5   +   2   =  

MOJOK.COMungkin jumlah asis dan gol akan berkurang, Namun, semoga terwujud, fans Arsenal akan menemukan Mesut Ozil yang baru. Team player dengan imajinasi tak berbatas.

Liga Inggris sudah mau sepak mula lagi. Bagi beberapa klub, kompetisi yang kembali berjalan bukan hanya soal menentukan nasib. Bagi mereka, jalannya sisa kompetisi adalah sebuah upaya memindai kekuatan dan kelemahan. Tidak terkecuali Arsenal dan Mesut Ozil di dalamnya. Seorang pemain yang “ditolak oleh zaman”.

Konon, Mesut Ozil “ditolak oleh zaman”. Pemain seperti dirinya sudah tidak lagi kompatibel dengan perubahan sepak bola. Perubahan yang terasa begitu kejam, tapi pasti itu. Sedih rasanya melihat dia, sebagai pemantik imajinasi, harus tersisih dari panggung sepak bola. Sesuatu yang wajar terjadi, tetapi kesedihan tidak mungkin tidak ikut mengiringi.

Masih segar di dalam ingatan hari-hari pertama Mesut Ozil bersama Arsenal. Gairah dan kepercayaan mengalir begitu deras, dari fans untuk Arsenal. Kedatangan seorang perancang serangan membangkitkan semacam nostalgia kecil akan keberadaan Sang Dewa, Dennis Bergkamp. Dia yang memantik imajinasi.

Laga debut Mesut Ozil di Liga Inggris menghadirkan sentakan. Satu asis langsung dia bikin untuk Olivier Giroud, striker yang terlalu banyak membuang kerja keras Mesut Ozil. Mohon maaf kalau saya terdengar begitu kejam. Pada kenyataannya, imajinasi Ozil akan disematkan ke dalam statistik ketika bisa dimaksimalkan oleh siapa saja, termasuk striker.

Peralihan zaman dan pergantian pelatih berdampak kepada catatan karier Ozil. Dari Arsene Wenger, sosok bapak yang tidak berpikir dua kali untuk melindunginya, Unai Emery yang begitu pengecut dan munafik, dan Mikel Arteta yang realistis itu. Nama Ozil selalu menjadi perdebatan di semua rezim yang terbangun di Arsenal.

Sosok Mesut Ozil banyak ditemukan di bawah sorot kamera. Pemain asal Jerman itu dianggap sebagai pemain paling malas di Arsenal. Padahal, jika melihat rata-rata jarak lari di sebuah pertandingan, jelajah Ozil mencapai lebih dari 11 kilometer. Bukan catatan main-main untuk pemain yang “dianggap malas”.

Pada titik tertentu, kariernya bersama Arsenal sudah dianggap habis. Kamu bisa melacak tanda-tanda keraguan itu lewat media sosial. Ketika nama-nama gelandang, yang jauh lebih muda, mulai dihubungkan dengan Arsenal. Mulai dari Thomas Partey, Marc Roca, hingga Dominik Szoboszlai. Nama terakhir masih berusia 19 tahun dan konon cuma dibanderol 16 juta euro.

Baca juga:  Tetap Pesimistis Meski Lawan MU Nanti 'Cuma' Norwich

Permintaan akan gelandang yang lebih robust, berdaya jelajah tinggi, namun tetap jago membuat peluang semakin tinggi. Ozil, berbekal segala kelebihan pada visi dan teknik mengumpan, dianggap tak lagi kompatibel dengan “The New Arsenal” di bawah Mikel Arteta. Sebuah kenyataan yang mungkin akan kita temukan ketika Liga Inggris sepak mula lagi.

Namun, kita sering abai dengan perjuangan seorang pemain. Kita lebih suka melihat kelemahan, di mana lebih seru untuk dibahas, ketimbang pengorbanan yang sudah dilakukan pemain. Banyak fans Arsenal, yang entah secara sengaja atau tidak, enggan melihat perubahan cara bermain Mesut Ozil.

Pertama, Mikel Arteta menaruh kepercayaan penuh kepada sosok Ozil. Dia hampir selalu bermain. Bahkan ketika berlaga di Carabao Cup melawan Liverpool, di mana banyak pemain dari tim utama diistirahatkan. Selain kepercayaan, alasan apa lagi untuk menjelaskan kenyataan seperti itu?

Kedua, secara sadar dan bertanggung jawab, Mesut Ozil “melebur” dirinya yang dahulu. Dia tidak lagi menjadi “pusat semesta” dan meletakkan permainannya kepada kelihaian memanfaatkan visi. Mantan pemain Werder Bremen itu mengubah dirinya menjadi “team player”. Pemain yang selayaknya ada untuk sesama di dalam universe tim.

Silakan lacak perubahan cara bermain Ozil dari naiknya jumlah rata-rata tekel per pertandingan. Dia bukan lagi #10, playmaker di belakang striker. Dia menjadi seperti gelandang sentral dengan penambahan kemampuan di sisi bertahan. Perlu kamu ketahui, mengubah identitas cara bermain tidak semudah kelihatannya.

Apalagi untuk pemain yang sebelumnya dianggap lemah dan malas. Artinya, di mendorong dirinya sendiri untuk melewati batas kemampuan. Secara sadar, menambah kemampuan supaya tetap kompatibel dengan Arsenal baru di bawah asuhan Mikel Arteta. Pada titik tertentu, saya respek betul dengan pemain yang ikhlas “mengoyak dirinya” demi perubahan ke arah positif.

Baca juga:  TVRI Bakal Kehilangan Momen Magis Martinelli dan Keseruan Chelsea vs Arsenal

Kenapa begitu? Untuk memahami determinasi Mesut Ozil “mengubah” dirinya, kita perlu memutar waktu ke masa lampau. Ketika Ozil kecil ditempa disebuah tempat bernama “Kandang Monyet”.

Ozil kecil mengasah bakat sepak bolanya di lapangan yang keras, terbuat dari semen, dan dikelilingi pagar kawat. Orang-orang menyebutnya “Kandang Monyet”.

“Dahulu, lapangan tempat bermain sepak bola tak terlalu bagus. Lantainya terbuat dari semen, dan jika jatuh, kamu akan langsung berdarah. Tapi kesulitan itu membuatmu menjadi lebih baik. Terutama, karena saya selalu bermain melawan anak-anak yang lebih tua di tempat yang sangat kecil. Kamu harus benar-benar jago. Untuk perkembanganku, masa-masa ini sungguh berharga,” ungkap Mesut kepada Goal.

Dalam Bahasa Jerman, “Kandang Monyet” itu disebut Affenkäfig. Tempatnya tak begitu jauh dari rumah keluarga Mesut. Lapangan tersebut hampir tak terlihat karena dikelilingi pepohonan. Beberapa cabangnya bahkan masuk melewati pagar kawat, dan rerumputan menyeruak dari bawah pagar.

Kandang tersebut seperti menjadi pelarian dari kehidupan sosial yang lambat di Olga Strasse, Gelsenkirchen. Sebuah lingkungan dengan banyak kamar apartemen yang kosong ditinggalkan, dan grafiti anti-sayap kanan bertebaran di dinding-dinding kota. Kandang Monyet itu menjadi wajah kehidupan imigran generasi ketiga, keras, dan selalu membuatmu waspada.

Di dalam diri Ozil sudah tercatat sebuah jejak perjuangan. Dia yang lebih kecil di antara pemuda yang bermain di dalam Kandang Monyet, tak mengenal rasa takut. Sebuah kilas balik yang membuat saya sedikit yakin bahwa di era baru bersama Mikel Arteta, pemain berdarah Turki itu bisa menemukan second coming.

Mungkin jumlah asis dan gol akan berkurang. Namun, semoga terwujud, kita akan menemukan Mesut Ozil yang baru. Sebagai team player yang mau berkorban untuk Arsenal. Seorang gelandang yang lebih tangguh sekaligus tetap berbahaya dengan visi dan kejelian mata. Pada saat itu, dia akan menjadi pemain yang lebih komplit.

BACA JUGA Aksi Mesut Ozil Mencium Roti, Aksi Kemanusiaan yang Terkadang Dilupakan atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.