MOJOK.COKetika Ronaldo mandul dan Juventus kehabisan solusi, nama Aaron Ramsey justru ditepikan. Bahkan, dia akan dijual ketika di akhir musim ini.

Coppa Italia menyambut kembali fans Serie A yang sudah kadung merindu sejak dua bulan lalu. Juventus, menjamu AC Milan, di semifinal leg kedua. Di leg pertama, keduanya berbagi skor sama kuat, 1-1. Pada 13 Juni 2020, pertemuan keduanya ini mengawali rangkaian pertandingan kompetisi sepak bola Italia yang dibayangi ketakutan akibat pandemi corona.

Seperti layaknya liga-liga di negara lain yang sudah lebih dulu sepak mula, laga Juventus vs AC Milan berjalan dengan tempo sedang. Intensitas disetel rendah saja, mengingat hampir semua pemain belum berada di kondisi terbaik untuk sebuah big match. Apalagi sebagai tuan rumah, Juventus hanya butuh hasil imbang untuk lolos ke partai final.

Maka yang terjadi adalah dominiasi, sejak menit pertama pertandingan berjalan. Juventus tahu apa yang mereka butuhkan, sementara AC Milan mengawali laga dengan terlalu berhati-hati. Kegagapan merespons kreasi Juventus berakhir pahit. Dua kejadian dalam rentang 2 menit sudah bisa memastikan hasil akhir laga.

Kejadian pertama adalah penalti yang dieksekusi Cristiano Ronaldo. Eksekusinya gagal, jari Gianluigi Donnarumma, kiper AC Milan, berhasil sedikit menyentuh bola. Sentuhan lembut itu berhasil mengubah arah bola dan membenturkannya ke tiang sebelah kanan. Kejadian yang menegaskan bahwa sudah 111 hari Ronaldo mandul.

Beberapa detik setelah penalti gagal, tensi seperti sedikit terangkat. Keraguan Milan seperti diangkat dari hati mereka. Namun, yah, tidak bertahan sampai 2 menit. Sebuah segmen serangan balik setelah kegagalan penalti itu justru membuat Ante Rebic kehilangan ketenangan. Dia mengangkat kaki terlalu tinggi, hampir setinggi kepala Danilo. Pelanggaran, kartu merah!

Praktis, setelah kartu merah itu, Juventus menjadi semakin dominan. Mereka, sepenuhnya, menguasai bola dan menentukan tempo. Milan, sebetulnya, tampil jauh lebih baik ketika bermain dengan 10 pemain. Namun, pada akhirnya, mereka tidak bisa menemukan solusi untuk mencetak gol.

Baca juga:  Barcelona, Manchester United, dan Arsenal Sudah Harus “Bekerja” Sejak Januari 2020

Sebenarnya, meski menguasai pertandingan, Juventus pun kehilangan kreativitas. Miralem Pjanic bermain di bawah standar, sementara Blaise Matuidi terlalu lama berpikir. Di depan, Paulo Dybala dipaksa bermain melebar ke kanan karena padatnya pertahanan Milan dan Franck Kessie bermain sangat baik ketika mengamankan zona 5 bersama Ismael Bennacer.

Ronaldo, terlalu banyak penguasaan bola. Tidak ada pertandingan selama beberapa minggu berdampak ke kemampuan akselerasi jarak pendek. Selain tentunya, AC Milan bisa bertahan dengan baik. Ketika buntu, di babak kedua, sebetulnya Juventus membutuhkan solusi, “the third man” dalam diri Aaron Ramsey.

Sayang, Maurizio Sarri memilih memasukkan Sami Khedira, bersama Federico Bernardeschi dan Adrien Rabiot. Lini tengah semakin bertenaga, namun tidak ada inisiatif di sana. Inisiatif yang dimaksud adalah pergerakan positif, lari ke arah kotak penalti dengan tempo terukur, dan kemampuan menyelesaikan peluang di atas rata-rata. Kemampuan yang bisa disediakan oleh Aaron Ramsey.

Aaron Ramsey ada di mana? Ternyata, dirinya ada di dalam daftar jual Juventus untuk musim panas mendatang. Sebuah kabar, yang membuat saya, fans Arsenal, kaget juga. Jujur saja, tidak ada fans Arsenal yang senang ketika Aaron Ramsey pergi secara gratis ke Juventus. Pemain asal Wales itu punya kemampuan yang unik dan sangat berguna.

Sangat berguna ketika Ronaldo (yang sudah 111 hari tidak mencetak gol) dan Dybala mandul. Ramsey punya kemampuan coming from behind atau ada yang menyebutnya late run, kepekaan terhadap timing berlari masuk ke kotak penalti, dan sentuhan bola di atas rata-rata. Ketika dibutuhkan, Ramsey juga bisa menjadi penyelesai peluang.

Baca juga:  Elneny dengan Paru-paru Padang Pasir Partey di Manchester: Arsenal dan Ekspektasi yang Terdobrak

Namun, ketika Ronaldo kehilangan solusi dan Juventus tidak punya inisiatif, Ramsey tidak ada di lapangan untuk menolong. Dia ada di kotak penjualan. Padahal, ketika melawan sebuah tim yang bertahan dengan garis pertahanan sangat rendah, inisiatif bernama coming from behind akan sangat berguna. Apa yang sedang Juventus pikirkan?

Gajinya yang terlalu tinggi menyentuh 400 ribu paun per pekan? Kerentanannya kepada cedera? Bukankah hal-hal seperti itu sudah dipikirkan ketika menarik Ramser dari Arsenal? Kenapa manajemen pemain Juventus begitu buruk?

Saya pernah menulis di Mojok, perihal betapa bergunanya Ramsey untuk duet Ronaldo dan Dybala. Namun, pada akhirnya, saya hanya penulis dan Sarri pelatihnya. Si Perokok Berat itu, mungkin, punya pemikiran yang berbeda. Pemikiran yang saya, sebagai fans Arsenal, sulit memahaminya.

Apakah keberadaan Ramsey memang akan berguna untuk Ronaldo dan Dybala? Tidak tahu, jawabannya. Tidak tahu, karena memang belum diujikan secara ajeg dan intens. Namun, kalau kamu ingin mencari tahu, ada sebuah laga di mana pergerakan Ramsey di dalam kotak penalti memudahkan kerja striker. Cari! Jangan malas!

Atau kalau ingin mudah, simak perjalanan karier Ramsey bersama Arsenal. Perhatikan betul bagaimana hasilnya ketika sebuah tim bisa memaksimalkan kawan baik Gareth Bale itu. Gol dan asis menjadi jaminan setiap minggu. Yah, namananya kebijakan pasti ada latar belakanganya.

Saya hanya berdoa, supaya jangan terjadi, Ramsey dikorbankan hanya demi mengamankan gaji Ronaldo. Kalau itu kebenarannya, Juventus sudah bekerja dengan sangat buruk dan berpotensi kehilangan salah satu pemain unik di dunia.

BACA JUGA Cristiano Ronaldo Hengkang dari Juventus karena Corona? Omong Kosong! atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.