Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Wafer Tango Sekarang Kalah Telak dari Nabati, padahal Dulu Jadi Rajanya Wafer

Thoha Abil Qasim oleh Thoha Abil Qasim
21 Oktober 2025
A A
Wafer Tango Sekarang Kalah Telak dari Nabati, padahal Dulu Jadi Rajanya Wafer

Wafer Tango Sekarang Kalah Telak dari Nabati, padahal Dulu Jadi Rajanya Wafer (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Popularitas wafer Tango mulai digeser Nabati…

Dulu jajanan wafer di rumah yang dianggap elite adalah Tango. Tango tulisannya, “tenggo” orang menyebutnya. Anak-anak era 2000-an pasti tahu betul perasaan senang ketika orang tuanya membeli Tango. Biasanya dulu ada dua rasa, cokelat dan susu vanila. Belakangan ini muncul varian rasa lainnya.

Bentuk wafernya ada dua macam, persegi panjang dan segi empat. Rasa wafer ini enak banget, manis, dan sulit dijeda kalau sudah kadung dimakan.

Akan tetapi sekarang kamu ke mana, Tango? Kok sulit dijangkau akhir-akhir ini. Di warung-warung kelontong yang ada di tempat tinggal saya, Sumenep, wafer Tango hampir sulit ditemukan. Sekalipun ada, sekarang ia hampir tak dilirik anak-anak. Anak-anak sekarang lebih memilih wafer Nabati yang menjadi kompetitor.

Wafer Nabati, diam-diam menggeser popularitas Tango

Awalnya, Nabati datang perlahan. Tapi entah kapan, sekarang dia mulai menguasai pasar. Di warung, minimarket, toko kelontong, wafer Nabati mulai menggantikan posisi Tango.

Kadang kalau melihat Tango sekarang, saya merasa kasihan. Soalnya wafer ini dulu begitu dibanggakan. Kayaknya kalau ada kaleng Tango di rumah kesannya “wah” gitu. Jajanan elite yang didambakan banyak orang.

Akan tetapi sekarang orang lebih memilih membeli Nabati. Selain rasanya yang bisa mengimbangi Tango, ya karena Nabati memiliki varian rasa lebih banyak dan unik. Selain itu harganya juga lebih terjangkau.

Coba saja lihat, wafer Nabati berani berinovasi dengan mengeluarkan varian rasa kekinian. Misalnya saja rasa pink lava, Korean goguma (ubi ungu), butter caramel, hingga cocopan. Mereka berani mengeluarkan rasa-rasa tersebut untuk mengikuti perkembangan zaman.

Baca Juga:

Siasat Hidup Hemat In This Economy, Beli Lauk di Luar dan Memasak Nasi Sendiri

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi 

Strategi yang berhasil memikat pembeli

Selain varian rasa yang ditawarkan lebih bervariasi, wafer Nabati juga mengungguli Tango dari segi kemasan. Saya melihat kemasan Tango dari dulu hingga sekarang gitu-gitu saja. Bungkusnya nggak di-upgrade, sehingga kesannya kaku dan kuno.

Sementara Nabati hadir dengan bungkus lebih kecil, lebih praktis, dan gampang dibagi. Desain bungkusnya juga tampak lebih fresh, lebih berwarna-warni sehingga lebih mewakili warna kehidupan saat ini.

ADVERTISEMENT

Tak hanya itu, wafer Nabati juga memainkan psikologis pembeli. Dengan mengeluarkan produk Rp2.000 yang bisa dibeli di warung kelontong, orang cenderung memilih wafer satu ini karena harganya lebih murah. Padahal kalau bicara harga, wafer Tango pun nggak jauh beda. Memang sedikit lebih mahal, tapi sebenarnya kualitasnya juga lebih baik. Lapisan krim wafernya lebih tebal dan padat.

Tapi mungkin justru karena ukuran Nabati yang pas, orang jadi tertarik. Soalnya ukurannya nggak terlalu besar dan tebal sampai bikin mahal, tapi juga nggak terlalu kecil. Dan membeli Nabati sudah bikin kita merasa cukup. Kalau beli wafer Tango biasanya nanggung, kadang malah sayang buat dimakan langsung.

Seperti yang saya sampaikan di atas, dari segi rasa Nabati tak membosankan. Selain punya banyak varian rasa, Nabati bisa beradaptasi dengan masa kini. Istilahnya, wafer Tango sibuk menjaga citra, sementara Nabati fokus menyesuaikan diri.

Bukan berarti wafer Tango nggak enak dan jelek ya. Tapi di era sekarang, kecepatan dan kepraktisan itu penting. Orang lebih menghargai sesuatu yang bisa dibawa ke mana-mana dan langsung habis dalam sekali duduk. Nabati berhasil menjawab itu. Wafer satu ini kecil, ringan, nggak bikin berantakan, dan bisa dibagi.

Perubahan wajar

Kalau dipikir-pikir, perubahan selera pembeli ini sebenarnya wajar. Dulu, wafer Tango hadir di masa di mana jajanan masih dianggap sesuatu yang istimewa. Anak-anak jajan wafer bukan tiap hari. Mereka makan wafer kalau ada acara keluarga atau Lebaran, atau kalau beruntung dapat dari oleh-oleh.

Sementara sekarang, jajan sudah jadi bagian dari keseharian. Orang ingin yang cepat, gampang di dapat, dan murah. Di situlah Nabati menang telak.

Saya sering melihat di warung-warung dekat rumah, anak-anak sekolah mampir sambil pegang uang dua ribuan. Hampir semuanya jajan wafer Nabati. Mereka nggak banyak mikir karena tertarik dengan bungkusnya yang cerah menarik dan rasanya sudah pasti enak. Wafer Tango yang ukurannya lebih besar dan harga sedikit mahal jadi jarang dipilih anak-anak.

Jangankan anak-anak, saya pun begitu. Saya lebih memilih mengambil Nabati di rak warung ketimbang wafer Tango. Alasannya karena tertarik dengan warna-warni bungkusnya yang berbagai rasa itu.

ADVERTISEMENT

Jadi menurut saya kenapa wafer Tango sekarang popularitasnya kalah dibanding Nabati, ya karena sudah tak menarik lagi. Kenapa nggak menarik? Karena format dan rasanya nggak berubah. Kalau rasanya gitu-gitu saja dan kemasannya nggak diperbarui, orang cenderung akan memilih yang baru.

Penulis: Thoha Abil Qasim
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kasta Wafer Indomaret dari yang Paling Recommended sampai Mending Skip Aja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2025 oleh

Tags: Jajanjajanannabatitangowaferwafer nabatiwafer tango
Thoha Abil Qasim

Thoha Abil Qasim

ArtikelTerkait

15 Jajanan Olahan Aci Asal Jawa Barat dari Cireng hingga Cipet, Semuanya Enak! Mojok.co

15 Jajanan Olahan Aci Asal Jawa Barat dari Cireng hingga Cipet, Semuanya Enak!

27 Juli 2024
5 Permen Indomaret yang Unik dan Bikin Penasaran Terminal Mojok

5 Permen Indomaret yang Unik dan Bikin Penasaran

30 Desember 2022
Ciri-ciri Gorengan Combro yang Sudah Pasti Enak Dimakan

Ciri-ciri Gorengan Combro yang Sudah Pasti Enak Dimakan

20 Januari 2026
6 Jajanan Indomaret yang Nggak Boleh Dikonsumsi Anak-Anak, Jangan Sampai Kecolongan! Mojok.co

6 Camilan Indomaret yang Tidak Dianjurkan untuk Anak-Anak, Orang tua Jangan Sampai Kecolongan!

18 Februari 2024
8 Jajanan Sampah Khas Bandung yang Rasanya Bikin Nagih Terminal Mojok

8 Jajanan Sampah Khas Bandung yang Rasanya Bikin Nagih

15 Mei 2022
Clorot, Makanan Khas Purworejo yang Mulai Langka Tergeser Makanan Modern

Clorot, Makanan Khas Purworejo yang Mulai Langka Tergeser Makanan Modern

3 Februari 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

20 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.