Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Jika Nussa dan Rara Lahir dari Keluarga NU atau Muhammadiyah

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
16 Januari 2021
A A
Jika Nussa dan Rara Lahir dari Keluarga NU atau Muhammadiyah terminal mojok.co

Jika Nussa dan Rara Lahir dari Keluarga NU atau Muhammadiyah terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Denny Siregar memang selalu memberikan pikiran-pikiran yang segar. Sudah nggak bisa diganggu-gugat dan sudah pasti malang melintang dalam dunia media sosial. Kalau suatu isu nggak ia tanggapi, berarti isu tersebut nggak akan besar. Sama seperti api, biarlah kita melihat buzzer bekerja. Serial Nussa dan Rara juga demikian.

Entah itu Islam spaneng atau terlalu kikuk, Nussa dan Rara mungkin memang lahir dalam keluarga yang kebetulan Islam-nya baku dan menggunakan atribut layaknya “gurun pasir” seperti apa yang dikatakan buzzer kawakan yang licin itu. Mulai dari peci sampai gamis, lengkap menempel di tubuh Nussa dan ini yang jadi permasalahan.

ADVERTISEMENT

Jelas hal ini membuat Denny Siregar sang manusia unggul pemegang teguh multikulturalisme, muntab. “Lha wong Islam Indonesia itu nggak gitu-gitu amat, coba sarungan, pakai peci Sukarno, dan baju koko biasa,” mungkin itu yang berkecamuk di kepala Denny.

Melihat sebuah film, tentu kita bisa meneropong latar belakang apa yang hendak diangkat oleh pembuatnya. Entah itu dalam lingkungan religius, begajulan, ateis, sampai pemuja dinamo pun bisa. Dan ndilalah Nussa dan Rara ini memang diangkat dari latar belakang Islam yang “spaneng”, Mas Denny.

Kalau nggak puas, saya bisa membantu imajinasi Mas Denny. Andai kata Nussa lahir dalam keluarga Muhammadiyah atau NU, bagaimana ya kira-kira atribut dan pemikiran yang melekat pada diri Nussa? Pasti bakalan gayeng, ya? Begini hasil yang saya diskusikan dengan Mohammad Ibnu Haq di suatu malam yang penuh tawa.

Perbedaan mendasar NU dan Muhammadiyah itu aslinya banyak, namun lebih banyak lagi persamaannya. Perbedaan NU dan Muhammadiyah paling jelas itu dalam peletakan redaksional dan kitab-kitab mereka dalam ber-fiqih. Itu sebabnya bisa tercipta nuansa gayeng tersendiri misal Nussa lahir dari latar belakang NU atau Muhammadiyah.

Awas saja nanti kalau Mas Denny protes lagi, kenapa mesti Muhammadiyah dan NU? Kenapa nggak yang lain? Lha pripun nggih, sejatinya saya mau kasih banyak contoh. Salah duanya Nussa dan Rara lahir dari keluarga penyintas tabir PKI 65′ atau lahir dari keluarga agnostik. Tapi, nggak jadi, nanti malah makin diamuk Mas Denny kan repot.

Hesss ribet! Keburu diprotes lagi, kita mulai yok.

Baca Juga:

Derita Lulusan Cumlaude S1 Informatika, Berharap Lulus Bisa Jadi Top Hacker Malah Nyasar Bekerja Menjadi Buzzer

Google Maps: Aplikasi Rusak yang Makin Rusak Gara-gara Ulah Penggunanya yang Tolol

Pertama, ketika Nussadan Rara lahir di keluarga NU, jelas di teras rumahnya akan ada lemari buku berjejeran dengan rapi dan mbois. Foto-foto Kyai kawakan akan terpampang di sana-sini. Tajuk utama adalah buku milik Gus Dur, Tuhan Tidak Perlu Dibela. Hal ini menjaga Keluarga Nussa dan Rara dari tawassuth. Nggak melulu takut terjebak dalam Islam yang ekstrimis, melainkan berguna menjaga pikiran Nussa sekeluarga atas sudut pandang yang beragam.

Ketika Nussa tetak atau sunat, sudah pasti akan digelar acara kenduren yang mengundang seluruh warga desa. Keluarga Nussa nggak menganggap kegiatan ini sebagai bid’ah karena banyak aspek baik seperti silaturahmi, sedekah, dan bertukar kebahagiaan.

Bayangin aja suasana keluarga yang penuh tawa dan syukur. Nussa di tengah-tengah rumah, makan nasi tumpeng yang diberi wadah daun pisang dijejer-jejer. Nussa senyam-senyum, pakai sarung Wadimor meling-meling, terus menyapa kerabatnya, “Monggo, Lik!” sambil menundukkan kepala.

Hidup keluarga Nussa bahagia, yang barangkali nggak pernah dirasakan oleh buzzer-buzzer politik di media sosial. Melihat segala hal secara plural dan membahas dengan menyenangkan. Begitu, Mas Denny Siregar. Oh iya, Mas Denny tahu kan definisi dari “bahagia” itu apa? Wah repot iki ncenan.

Ketika Nussa menginjak usia belasan, terpaksa series kartun ini akan tamat. Bukan karena ceritanya selesai, melainkan Nussa akan mengenyam pendidikan pesantren. Kartun Nussa dan Rara akan diganti dengan judul film The Santri. Sutradaranya bukan lagi Angga Dwimas Sasongko, tetapi Livi Zheng. Siap-siap dapat nominasi Oscar!

Kedua, ketika Nussa dan Rara lahir dalam keluarga Muhammadiyah. Sudah pasti di ruang tamu Nussa berjejeran buku-buku Buya Hamka. Nggak ada pajangan foto dan kesan desain rumah minimalis nan manis terlihat jelas digambarkan oleh ilustrator.

Nek nggak ya bisa juga lho animasi ini bersetting di bilangan Kotagede, Yogyakarta. Nussa sekolah di sana, pulangnya sore terus karena ikut kegiatan Hizbul Wathan atau HW yang merupakan kegiatan kepanduan Muhammadiyah. Nek nggak ya pulang sore karena ikut ekstrakurikuler tapak suci.

Waktu berangkat sekolah, bisa digambarkan betapa syahdunya Kotagede kala Nussa naik sepeda dan kejebak di Pasar Kotagede waktu pasaran Legi. Nggak lupa pula Nussa beli ayam warna-warni di pasaran tersebut untuk adiknya, Rara, yang sedang sekolah di SD Muhammadiyah Kleco.

Waktu di Masjid setelah salat Tarawih pun Nussa bakalan sering main slepet sarung. Hal ini dikarenakan sunnah dan dalil Muhammadiyah menggunakan 8 rakaat plus 3 witir. Pun nggak menunaikan manakib, tahlil, barzanji, hanya berzikir. Ada waktu untuk bermain dengan kawan-kawannya. Ada petasan yang harus disumet dengan khidmat.

Tapi, dari dua versi yang saya parodikan di atas, semisal mereka duduk bersama, pasti bakalan menyapa Nussa yang ada di televisi. Nussa yang pakai gamis dan peci. Nussa yang diejek Denny Siregar. Toh di alam selanjutnya nanti nggak bakal ditanya, “Kamu NU apa Muhammadiyah?” apalagi pertanyaan, “Kamu follow Denny Siregar, nggak?” Duh, nggatheli.

Coba tanya Nussa versi NU dengan pertanyaan, “Apakah boleh Islam merusak Pancasila?” sudah pasti Nussa bakalan menjawab, “Yo sing bener, tho. Jelas nggak boleh. Lha wong Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak janji (dikutip dari NU Online)”

Terus kalau selo seperti Denny Siregar, coba tanya kepada Nussa versi Muhammadiyah, jawabannya sudah tentu seperti ini, “Aku minjem dulu pendapatnya Nussa versi NU, lha di kepalaku saja sama persis seperti itu.”

Bagaimana, Mas Denny Siregar, lebih sreg sama versi yang mana? Asal jangan versi Anda ya, Mas. Kasihan ah, Nussa masih kecil. Mosok disuruh jadi buzzer.

Sumber gambar: YouTube Aldifer

BACA JUGA Alasan Serial Animasi Nussa Nggak Cocok untuk Tayangan Anak-anak di Televisi dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: buzzerNussa dan Rara
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

kartu pra-kerja

Yang Mashook dan Ramashook dari Penjelasan Denny Siregar Soal Kartu Pra-Kerja

24 April 2020
Dear Guru dan Dosen, Like Comment Tugas di Medsos Jangan Diajdikan Dasar Penilaian, dong! terminal mojok.co

Melihat Bagaimana Industri Buzzer Politik Bekerja

2 Oktober 2019
bintang emon

3 Alasan Kenapa Kita Butuh Bintang Emon

16 Juni 2020
buzzer pak jokowi

Sebenarnya Pak Jokowi Tidak Perlu Buzzer

3 Oktober 2019
buzzer

Buzzer: Niatnya Ngejebak Tapi Malah Kebongkar

1 Oktober 2019
Modal Cuitan Dapat Cuan Jadi Buzzer Twitter Terminal mojok

Jadi Buzzer Twitter: Modal Cuitan Dapat Cuan

12 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

26 Juni 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera Mojok.co

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera

28 Juni 2026
Dosa Indomie Ayam Bawang: Nggak Ada Bawang Goreng sebagai Pelengkap

Orang yang Bilang Indomie Warkop Lebih Enak Itu Aneh, Beneran

22 Juni 2026
Jalanan Surabaya yang "Liar" Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas Mojok

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

24 Juni 2026
Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah di Luar Kota Demi Kejar Gengsi Mojok.co

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

27 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.