah kekalahan nasib serdadu yang (pernah) membusung dada di puncak piramida kelas masyarakat, di bulan patriotik dalam sejarah bahasa nasional ini, kita juga dijauhkan dari polemik yang keras dengan daya tahan tak main-main di lini masa sejarah sastra dan bahasa Indonesia.

Iklan

Kita makin bodoh saja di Oktober di hari ke-17, sebagaimana kebodohan yang teramat-amat mempertontonkan secara ekstrim ritus perkembangbiakan dengan merampok frekuensi penyiaran publik di layar kaca.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2018 oleh

Tags: Denny JAprabowoRaffi AhmadSastraSaut Situmorang
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
JILF 2025 Mojok.co
Kilas

JILF 2025 Angkat Isu Sastra dan Kemanusiaan

15 November 2025
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Gagal kuliah di PTN karena tidak lolos SNBP, padahal masih ada jalur SNBT dan UM UGM

Keterima ITS tapi Tak Diambil demi Nama Besar UGM, Malah Merasa Bodoh karena Gagal SNBP padahal Hanya Seleksi “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tak Pasti Aman

1 April 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.