Di lereng Gunung Muria, parijoto bukan sekadar buah liar. Ia tumbuh bersama cerita. Dalam tutur masyarakat, buah ini lekat dengan dakwah Sunan Muria—dipercaya baik untuk ibu hamil, untuk kesehatan janin, bahkan jadi bagian dari ikhtiar pasangan yang belum punya keturunan. Mitos itu bertahan, dan anehnya, sebagian mulai dibenarkan oleh penelitian tentang kandungan antioksidanya.
Tapi di balik cerita, ada realita yang lebih keras. Parijoto cepat rusak dan sangat tergantung musim. Saat panen raya, harganya jatuh drastis. Bahkan dulu, buah yang melimpah sering dibiarkan busuk atau diberikan ke ternak karena tak terserap pasar. Petani pun sempat kehilangan semangat.
Titik balik datang ketika parijoto mulai diolah. Sekitar 2015, muncul ide sederhana: kalau buahnya tak tahan lama, kenapa tidak diubah bentuknya? Dari situ lahir berbagai produk—sirup, permen, teh, sampai kombucha. Awalnya dianggap aneh, tapi pelan-pelan diterima. Sejak 2017, pengolahan ini makin serius dan mulai melibatkan lebih banyak petani.
Dampaknya terasa. Parijoto tak lagi bergantung sepenuhnya pada musim. Buah yang dulu terbuang kini punya nilai. Bahkan muncul petani baru, serta peluang lain seperti reseller dan wisata kebun. Orang tak harus punya lahan untuk ikut merasakan manfaatnya.
Yang menarik, semua ini tetap berjalan tanpa meninggalkan alam. Parijoto memang cocok hidup di lingkungan lembap pegunungan dan tidak membutuhkan pupuk kimia. Ia ditanam berdampingan dengan kopi dan pohon besar lain sebagai bagian dari konservasi. Alam tetap terjaga, ekonomi tetap jalan.
Di balik semua itu, ada filosofi yang masih dipegang. Ajaran Sunan Kalijaga dan Sunan Muria seperti pager mangkok—berbagi kepada sesama—dan topo ngeli—mengikuti arus tanpa kehilangan arah—terasa relevan sampai sekarang. Bahkan dalam bisnis: memanfaatkan digital, tapi tidak larut di dalamnya.
Parijoto akhirnya bukan cuma buah kecil dari lereng gunung. Ia adalah cara bertahan: menjaga tradisi, merawat alam, sekaligus mencari jalan hidup di tengah perubahan.









