Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Betapa Ribetnya Orang Batak kalau Cari Jodoh

Titanio Hasangapan Giovanni Sibarani oleh Titanio Hasangapan Giovanni Sibarani
6 Maret 2020
A A
Betapa Ribetnya Orang Batak kalau Cari Jodoh

Betapa Ribetnya Orang Batak kalau Cari Jodoh

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kenalan sama cowok atau cewek yang cuakepnya nggak ketulungan. Begitu PDKT, ternyata sama-sama Batak dan marganya satu lingkaran. Hadeh.

Urusan mencari jodoh atau pasangan di Indonesia merupakan urusan yang kompleks, apalagi kalau kamu terlahir sebagai suku Batak kayak saya. Misalnya, ketemu cowok atau cewek yang cakep nih. Lalu kenalan, lantas jalan bareng, terus sudah nyaman, sudah mengutarakan perasaan, eh tahu-tahunya ito.

Yaaah, batal deh semua.

Bingung?

Oke, oke saya jelasin.

Buat yang belum tahu, kalau ada cowok atau cewek yang marganya sama dengan kita atau dalam rumpun marga yang sama, maka mereka disebut ito. Dan itu cilaka dua belas namanya.

Sampai-sampai kadang membatin, “Ah, andaikan marga saya bukan ini.” Namun apa boleh buat, marga Batak melekat dari lahir, sekolah, kuliah, drop out, nganggur, mati. Nempel terus. Dan identitas marga kayak gini lah yang tak jarang bikin orang Batak jadi kesulitan untuk menemukan jodoh—entah pacar atau calon suami maupun istri.

Kayak datang ke acara gereja misalnya, lantas kamu ketemu cowok atau cewek kesepian yang cuakepnya nggak ketulungan. Sudah kenalan, sudah ngopi-ngopi bareng, udah ke gereja bareng, udah mengutarakan perasaan, eh tahu-tahunya bere (ponakan) atau tulang (paman).

Buat yang belum tahu, bere itu kalau si marga ibunya si cewek sama dengan marga si cowok. Nah kalau kayak gitu, otomatis si cewek manggil tulang dan si cowok manggil bere. Dapat pacar kagak, dapat saudara iya. Hadeh.

Saking banyaknya ikatan saudara, saya pribadi suka segan sama cewek yang baru kenal dan tiba-tiba manggil saya dengan sebutan tulang gara-gara ibunya semarga dengan saya. Bahkan, saking banyak dan ruwetnya, saya punya ponakan yang seumuran dengan saya. Meski ya kadang seru juga sih, keponakan sama paman jadi teman main karena seumuran.

Itulah kenapa, misalnya kamu orang Batak, hal pertama yang baiknya dilakukan saat kenalan sama orang Batak yang jomblo, lebih baik langsung tanya dulu boru atau marganya apa. Lalu tanya amang (bapak) dan inang (ibu)-nya marga apa.

Kalau ternyata si cewek tidak semarga denganmu atau ibunya si cewek tidak sama marganya denganmu, waaah selamat. Tahap pertama sudah lulus, tinggal tahap berikutnya, ia mau nggak sama kamu? Kalo masih mau juga, waaah selamat lagi! Tahap kedua lolos!

Yah, kalau masih nggak mau dukun bertindak ikhlaskan saja.

Tahap berikutnya tinggal martandang ke rumah cewekmu itu dan berkenalan dengan keluarganya. Kalau keluarganya seneng dan menerima kehadiranmu, selamat tahap ketiga lolos!

Iklan

Dan tinggal gimana kamu berkomunikasi dengan natorasmu (baca: bapak dan ibumu).

Nah, ini nanti jadi pertaruhan terakhir. Soalnya, kalau ternyata si cewek semarga atau ibunya semarga denganmu, yaaa udah jangan ngarep banyak-banyak. Dukun sejago apapun bertindak nggak bakal mempan.

Yang bisa dilakukan kemudian, ya mundur teratur secara perlahan tapi tetap jaga hubungan baik. Yaaah, kali aja siapa tahu si cewek yang tiba-tiba jadi saudara itu bisa comblangin ke temen ceweknya yang sama cantiknya. Atau bisa jadi rekan kerja, rekan bisnis, atau teman plus saudara “baru” yang baik.

Paling istimewa kalau ketemu pariban apalagi kalau ia kebetulan lagi jomblo.

Buat yang nggak tahu pariban, pariban itu adalah cewek yang marganya sama atau dalam satu lingkaran marga dengan marga ibu si cowok. Nah, jadi kalau sudah begini, biasanya yang ada malah diharapkan berpacaran, bahkan kalau perlu sampai menikah.

Oleh karena itu, kenalan sama orang cakep yang semula biasa-biasa aja akan jadi sedikit beda kalau kamu tahu, orang cakep itu ternyata adalah pariban–mu. Panggilannya pun berubah dari yang tadinya anjeng, coek, atau woy (karena saking akrabnya) tiba-tiba jadi manggil “iban”. Yah, meski ya nggak semua orang Batak manggil pariban-nya dengan sebutan “iban” juga sih.

Lantas gimana kalau mau mempersunting marga Batak?

Wah, harus siap siap dengan sinamot.

Nah, sinamot itu sejenis mahar yang dibayarkan kepada pihak keluarga perempuan. Beberapa orang bilang sih sinamot ditentukan berdasarkan tingkat pendidikan, tingkat karier, atau kemapanan keluarga si perempuan. Meski kebanyakan sih jumlah sinamot ditentukan berdasarkan kesepakatan antara dua keluarga.

Tapi itu baru sinamot. Belum dengan catering, sewa jas, prewedding, sewa pemusik, pawang hujan, buzzer untuk sebar undangan, dan berbagai prosesi adat lainnya. Sudah kerja lembur bagai quda pun pasti sulit, apalagi kalo gaji UMR.

Gimana kalo kamu sebagai orang batak udah di umur 30 ke atas dan belum juga punya pacar?

Wah, itu tambah pusing lagi.

Apalagi kalo orang tua tanya, “Didia haletmu anakku/boruku? Baen jo ibana tu jabu.” (Di mana pacarmu? Bawa lah dia ke rumah).

Tambah pusing lagi kalau di acara nikahan kalau ada yang nanya, “Andigan do ho menyusul?” (kapan kau menyusul?)

Padahal, yang nanya juga tahu, mencari pacar orang Batak itu nggak gampang juga sulit. Itulah kenapa mencari pacar di luar Batak merupakan salah satu solusi. Masalah itu akan jadi sulit kalau orang tua kukuh minta harus sesama dengan Batak dan—plus—harus seiman.

Akhirnya yang terjadi, bukannya nambah daftar calon jodoh untuk membangun rumah tangga, yang ada malah jadi menambah jumlah anggota keluarga. Hadeh, gini amat ya jadi orang Batak kayak saya gini, acara cari jodoh malah kebanting mendadak jadi acara Tali Kasih.

BACA JUGA Rasanya Jadi Batak-Jawa yang Kena Stereotipe Etnis atau tulisan rubrik ESAI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2020 oleh

Tags: batakjodohNikahorang batakpacar
Titanio Hasangapan Giovanni Sibarani

Titanio Hasangapan Giovanni Sibarani

Sekarang tinggal di Jogja. Kuliah di Atma Jaya.

Artikel Terkait

Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Cerita Mahasiswa Jatim Rela Melepas UGM Demi Masuk Jurusan Kependidikan di UNY, Menyesal Kemudian karena Dapat UKT Selangit dan Lingkungan Kuliah Toksik.mojok.co
Kampus

Cerita Mahasiswa UM Malang Nyaris Gagal Nikah Gara-gara Wisuda Mundur Hampir Setahun, Ada yang Rugi Jutaan Rupiah

29 Februari 2024
Orang-orang yang Ngasih ‘Jatah’ Mantan Sebelum Nikah, Ingin Tuntaskan Rasa yang Tertinggal MOJOK.CO
Ragam

Orang-orang yang Ngasih “Jatah Mantan” Sebelum Nikah, Demi Kepuasan dan Tuntaskan Rasa yang Tertinggal

19 Februari 2024
mahasiswa UMY S3 kuliah sambil resepsi nikah.MOJOK.CO
Kampus

Perjuangan Mahasiswa S3 UMY Tetap Kuliah Online Saat Resepsi Nikah, Awalnya Datang ke Jogja Modal “Dengkul”

20 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.