Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Yang Mashook dan Ramashook dari Penjelasan Denny Siregar Soal Kartu Pra-Kerja

Aliurridha oleh Aliurridha
24 April 2020
A A
kartu pra-kerja

Yang Mashook dan Ramashook dari Penjelasan Denny Siregar Soal Kartu Pra-Kerja

Share on FacebookShare on Twitter

Denny Siregar dua kali menuliskan topik Kartu Pra-Kerja pada fanpage Facebook miliknya. Tujuannya sih untuk menjelaskan kepada khalayak yang menurutnya masih banyak gagal paham, bukan hanya untuk memuji-muji program Pak Jokowi. Dari beberapa penjelasan yang muncul sebagian dapat dinalar alias mashook namun sebagaian lagi di luar nalar alias ramashook.

Ada beberapa penjelasan yang mashook dari tulisan Denny Siregar tentang kartu Pra-Kerja. Salah satunya ketika ia menjelaskan bahwa “duit 5,6 triliun yang dikeluarkan itu tidak masuk ke perusahaan stafsus sebagai salah satu platform pelatihan digital.” Yang dimaksud perusahaan milik stafsus milenial itu Ruang Guru, Adamas Belva Devara.

Penjelasan ini mashook karena ini memang benar adanya. Ruang Guru bukanlah satu-satunya platform digital yang bekerja sama, ada delapan platform digital yang terlibat dari pelatihan maupun penyedia akses-akses yang digunakan sepanjang pelatihan. Ada Tokopedia, Ruang Guru, Maubelajarapa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijar Mahir, dan Sisnaker dan para peserta yang memilih sendiri akan kemana.

Soal siapa yang paling dapat banyak untung, semua tergantung peserta yang nantinya akan memilih skill pelatihan apa yang paling menarik minat mereka. Provider yang menyediakan pelatihan skill itu yang kemudian akan mendapat keuntungan. Kalo ini sih jadinya terganting kemampuan marketing dari para provider.

Selanjutnya Denny menjelaskan kalau “Pemerintah menganggarkan 20 triliun untuk 5,6 juta peserta pelatihan tenaga kerja. Nah, masing-masing peserta dapat uang 3,55 juta. Dari 3,55 juta itu, 1 juta harus digunakan pelatihan. Sisanya 2,55 juta itu adalah biaya hidup yang perbulannya 600 ribu/peserta selama 4 bulan. Sisanya 150 ribu diberikan setelah menjawab survei.”

Penjelasan ini juga masih mashook, cuma yang luput dari penjelasannya adalah bahwa yang diberikan bukan uang tunai tapi saldo non tunai pada platform (Gopay, OVO, dll).

Btw jangan harap satu juta buat pelatihan itu bisa digunakan untuk buat beli gorengan. Saldo non tunai itu hanya bisa digunakan ke delapan platform yang menyediakan pelatihan onlen.

Soal bagaimana jika kita nanti ternyata peserta kecanduan ikut pelatihan onlen yang biayanya muahaalll pakai buaangget padahal ya isinya sama saja dengan YouTube gratisan atau misal kita punya minat belajar yang sangat tinggi sampai-sampai pengin ikut semua pelatihannya, kalau saldo sejuta buat beli pelatihan habis, ya mau nggak mau harus pakai dana pribadi kalau mau lanjut ckck. Semua ini tidak dijelaskan oleh Denny sama sekali.

Baca Juga:

Derita Lulusan Cumlaude S1 Informatika, Berharap Lulus Bisa Jadi Top Hacker Malah Nyasar Bekerja Menjadi Buzzer

Google Maps: Aplikasi Rusak yang Makin Rusak Gara-gara Ulah Penggunanya yang Tolol

Oh iya syarat dapat dana intensif ini adalah harus ikut pelatihan dan jika peserta tidak ikut pelatihan biaya hidup bulanan tidak akan cair. Selain itu nama peserta bisa dicoret untuk pelatihan Pra-Kerja tahun depannya.

“Kartu Pra-Kerja ini awalnya didesain bekerjasama dengan banyak mitra offline seperti balai latihan kerja dan lainnya. Namun karena wabah corona menyerang, sistemnya kemudian diubah menjadi pelatihan online dengan konsep berlatih di rumah.”

“Karena yang siap online sampai saat ini hanya ada delapan mitra yang telah disebutkan di atas maka cuma itu yang bekerja sama. Nanti kalau ada mitra yang siap lagi ditambah, yang penting kartu Pra-Kerja ini jalan dulu karena banyak orang butuh uang.”

Hmm hmm hmm. Ya mashook sih apa yang dia bilang, tapi yang jadi pertanyaan, kenapa terkesan sangat terburu-buru? Ini jawaban blio, “arena situasi sulit sekarang, banyak orang butuh bantuan keuangan. Ingat ya, di konsep kartu Pra-Kerja itu, setiap peserta pelatihan dapat 600ribu/peserta setiap bulannya selama empat bulan. Ini seperti bantuan untuk bertahan hidup di situasi sulit ini.”

Bentar-bentar. Jadi kartu Pra-Kerja ini tuh buat melatih skill atau buat uang bertahan hidup sih?

Kalau buat bertahan hidup, harusnya ya nggak usah repot-repot bikin skema pelatihan kerja, langsung saja dikasih bantuan langsung tunai (BLT). Kalau bentuknya BLT kan lebih tepat sasaran karena memang dibutuhkan sama masyarakat kelompok rentan, udah gitu, kemungkinan ada penumpang gelap (baca: orang minta proyekan) juga bisa diminimalisir. Kalau gitu kan sudah jelas lebih baik. Ya nggak?

Saat ini roda ekonomi sedang macet karena pandemi. Banyak warga negara yang dirumahkan bukan karena mereka tidak punya skill yang bisa dilatih dengan program-program yang disediakan provider namun semata-mata karena ekonominya saja sekarang mandeg. Seandainya duit untuk pelatihan semuanya dibagikan juga untuk yang terdampak ekonomi akibat pandemi, saya pikir ini malah akan jauh lebih tepat sasaran.

Ngasih uang buat konsumsi masyarakat bukan hanya bisa menyelamatkan mereka dari kelaparan, tapi juga bisa menggerakan sedikit ekonomi karena akan lebih banyak orang yang melakukan konsumsi. Artinya, keselamatan dapat, ekonomi juga bisa sedikit didongkrak.

Lagian kok ya rasanya kartu Pra-Kerja ini bias kelas ya? Kemungkinan besar yang bisa akses pasti masyarakat kelas menengah soalnya orang miskin biasanya nggak punya keleluasaan soal kuota, bahkan ada juga yang nggak mengerti cara mengakses konten yang online-online seperti itu.

Terkahir, argumen yang ramashook dari Denny adalah ketika ia menjelaskan bahwa yang diuntungkan dari program ini bukanlah perusahaan mitra namun para tutornya.

“Perusahaan mitra tadi hanya sebagai mediator saja, mempertemukan para pelatih dengan orang yg akan dilatih. Seperti Ruangguru. Aplikasi itu mempertemukan guru dan murid. Bukan aplikasi itu yang pegang duit. Jadi sebenarnya yang diuntungkan bukan perusahaan mitranya, tetapi para pengajar. Ada guru, ada wiraswatawan, ada montir dll. Mereka inilah yang jadi pengajar dan mendapat insentif dari apa yang mereka ajarkan.”

Penjelasan ini terkesan mashook tapi ya sebenarnya ramashook soalnya, emangnya ada orang mendirikan perusahaan untuk mengabdi demi negeri meski harus merugi?

Ya ora to Den. Mikir!!!

BACA JUGA 3 Kelebihan Program Kartu Pra-Kerja yang Tidak Pernah Kamu Pikirkan Sebelumnya dan tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 April 2020 oleh

Tags: buzzerDenny siregarkartu pra kerja
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Akui Saja Kalian Kecanduan Judi Slot, Pake Ngaku Hobi Segala

Buzzer Capres VS Buzzer Judi Slot: Mana yang Lebih Menyebalkan?

30 Mei 2023
Modal Cuitan Dapat Cuan Jadi Buzzer Twitter Terminal mojok

Jadi Buzzer Twitter: Modal Cuitan Dapat Cuan

12 Februari 2021
Jika Nussa dan Rara Lahir dari Keluarga NU atau Muhammadiyah terminal mojok.co

Jika Nussa dan Rara Lahir dari Keluarga NU atau Muhammadiyah

16 Januari 2021
Living in a Bubble: Ketika Media Sosial Digunakan Penguasa untuk Membungkam Demokrasi

Living in a Bubble: Ketika Media Sosial Digunakan Penguasa untuk Membungkam Demokrasi

18 Desember 2019
Pengalaman Jadi Buzzer Produk di Twitter dan Memahami Polanya terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Buzzer Produk Sukses di Twitter

4 November 2020
film the hater netflix resensi sinopsis review cara kerja buzzer mojok.co

Melihat Cara Buzzer Polandia Bekerja

27 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

30 Januari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.