Grup WhatsApp yang Mempersulit Komunikasi

Grup WhatsApp nggak penting

Surat orang biasa.

Entah mengapa orang-orang gemar sekali membuat banyak grup WhatsApp. Misalnya, ketika kuliah, ada grup angkatan. Nanti dipecah lagi ada grup kelas. Lalu nanti dibuat juga grup khusus setiap mata kuliah. Ditambah lagi ada grup keluarga, grup alumni, grup komunitas, dan masih banyak grup lainnya.

Fitur grup WhatsApp bagi saya tidak mempermudah orang-orang untuk berkomunikasi. Sebab, sebagian besar anggota lebih senang menjadi pembaca pasif. Ketika ada salah satu anggota yang mengirim pesan, pasti hanya satu sampai dua orang yang merespons. Anggota-anggota pasif itu salah satunya adalah saya sendiri.

Bukan tanpa alasan saya bersikap demikian. Ketika ada tugas kelompok, teman-teman saya semangat sekali langsung membuat grup WA. Padahal, ketika diajak diskusi atau ada yang bertanya di grup, pasti yang menanggapi hanya satu orang. Bahkan, ada juga yang menanggapi lewat jalur pribadi. Kita bertanya di grup, kenapa dijawabnya di jalur pribadi? 

Ditambah lagi kalau ada anggota yang sudah ditandai berkali-kali di grup untuk segera muncul, malah hanya mengabaikan. Ketika dihubungi secara pribadi barulah merespons.

Karena banyak yang cuek, saya pun jadi malas muncul di grup WhatsApp. Sejujurnya saya enggan bergabung ke grup WhatsApp. Khususnya grup yang tidak berkaitan dengan perkuliahan. Namun, grup-grup kuliah ini masih lumayan penting juga karena akan ada informasi-informasi yang berpengaruh untuk masa depan saya.

Sebetulnya fitur grup di WhatsApp ini memiliki tujuan yang mulia yakni untuk menjaga komunikasi dengan teman, sahabat, dan keluarga. Adanya grup WhatsApp juga mengecilkan kemungkinan untuk hilang kontak dengan mereka. Kita sangat mudah untuk bertukar kabar. Kalau ada informasi penting pun bisa langsung dikirim ke grup saja, tanpa harus capai-capai menghubungi secara pribadi.

Namun, tujuan mulia itu ternyata kurang sesuai dengan harapan. Hal ini dapat dilihat dari anggota-anggota grup yang lebih senang hanya membaca pesan. Bahkan, hanya sekadar membuka grup tanpa membacanya. Paling satu sampai dua orang yang merespons.

Jadi, untuk apa sebetulnya grup WhatsApp? Adanya grup WhatsApp malah mempersulit komunikasi. Lagi pula, ujung-ujungnya, kan, komunikasi lewat jalur pribadi. Saya rasa grup WhatsApp tidak membuat hubungan pertemanan dan persaudaraan menjadi erat. Toh lambat laun para anggota akan keluar satu per satu kalau tidak ada kepentingan yang berkelanjutan.

Vivi Intan
Pangestuti Perum BCK Kota Cilegon, Provinsi Banten, viviintan05@gmail.com.

Uneg-uneg, keluh kesah, dan tanggapan untuk Surat Orang Biasa bisa dikirim di sini

Exit mobile version