Ketika memutuskan untuk memakai Vario 125 itu bukan karena cinta pada pandangan pertama. Saat itu, saya lebih ke realistis aja. Salah satunya, motor Honda ini irit dan siap untuk saya ajak bekerja keras. Jadi, ya sudah, saya ambil.
Awal memakai, rasanya biasa saja. Tarikan halus, nggak terlalu galak, tapi juga nggak letoy. Buat ukuran motor harian, Vario 125 udah cukup banget.
BACA JUGA: Honda Vario 125 Generasi Keenam, Motor dengan Desain Gagah tapi Kualitasnya Ampas
Vario 125 mengubah cara saya berkendara
Awalnya, saya pikir semua motor matik itu sama aja. Tinggal gas, rem, dan jalan. Tapi, setelah cukup lama pakai Vario 125, saya baru sadar kalau motor Honda ini pelan-pelan ngubah cara saya berkendara. Saya jadi lebih kalem.
Bukan karena saya tiba-tiba bijak. Namun, alasannya karena karakter motornya memang “ngajak” santai. Tarikannya yang halus itu bikin saya jarang spontan ngegas dalam. Tanpa sadar, gaya berkendara saya jadi lebih rapi. Lebih jarang zig-zag, lebih sering jaga ritme. Ini hal kecil, tapi efeknya terasa.
Motor Honda yang nyaman, tapi….
Satu hal yang langsung saya akui, Vario 125 itu motor yang nyaman. Joknya empuk, posisi duduk santai, nggak bikin pegal walaupun saya memakainya agak lama. Suspensinya juga cukup bersahabat di jalan yang nggak terlalu bagus. Buat saya yang sering lewat jalan tambalan, ini nilai plus.
Tapi ya namanya juga motor, nggak ada yang sempurna. Kadang saya ngerasa shock depan motor Honda ini kurang mantap kalau kena lubang yang agak dalam. Rasanya kayak ada hentakan kecil yang bikin saya refleks ngerem. Nggak parah, tapi cukup buat bikin waspada.
Tarikan halus, tapi jangan ngarep ngebut
Kalau ngomongin performa, saya harus jujur. Vario 125 enak buat santai. Namun, jangan berharap sensasi ngebut yang bikin deg-degan. Tarikannya halus, stabil, tapi nggak agresif.
Di jalan datar sih masih oke. Tapi, pas ketemu tanjakan atau bawa beban agak berat, baru terasa kalau tenaganya biasa aja. Saya pernah ngerasain harus sedikit lebih sabar pas nanjak, apalagi kalau lagi buru-buru. Di situ kadang muncul rasa “Yah, segini doang ya”.
Fitur dan perawatan Vario 125
Fitur yang ada sebenarnya cukup. Panel digital, bagasi lumayan luas, dan ada beberapa teknologi yang membantu. Buat kebutuhan harian, semua terpenuhi oleh motor Honda ini.
Tapi ya itu, rasanya standar aja. Semua bekerja sebagaimana mestinya, tapi nggak lebih. Kadang saya ngerasa fitur Vario 125 itu kayak sekadar cukup, bukan yang benar-benar memanjakan.
Soal perawatan, saya akui Vario 125 ini cukup bersahabat. Bengkel banyak dan mudah mencari suku cadang. Biaya servisnya pun masih masuk akal. Ini salah satu alasan kenapa saya nggak terlalu pusing.
Tapi bukan berarti tanpa drama. Ada momen di mana saya ngerasa performa tiba-tiba turun. Entah karena CVT atau bagian lain yang mulai aus. Kalau sudah begitu, ya mau nggak mau harus keluar biaya lagi. Nggak sering sih, tapi cukup terasa kalau lagi nggak siap.
Bagasi Vario 125 yang bikin saya jadi orang yang lebih “siap”
Bagasi Vario 125 yang lumayan luas ternyata mengubah kebiasaan saya juga. Dulu, saya tipe orang yang bawa barang seperlunya. Sekarang, malah terbalik. Saya mulai menyimpan jas hujan, alat kecil, bahkan barang-barang yang “siapa tahu kepakai nanti”.
Motor Honda ini kayak ngajarin saya buat lebih siap. Tapi efek sampingnya, bagasi jadi cepat penuh tanpa sadar. Kadang saya buka jok, isinya sudah kayak tas darurat. Ada rasa aman, tapi juga ada rasa “Ini kebanyakan nggak sih.”
Efek psikologis ke pengendara lain
Hal lain yang baru saya rasakan setelah lama memakai Vario 125 adalah motor Honda ini punya efek psikologis ke orang lain di jalan. Karena tampilannya umum dan nggak mencolok, saya sering “dianggap biasa”. Di satu sisi, ini enak. Saya jarang jadi pusat perhatian.
Tapi di sisi lain, kadang pengendara lain jadi agak seenaknya. Kayak nyelip terlalu dekat atau motong jalur tanpa ragu. Mungkin karena motor ini nggak memberi kesan “galak”.
Lucunya, ini bikin saya jadi lebih defensif. Lebih waspada juga jadinya. Jadi, bukan cuma soal mesin atau fitur. Namun, ini juga soal bagaimana motor ini mempengaruhi interaksi saya di jalan.
BACA JUGA: 10 Tahun Pakai Honda Vario 125, Motor Lawas yang Siap Menerjang Kesialan dari Surabaya ke Magetan
Motor Honda yang nggak bikin bangga, tapi saya nggak sampai hati untuk ganti
Ini mungkin terdengar aneh, tapi jujur aja. Saya nggak pernah benar-benar bangga waktu naik Vario 125. Nggak ada rasa wah dari motor Honda ini.
Tapi di saat yang sama, saya juga nggak punya alasan kuat buat ganti. Karena setiap hari, motor ini tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Ada semacam hubungan yang datar tapi stabil. Nggak romantis, tapi juga nggak toksik. Dan justru itu yang bikin bertahan lama.
Pengalaman saya pakai Vario 125 itu bukan soal spesifikasi atau fitur yang bisa ditulis di brosur. Lebih ke hal-hal kecil yang baru terasa setelah saya memakainya. Motor ini bukan yang paling kencang, bukan pula paling keren.
Tapi, motor Honda ini punya cara sendiri buat masuk ke kehidupan saya. Kadang bikin bosan, kadang bikin nyaman. Ini bukan motor yang bikin heboh, tapi yang diam-diam membentuk kebiasaan saya setiap hari.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















