Tanaman lokal Indonesia sering berhenti di satu titik. Ia kerap hanya jadi pajangan, koleksi pribadi, atau sekadar objek estetik di sudut rumah.
Ia jarang dipikirkan lebih jauh sebagai pengetahuan. Apalagi sebagai ekosistem usaha yang berkelanjutan.
Padahal, jika dilihat lebih dalam, setiap daun, biji, dan pola tumbuhnya menyimpan cerita tentang lingkungan. Juga tentang relasi manusia dengan alam yang jauh lebih luas, bahkan hingga tingkat global.
Di episode Kalcersok kali ini, Mojok berkunjung ke NUSA Plant, sebuah inisiatif yang mengelola lebih dari 300 jenis tanaman asli Indonesia.
Dari Papua hingga Sulawesi, dari tanaman hutan hingga buah endemik yang nyaris tak dikenal publik, NUSA Plant mencoba membawa flora Indonesia masuk ke ranah wirausaha dan pasar internasional.
Obrolan tidak berhenti pada kurasi tanaman lokal Indonesia atau teknik perawatan semata. Ika dan Adit, pemilik NUSA Plant, juga berbagi cerita tentang kerja sama mereka dengan hunter lokal—orang-orang yang hidup dekat dengan hutan dan memahami karakter tanaman.
Melalui kerja sama ini, tanaman tidak diambil secara serampangan. Ia dirawat dengan pengetahuan lokal, sekaligus dijaga jejak asal-usul dan konteks ekologisnya.
Namun, upaya ini tak berhenti pada soal teknis. Wirausaha juga dituntut memastikan logika bisnis tidak menjelma menjadi eksploitasi. Sebaliknya, ia harus menjadi jembatan antara kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan komunitas lokal.
Episode Kalcersok kali ini menunjukkan bahwa tanaman lokal bukan sekadar objek diam. Ia bisa menjadi medium pengetahuan sekaligus peluang usaha, jika dikelola dengan kesadaran.








