• 113
    Shares

MOJOK.CODi tengah pusaran ponsel-ponsel kekinian, tablet semakin ditinggalkan oleh penggunanya karena serba nanggung dan miskin inovasi.

“Cuih. Itu barang elektronik loh, didalamnya ada komponen-komponen yang njelimet ala nama panggung ‘Bowo Alpenliebe’. Kok bisa-bisanya tablet disebut talenan yang biasa dipakai buat alas motong sayur dan daging? Di mana nuraninya orang-orang ini?” pikir saya.

Kini saya merasa sangat bersalah. Ternyata merekalah orang-orang futuristik yang bisa memprediksi kalau tablet bakal ditinggalkan oleh peradaban. Yah, syukur-syukur masih ada yang menjadikannya talenan atau bingkai foto digital ala orang-orang penuh #positivevibes di Pinterest dan Instagram. Ketimbang tidak berguna sama sekali, bukan?

Yang bikin saya salut, prediksi mereka bahkan lebih akurat dari Bill Gates, co-founder Microsoft yang juga salah satu orang terkaya di dunia. Dalam buku Digital Wars (2013) karya Charles Arthur, Gates pada tahun 2001 pernah sesumbar kalau dalam lima tahun ke depan, tablet akan menjadi gadget terpopuler yang dijual di AS.

Nyatanya, lima tahun berselang dan sampai sekarang, tablet bukanlah komoditas panas di negeri Paman Sam maupun negara-negara lainnya. Bahkan orang sekaya dan sepintar Bill Gates saja bisa salah memprediksi. Ndak papa, yang namanya prediksi kan bisa salah, bisa benar.

Saya tidak bermaksud memprediksi punahnya tablet ini karena saya adalah sobat kismin yang bukan termasuk pengguna tablet. Namun, tanda-tandanya sudah bisa dilihat melalui lima alasan berikut.

Kegunaannya Tidak Jelas

Steve Jobs pada tahun 2010 memperkenalkan produk baru Apple bernama iPad untuk pertama kalinya ke publik. Sambil duduk di sebuah sofa yang disiapkan panitia di atas panggung, Jobs menunjukkan kebolehannya melakukan aktivitas-aktivitas non-produktif dengan iPad. Misalnya membaca berita online, mengusap layar ke kiri dan ke kanan untuk melihat foto-foto di aplikasi galeri, serta menonton video anjing surfing di YouTube.

Apple sebetulnya sudah melabeli perangkat ini sebagai perangkat tersier saja. Namun di era Tim Cook, Apple mengajukan branding baru untuk iPad sebagai gajet penunjang produktivitas. iPad Pro yang layarnya mencapai 12,9 inci itu disokong dengan aksesori seperti keyboard Bluetooth, fitur split-view ala iOS 11 serta hadirnya Dock aplikasi ala macOS.

Baca juga:  Kebanyakan Nyinyir pada Khilafah, Bisa Bikin Lupa Munafik-Kaffah Cuma Perspektif

Ini baru Apple, belum produk tablet dari vendor-vendor lainnya. Jangan-jangan tujuan Samsung menciptakan tablet bukan untuk menghadirkan teknologi tercanggih sejagat dalam genggaman (memang bisa digenggam?), melainkan untuk menguras kantong Anda untuk membeli barang yang tak canggih-canggih amat.

Miskin Inovasi Baru

Sekarang ini, Anda pasti sudah mafhum dengan munculnya ponsel-ponsel dengan spesialisasi khusus, seperti ponsel selfie dan ponsel game. Akan tetapi, ponsel-ponsel semacam ini sejatinya sudah ada sejak dulu dan masih berlaku sampai sekarang. Coba tanya orang-orang yang mengantongi dua HP, biasanya yang satu berfungsi untuk berkomunikasi dengan pasangan yang sah, satunya lagi untuk mengajak ketemuan selingkuhan. Eh…

Tablet? Jangankan inovasi baru, begitu ada produk baru muncul sampai bisa jadi trending topic di Twitter atau masuk Google Trends saja sudah mustahil. Sementara itu, beberapa smartphone kekinian sudah dilabeli sebagai versi Note yang ukuran fisiknya hampir menyerupai ukuran sebuah tablet.

Sejauh ini, inovasi paling mentereng dari nilai guna tablet yaitu sebagai media untuk membaca ebook yang bikin mata tidak cepat lelah ala Kindle Fire.

Antarmuka yang Nanggung

Apakah tablet lebih cocok dioperasikan dengan jari atau stylus? Ini masih menjadi perdebatan. Kendati bergantung dari penggunaannya, antarmuka tablet sendiri memang termasuk nanggung.

Richard Brass, orang yang dipercaya Bill Gates untuk mengembangkan komputer tablet, menolak penggunaan stylus untuk tablet bikinan Microsoft. Ia berargumen bahwa tablet lebih cocok ditemani oleh sebuah keyboard daripada stylus yang berpotensi membuat interface tablet menjadi lamban dan kaku.

Sementara itu, Steve Jobs dan Apple mulanya sepakat kalau tablet tak seharusnya dioperasikan dengan pena stylus. Alasannya, penggunaan jari akan lebih nyaman karena stylus dianggap kurang intuitif dan responsif.

Setelah Steve Jobs wafat dan kemudian ada pergeseran target konsumen ke pekerja kreatif atau pengolah gambar, Apple malah menghadirkan Apple Pencil dengan embel-embel peningkatan teknologi signifikan bersamaan dengan keluarnya iPad Pro.

Baca juga:  iPad Mini 5th Generation dan iPad Air 2019, Duo iPad Gahar di Bawah 10 Juta

Sudah penggunannya masih mengambang, antarmukanya pun tak jelas. Oalah nasibmu, blet… blet…

Terhimpit oleh Gajet Lain

Penciptaan produk baru biasanya mengandung motif kanibalisme. Laptop dihadirkan untuk menggeser desktop PC. Smartphone dilahirkan untuk menendang laptop. Aku dihadirkan untuk mengkudeta pacarmu. Cuma tablet tok yang entah ke mana larinya.

Apakah tablet adalah karnivor laptop? Tidak juga. Dengan segala aktivitas yang bisa dilakukan di laptop, dari bermain game, mengerjakan skripsi, atau stalking akun medsos gebetan tanpa perlu takut kepencet love atau like di postingannya, tablet tidak lebih baik.

Apakah tablet lebih portabel ketimbang smartphone? Tidak juga. Okelah jika layarnya dibilang lebih luas sehingga kalau nonton film jauh lebih nikmat. Namun, dari segi mobilitas, jelas ponsel jauh lebih disukai orang-orang. Spesifikasinya pun acap kali lebih powerful dari tablet. Posisi tablet yang dihimpit oleh gadget-gadget inilah yang membuat keberadaannya semakin diacuhkan di mata konsumen.

Munculnya Laptop 2-in-1

Laptop ternyata bukan lawan yang mudah untuk ditaklukkan. Dikritik karena dimensinya kurang nyaman, laptop berevolusi menjadi kian tipis bodinya. Dinyinyiri karena kurang fleksibel, mereka bertransformasi menjadi perangkat yang punya dua fungsi (convertible). Jenis laptop 2-in-1 hadir untuk mengakomodasi pengguna yang ingin mencicipi laptop yang sekaligus berfungsi sebagai tablet.

Dengan tetap memiliki keyboard fisik yang bisa dibongkar-pasang terhadap layarnya, laptop 2-in-1 bisa memenuhi kebutuhan masyarakat lebih luas. Misalnya, Anda bisa menenteng layarnya saja saat mau dipakai bersantai menonton film di sofa, lalu pasang lagi keyboard-nya untuk dipakai serius bikin thread dan debat kusir di Twitter. Praktis dan lebih berguna di setiap keadaan.

Di pasaran, laptop 2-in-1 sudah dipasarkan melalui produk-produk seri Lenovo Miix, Microsoft Surface, atau Asus Transformers. Tertarik untuk mencoba?

  • 113
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles