Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Yang Tidak Kita Sadari Soal Titik Api di Malam 1 Januari

Taufikson Abakian Julakian oleh Taufikson Abakian Julakian
2 Januari 2020
A A
Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Masa Itu

Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Masa Itu

Share on FacebookShare on Twitter

Ada 202.020.202 (dua ratus juta dua puluh ribu dua ratus dua) titik api yang terdeteksi di seantero Nusantara di malam 1 Januari. Mendekati jumlah angka penduduk Indonesia. Yaitu, 264 juta sekian, sekian. Bagi yang tak percaya, boleh cari data sendiri.

Titik api itu berasal dari tempat pembakaran aneka hewan yang tak dilindungi. Yang biasa dikonsumsi. Terbanyak berjenis satwa air. Seperti udang, kepiting, ikan toman, jelawatan, dan nila setitik harapan.

Dari golongan unggas terbanyak diwakili ayam dan bebek. Dalam hal ini ada kisah nyata, ayam kampung yang diternakkan di desa berakhir hayatnya di kota. Karena di sanalah pemasaran terbesarnya. Sehingga terhindar dari mati dalam keadaan ndesa.

Jenis lainnya, ayam broiler. Ayam pedaging hasil rekayasa genetika kerjaan orang kota itu justru lebih banyak dipotong di desa. Memang tidak semua. Ini berkenaan dengan harga dagingnya yang berkompromi dengan taraf ekonomi masyarakatnya. Lebih murah dari ayam kampung yang disembelih di kota.

Selain ayam dan bebek, bangsa unggas lainnya ialah burung merpati. Yaitu burung jinak yang selalu dikaitkan dengan soal nyanyi dan janji. Coba selidiki, berapa banyak lagu-lagu yang menyebut-nyebut merpati. Judulnya saja lebih dari lima jari.

Menyebut nyanyi dan janji, jadi ingat musisi Ahmad Dhani. Ia yang pernah berjanji dipotong anunya baru saja bebas dari penjara. Bukan karena janji yang diingkari, tapi karena ujarannya mengandung benci. Selain Dhani, Amien Rais juga pernah berjanji menempuh jarak Jogjakarta dan Solo dengan berjalan kaki. Tentu boleh sambil bernyanyi. Kalau memang tidak diingkari.

Om Dhani dan Mbah Amin mengucap janji sama-sama akibat dari upaya menggilas Jokowi. Jokowi selalu tak terbendung dan menang berkali-kali. Janji mereka berdua sepertinya tak akan terlunasi. Kalau memang punya, keduanya pasti menuai malu. Sebab media sosial saat ini sangat terampil dan kreatif membully. Pendukung mereka boleh saja balas membully bahwa Jokowi tak menepati semua janji. Namun tentu mereka harus lebih dulu menunaikannya.

Oh ya! Soal berjanji, Ruhut Sitompul dan La Nyalla Mattalitti meng-Indonesia juga. Ruhut janji potong telinga. Sedangkan La Nyalla berjanji potong kepala. Seram ya!

Baca Juga:

Menyesal Kuliah Jurusan Pendidikan, Tiga Tahun Mengajar di Sekolah Nggak Kuat, Sekolah Menjadi Ladang Bisnis Berkedok Agama

Korupsi dan Krisis Integritas Adalah Luka Lama Banten yang Belum Pulih

Dari semua tokoh politik yang berjanji di atas berbeda dengan merpati. Mereka manusia yang tergolong mampu membuang-buang uang dengan membakar kembang api terbang. Mungkin sambil menyantap hidangan merpati panggang. Sedangkan merpati hanyalah burung yang malam tadi jadi tumbal kebahagian. Dibakar dan jadi santapan.

Yang sering kita dengar, merpati tak pernah ingkar janji. Walaupun jinaknya merpati lebih menjengkelkan jomblo yang belum punya tambatan hati.

Malam 1 Januari tadi sepertinya tak ada yang membakar burung garuda. Mengingat status burung itu antara ada dan tiada. Kalaupun ada, tentu sudah masuk katagori satwa langka. Lagipula Garuda Indonesia sedang gundah gulana. Tak pakai api pun, kepakan sayapnya menebarkan hawa panas yang mampu menghangatkan jagat raya Indonesia. Jajaran direksi Garuda sedang menerima hukuman bully media sosial. Belum tau juga, apakah nantinya akan berakhir dengan hukuman bui bagi yang terkena sial.

Titik api itu juga berasal dari ledakan mercon korek yang diledakan anak-anak ingusan. Dari golongan keluarga pinggiran yang akrab dengan susahnya meningkatkan taraf kehidupan. Saya hanya tega menyebut pinggiran sebagai kata ganti kemiskinan. Walaupun dalam hal memenuhi kebutuhan gas rumah tangga, hampir tak ada bedanya antara miskin dan kaya. Tidak sedikit orang kaya yang tak malu memakai gas elpiji jatah orang miskin yang disubsidi.

Titik api itu juga berasal dari kembang api yang terbang tinggi. Yang dibakar orang-orang yang kelebihan uang. Sebagian kita menganggap wajar kalau mereka berfoya-foya. Karena yang dibakar adalah buah usaha mereka. Dari usaha-usaha swasta biasa, sampai usaha-usaha syar’i yang diridhai. Termasuk juga dari usaha-usaha korupsi yang hampir jadi keharusan kita untuk bertoleransi. Memaklumi. Minta dibagi. Dan ikut menikmati. Ada juga sedikit yang diperoleh dari usaha penjarahan bank. Semisalnya Kiancury. Baca: kalian curi.

Titik api itu dihitung sejak sore sampai lebih kurang sepuluh menit lewat tengah malam. Sumber asap yang merata itu tak membuat pemerintah resah seperti berapa tahun belakangan. Saat masyarakat juga resah karena tak lagi bebas membakar lahan. Dan was-wasnya manajer perusahaan perkebunan. Takut menanggung beban kesalahan akibat musibah kebakaran hutan.

Selain karena musim hujan yang jitu menghalau jerebu, titik api itu dibuat oleh hampir seluruh warga dunia. Tak ada negara yang mengirim nota protes soal kualitas udara. Layaknya budaya korupsi yang hampir disepakati untuk ditoleransi, pemerintah juga memaklumi. Hanya sekali setahun, biarlah rakyatnya berpura-pura bahagia.

Pura-pura bahagia?

Ya! Karena apa mereka lakukan adalah sebuah upaya mencari kebahagian. Itu artinya bahagia itu tak ada. Paling tidak, kurang kadarnya. Makanya harus disempurnakan setahun sekali.

Begitulah! Banyak orang yang mencari jiwa yang sraya. Yang dalam Bahasa Sansekerta artinya: jiwa yang indah. Kenyataannya, saat ini Jiwasraya juga sedang gundah. Resah gelisah. Tak indah. Seperti halnya Garuda Indonesia.

BACA JUGA Nggak Usah Bikin Resolusi Tahun Baru Kalau Isinya Masih Sama dengan Tahun Lalu atau tulisan Taufikson Abakian Julakian lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2020 oleh

Tags: janji politisikembang apiKorupsimalam tahun baru
Taufikson Abakian Julakian

Taufikson Abakian Julakian

Mantan foto model yang terzalimi

ArtikelTerkait

bupati kudus

Sesungguhnya, Bupati Kudus Adalah Lagu Usang yang Telah Menjadi Primadona Para Pejabat Kita

1 Agustus 2019
Nyalahin Vendor Gara-gara Konsumsi Pelantikan KPPS yang Nggak Layak Memang Gampang, Bukan Begitu, KPU?

Nyalahin Vendor Gara-gara Konsumsi Pelantikan KPPS yang Nggak Layak Memang Gampang, Bukan Begitu, KPU?

29 Januari 2024
Bakar-bakaran Daging Bukan Budaya Kita, Budaya Kita Adalah Makan Jagung Bakar di Malam Tahun Baru

Bakar-bakaran Daging Bukan Budaya Kita, Budaya Kita Adalah Makan Jagung Bakar di Malam Tahun Baru

31 Desember 2023
Nasib Pasar Cinde Palembang, Pusat Perdagangan Selama Puluhan Tahun yang Berakhir Mengenaskan Mojok.co

Nasib Pasar Cinde Palembang, Pusat Perdagangan Selama Puluhan Tahun yang Berakhir Mengenaskan

26 Maret 2024
film pendek tilik film unbaedah korupsi siti fauziah ozie pemeran bu tejo tilik festival film terinal mojok.co

Eksekusi Hukuman untuk Koruptor Versi Film Unbaedah

29 Agustus 2020
politik dinasti banten tubagus chaeri wardana wawan badak bercula satu korupsi peta banten mojok

Alasan Mengapa Politik Dinasti Banten Begitu Digemari Warganya

30 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak Mojok.co

3 Ciri Penjual Nasi Goreng Merah Surabaya yang Sudah Pasti Enak

21 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.