Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Sirno Ilang Rasaning Rat: Ketika Sengkalan 00 Menjadi Nyata

Redaksi oleh Redaksi
6 Desember 2025
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sirno ilang rasaning rat, hilanglah peri kemanusiaan di bumi. Demikianlah sengkalan penanda tahun dimulainya kehancuran dan perang sukses yang berkepanjangan di tanah Jawa.

Episode Jasmerah kali ini mengajak kita untuk mengunjungi puing-puing ibu kota keraton Mataram di Pleret Bantul Yogyakarta. Sebuah tempat yang menjadi saksi bagaimana ramala sengkalan berekor “00” benar-benar mewujudkan horor sejarahnya.

Dalam tradisi jawa, sebuah angka bukan sekedar angka. Ia bisa menjadi pertanda bahkan ancaman.

Segala Ramalan Menjadi Nyata

Kematian Bre Prabu Majapahit ditulis sebagai Sunyo Nora Yoganing Wong. Jika dibaca sebagai sengkalan, hasilnya adalah tahun Saka 1400. Tahun yang dipercaya sebagai tanda hilangnya Majapahit.

Ketakutan terhadap sengkalan berekor nol ini hidup terus hingga berabad-abad kemudian. Bahkan pada masa Kartasura, ketakutan itu muncul lagi—ditulis di dalam manuskrip yang diedit oleh M.C. Ricklefs berjudul Babat Sengkala (1738).Di sana muncul kalimat yang sangat akrab: Sirno ilang kertaning bumi. Lagi-lagi angka Saka 1400.

Bagi orang Jawa, angka ini bukan sekadar kalkulasi. Ia adalah firasat. Dan firasat itu mencapai puncaknya pada tahun Jawa 1600.

Pada 28 Juni 1677, Mangkurat I meninggalkan Pleret bersama 100 abdi dalem. Namun pelarian itu tidak panjang. Di Wanayasa pada 10 Juli 1677 Amangkurat wafat. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tegalwangi, Tegal.

Namun tragedi belum selesai . Justri baru dimulai.

Lalu Bagaimana dengan Sengkalan “00”

Setelah wafatnya Amangkurat I, ketegangan meledak antara dua pewaris: Pangeran Adipati Anom (kelak Amangkurat II) dan adiknya, Pangeran Puger.

Sejak itu, Mataram Islam tinggal wilayah selatan Jawa: dari Cilacap hingga Blitar. Pleret ditinggalkan. Keraton baru dibangun di Wonokerto dan diberi nama Kartasura.

Jika membaca kronik-kronik itu, kita seperti membaca ritme sejarah Jawa: setiap angka 00 dalam kalender Jawa seakan mengabarkan badai.

Hari ini, tahun Jawa telah memasuki 1959. Artinya, 41 tahun lagi kita akan memasuki sengkalan berekor 00 berikutnya.

Apakah sesuatu akan terjadi?

Tidak ada yang tahu.

Iklan

Sejarah tidak pernah memberi jawaban pasti, hanya memberi pola. Dan pola itu adalah undangan bagi kita untuk membaca ulang masa lalu—agar lebih awas pada masa depan.

Tags: jasmerahsejarah tanah jawasengkalan 00

Terpopuler Sepekan

Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.