Tradisi Dandangan di Kudus selalu identik dengan lautan manusia, jajanan legendaris, dan deretan lapak sepanjang hampir dua kilometer. Namun di balik kemeriahan itu, ada satu persoalan besar yang selama ini kerap luput dari perhatian: sampah.
Dengan jumlah pengunjung yang bisa mencapai 20.000 sampai 30.000 orang per malam, bahkan 60.000–80.000 orang saat puncak akhir pekan, potensi timbulan sampah sangat tinggi.
Jika setiap pengunjung menghasilkan rata-rata 0,2 sampai 0,3 kilogram sampah, maka dalam satu malam Dandangan bisa memproduksi sekitar 6 sampai 9 ton sampah.
Lantas pertanyaannya: bagaimana pengelolaannya?
Sistem Pengelolaan Sampah yang Lebih Terstruktur
Tahun ini, pendekatan yang dilakukan jauh lebih sistematis. Panitia menggandeng Djarum Foundation melalui program Bakti Lingkungan serta Dinas Lingkungan Hidup setempat untuk memperkuat manajemen kebersihan.
Beberapa hal yang dilakukan antara lain: menyediakan tempat sampah terpilah (organik, anorganik dan residu), penambahan tenaga kebersihan, pengangkutan sampah setelah tutup dan pelibatan 20 relawan mahasiswa untuk edukasi langsung di lapangan.
Para relawan tak hanya berdiri menjaga tempat sampah, tetapi aktif mengingatkan serta mengedukasi pengunjung untuk memilah dan menjelaskan perbedaan jenis sampah.
Edukasi ini penting karena ketersediaan tempat sampah saja tidak menjamin perilaku masyarakat berubah.
Dari Sampah Jadi Manfaat
Fokus utama pengolahan diarahkan pada sampah organik, mengingat mayoritas limbah berasal dari sisa makanan dan minuman.
Dengan pendekatan ini, Dandangan tidak hanya menjadi festival ekonomi, tetapi juga mulai bergerak menuju konsep ekonomi sirkular.
Meski sistem sudah disiapkan, tantangan terbesar tetap pada perilaku pengunjung. Banyak yang masih mencampur sampah atau membuang tidak pada tempatnya. Karena itu, keberadaan relawan dan edukasi langsung menjadi kunci.
Targetnya bukan hanya bersih selama acara, tetapi membangun kesadaran jangka panjang. Setiap tahun, grafik kepatuhan dan kesadaran masyarakat diharapkan meningkat.
Lebih dari Sekadar Festival
Reformasi Dandangan tidak hanya menyentuh aspek digitalisasi stand dan transparansi biaya, tetapi juga menyasar isu lingkungan secara serius. Dalam skala ribuan lapak dan puluhan ribu pengunjung, pengelolaan sampah bukan lagi pelengkap—melainkan kebutuhan utama.
Jika konsisten dilakukan, Dandangan berpotensi menjadi contoh bagaimana festival tradisional dapat tetap meriah, menggerakkan ekonomi rakyat, sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Jadi benar, pembahasan tentang sampah bukan hanya ada—tetapi justru menjadi salah satu inti perubahan tahun ini.









