Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Desintha Dwi Asriani: Peran Domestik Perempuan yang Diremehkan dan Tak Diakui

Redaksi oleh Redaksi
26 Agustus 2025
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Isu gender hingga kini masih menjadi topik yang hangat dibicarakan, baik di ruang akademik maupun dalam kehidupan sehari-hari. Perdebatan mengenai peran laki-laki dan perempuan, kesetaraan, hingga stereotipe sosial kerap muncul dalam berbagai kesempatan. Bagi sebagian orang, topik ini sekadar wacana. Namun bagi bintang tamu Putcast kali ini “Desinta Dwi Ariani”, isu gender merupakan hal yang dekat dengan pengalaman pribadinya sekaligus menjadi bidang yang menarik untuk dikaji lebih dalam.

Awal Ketertarikan pada Kajian Gender

Ketertarikan Desinta terhadap kajian gender berawal sejak kuliah S1, tepatnya ketika ia memasuki semester enam. Saat itu, ia mengambil mata kuliah tentang gender dan feminisme. Dari sanalah ia mulai banyak mengamati, merasakan, sekaligus mengalami langsung persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gender dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu pengalaman yang membekas adalah ketika ia memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ia ingin mempelajari hal-hal baru, termasuk mata kuliah yang tidak tersedia di Indonesia. Namun, niat tersebut sering kali mendapat komentar negatif, misalnya: “Ngapain sekolah jauh-jauh?” Komentar semacam itu justru semakin mendorong Desinta untuk lebih memahami bagaimana konstruksi sosial memengaruhi pandangan terhadap pilihan hidup perempuan.

Antara Tradisi Jawa dan Realitas Gender

Dari situ, pembahasan tentang gender pun semakin luas. Salah satunya berkaitan dengan tradisi Jawa, yang masih menyimpan anggapan bahwa sebuah keluarga belum lengkap bila belum memiliki anak perempuan. Padahal, dalam fikih, tanggung jawab utama tetap berada di pundak laki-laki.

Desinta menanggapi hal ini dengan memberi contoh dari kehidupan sehari-hari. Ia juga menyinggung istilah generasi sandwich, di mana perempuan kerap mengalami double burden atau beban ganda. Kondisi ini muncul akibat konstruksi sosial berbasis gender, salah satunya melalui labeling yang menempatkan perempuan seolah-olah hanya berperan di ranah domestik.

Olahraga dan Kesehatan Perempuan

Pembahasan mengenai gender juga sampai pada isu kesehatan. Salah satu yang menarik perhatian Desinta adalah bidang olahraga. Perempuan memang banyak bergerak, tetapi jarang ada olahraga yang secara spesifik ditujukan bagi mereka. Dari literatur yang ia baca, ternyata secara global perempuan lebih rentan mengalami katarak.

Kajian-kajian inilah yang membuat Desinta semakin paham bahwa olahraga dan pola hidup sehat sangat penting dan selayaknya menjadi bagian dari kehidupan perempuan.

Tags: gender dan feminismegenerasi sandwicholahraga perempuanPutcast

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.