Jangan Gampang Kepincut Beli Motor Baru, Mending Uangnya buat Pindah Negara – Terminal Mojok

Jangan Gampang Kepincut Beli Motor Baru, Mending Uangnya buat Pindah Negara

Artikel

Avatar

Teman saya punya kebiasaan yang… begitu lah. Kebiasaan dia adalah membeli motor baru pas pabrikan launching model teranyar padahal motornya nggak tua-tua amat. Kebanyakan alasan yang saya dapatkan adalah mereka beli karena tampilannya keren dan bodinya bahenol. Hmm, jadi saya menyimpulkan bahwa mereka cuma gengsi. Perkara gengsi dan nafsu memang susah dibendung.

Keranjingan membeli model paling baru nggak selalu menandakan banyak duit, melainkan contoh orang nggak setia, bosenan, dan lebih ke kufur nikmat. Nggak cocok diajak berumah tangga. Kendaraan saja gonta-ganti terus, apalagi kalau sama kamu…

Saya sendiri merasa gelisah dan juga iri pastinya. Teman dan orang-orang suka membeli motor baru padahal kendaraan mereka tergolong nggak tua, nggak kayak punya saya yang setia sama Grand Pacul. Setiap ada launching motor anyar dari pabrikan, misalkan saja Si bongsor ADV dari produsen berlogo sayap. Mereka dengan gampangnya kepincut, entah karena duitnya luwih-luwih atau emang waton beli. Padahal uang yang nggak sedikit itu bisa dialokasikan untuk hal lain, pindah negara lain misalnya.

Padahal jika dirunut, sensasi mengendarai motor ya begitu saja, nggak ada kasus naik motor baru jadi berasa naik tank.

Memang sih, nggak bisa dimungkiri akan ada pride tersendiri ketika bisa mengendarai motor paling anyar sendiri di jalan, berasa paling wah, dan dianggap banyak duit. Walau nggak selamanya demikian.

Kalau mau jujur, urgensi beli motor baru itu belum tentu ada, kecuali perkara pamer dan gengsi. Itu pendapat saya, tapi saya punya alasan yang jelas. Selain saya emang nggak punya duit setia , ada alasan yang lebih masuk akal.

Kita perlu memahami bahwa motor lawas asal dirawat, rasanya nggak kalah enak sama yang baru. Bahkan, kalau perawatannya rutin dan mendalam, yang keluaran baru pun lewat.

Sedikit yang membedakan motor baru dan paling ketara yakni ada tampilannya. Untuk mesin dan performa? Hmm, saya rasa nggak beda jauh. Sebut saja Honda Beat keluaran terbaru dan Beat tahun 2013. Jika sedikit memahami soal mesin, jangan kaget kalau memang nggak mengalami banyak perubahan yang signifikan. Soal kencang dan akselerasi, jelas sama saja.

Memang motor keluaran terbaru sudah memakai teknologi canggih dan serba memudahkan pemakai, bikin nyaman deh. Namun, tak jarang bikin puyeng mekanik. Semua motor injeksi mempunyai kelistrikan yang lebih banyak dan njelimet dibanding yang masih karburator.

Semakin dimudahkan, pastinya ada harga bikin deg-degan. Pada motor yang sudah injeksi, kalau Anda tahu, ada banyak part dan sensor yang kalau rusak, ongkos menggantinya nggak murah, berbeda sama yang masih karburator. Seperti fuel pump, teman saya pernah geleng-geleng kepala karena part yang satu ini.

Teman saya ini punya kebiasaan yang bagus sekali, dengan santainya sering membiarkan tangki bensinnya sampai kosong. Padahal menurut kawan saya yang lain, yang kebetulan juga seorang mekanik di salah satu brand ternama pernah mengatakan pas sore sedang sendu-sendunya ketika kami ngopi bareng, bahwa tangki motor injeksi nggak boleh sering kehabisan bahan bakar. Sebab, bisa menyebabkan fuel pump lebih cepat rusak, tuturnya.

Satu set fuel pump punya harga yang cukup lumayan mengeruk dompet, berkisar Rp700 ribuan untuk yang originalnya, belum termasuk ongkos pasang, lanjutnya sambil menyeruput kopi dan memegang gethuk lindri. Kawan saya yang punya motor Piksen tadi sungguh malang, ternyata ia harus menyiapkan uang sebesar itu untuk memperbaiki injeksinya.

Selain itu, saya yang kurang kerjaan ini mencoba mendatangi dealer-dealer secara daring untuk sekedar mengetahui harga parts yang nempel di motor injeksi. Sebut saja injector yang harganya Rp200 ribuan. ECU harganya nggak kalah wah, yakni Rp900 ribuan. Berbeda dengan motor yang masih karburator, CDI sebagai jantung motor harganya relatif murah hanya Rp100 ribuan. Sangat jomplang jika dibandingkan harga parts motor yang masih menggunakan karburator.

Belum lagi masalah pajak, model anyar tentu mempunyai mahar yang lebih mahal yang menjadi tanggungan lebih mahal setiap tahunnya.

Kendaraan keluaran terbaru hanya menjual tampang, soal performa dan kebandelan ya sama saja. Tinggal bagaimana cara merawatnya. Jadi nggak usah lagi keranjingan beli motor baru, mending uangnya ditabung untuk persiapan pindah negara.

BACA JUGA Pasang Knalpot Racing Adalah Tanda Pemilik Motor Boros dan Tidak Setia dan tulisan Budi lainnya.

Baca Juga:  5 Cara Alternatif Menaruh Tutup Tangki Yamaha Nmax Ketika Sedang Mengisi BBM

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
3


Komentar

Comments are closed.