Selebgram dan Pengusaha Sebaiknya Saling Memahami – Terminal Mojok

Selebgram dan Pengusaha Sebaiknya Saling Memahami

Artikel

Seto Wicaksono

Saya tiba-tiba saja teringat, saat sekolah dan menjadi anggota organisasi kesiswaan, saya bersama teman-teman yang lain sangat rajin mencari sponsor saat ada acara sekolah yang terbilang cukup besar. Kami mendatangi beberapa produsen makanan, minuman, apa pun itu yang sekiranya bisa kami ajukan proposal, agar bisa mendapatkan dana yang dibutuhkan.

Kala itu, tentu saja kami datang membawa surat resmi dari sekolah dan diberi mandat oleh guru pembina. Niat baik, harus disampaikan sekaligus dilakukan dengan baik pula. Jika pada akhirnya diberi kucuran dana sesuai harapan oleh pihak yang kami ajukan proposal ya syukur, kalau nggak pun ya sudah, nggak apa-apa. Namanya juga pengajuan. Namanya juga usaha.

Ditolak itu biasa. Dan yang menerima pengajuan proposal pun, nggak perlu berburuk sangka. Sebab, hal seperti ini lumrah terjadi di dunia bisnis. Saling menjalin kerja sama untuk menghasilkan keuntungan yang paripurna. Simbiosis mutualisme.

Tentu saja, ingatan saya akan hal tersebut tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Utas di Twitter dengan tajuk “Selebgram Minta Makan” yang sempat viral hanya beberapa jam di Twitter Land menjadi pemicunya.

Singkat cerita, ada pewirausaha kuliner yang juga aktif di dunia Twitter, mengaku sudah beberapa kali mendapat pengajuan kerja sama/endorsement via DM (direct message) dari para selebgram. Dari yang sudah dikenal oleh publik, sampai yang nggak terkenal-terkenal amat. Tapi, akunnya sudah centang biru.

Hampir semua pengajuan kerja sama dari para selebgram ditolak dengan alasan, yang namanya jualan itu perlu modal. Dan modal itu didapat dari penjualan banyak menunya, bukan dari instastory. Ada selebgram yang pada akhirnya mentransfer sejumlah uang sesuai dengan menu yang ditawarkan karena pengajuan kerja sama ditolak. Meski, uang tersebut dikembalikan oleh si penjual. Entah apa alasan yang mendasari hal tersebut.

Padahal, selebgram tersebut sudah menuruti kemauannya, kalau mau pesan menu yang tersedia baiknya sebagaimana pembeli pada umumnya. Bukan malah mengajukan endorsement, dibayarnya pake promosi melalui instastory. Sudah gitu, porsi yang diminta nggak dikira-kira pula. Haduh. Bikin mangkel aja.

Beberapa bukti percakapan pun dilampirkan pada utas yang dibuat. Disusun rapi dengan poin yang sangat mudah dipahami. Bahkan, foto profil, nama selebgram, ada yang tidak disensor. Pikir saya, bahaya betul. Selebihnya, saya rasa jamaah Twitter sudah sangat pintar dalam membaca situasi. Nggak perlu dijelaskan lebih detil, apa yang menjadi kekhawatiran saya.

Saat ini, utas yang dimaksud sudah hilang dari peredaran lini masa Twitter. Usut punya usut, respon pada utas tersebut sudah sampai kepada tahap yang mengkhawatirkan.

Hm. Repot juga, ya. Malah jadi drama, padahal hal yang biasa terjadi di dunia wirausaha atau bisnis.

Begini. Dalam situasi seperti ini, baiknya saling memahami saja. Apalagi, beberapa selebgram pun mengajukan atau menawarkan dengan cara yang terbilang cukup sopan. Soal berapa porsi yang dipesan, jika memang tidak berkenan dengan total pesanan karena terlalu banyak, ya, disepakati bersama saja.

Termasuk jika menolak untuk menjalin kerja sama dalam bentuk endorsement. Sampaikan saja secara baik-baik. Barangkali, dengan adanya promosi sana-sini, pasaran bisa semakin luas dan harapannya omzet jadi meningkat drastis.

Lumayan, kan?

Bukan berarti saya tidak memahami posisi si penjual. Di tengah pandemi seperti sekarang ini, semua perlu beradaptasi, termasuk para pegiat usaha. Omzet menurun, biaya produksi dirasa sangat berat, alokasi untuk membayar karyawan pun ada kalanya perlu dipangkas. Pada titik yang paling menyebalkan, bahkan sampai harus ada efisiensi karyawan. Betul-betul situasi yang sulit.

Hanya saja, menurut saya, segala pengajuan kerja sama baiknya direspon dengan baik. Direspon bukan berarti diiyakan, lho. Bisa saja ditolak, tapi dengan cara yang sebaik-baiknya. Bukan malah spil di Twitter. Yakin, deh. Malah jadi rame dan menimbulkan prahara. Belum lagi dengan segala opini yang bermunculan. Pasti ada pro dan kontra.

Jangan apa-apa di-spill. Lha, wong hal baik kalau di-spill aja masih suka menimbulkan polemik, apalagi hal yang julid. Pasti akan jadi hal menyenangkan bagi para warga Twitterland yang haus akan pergosipan duniawi. Jangan, ya, sheyeng. Coba dipikirkan kembali konsekuensi seperti apa yang akan dihadapi jika melakukan suatu hal. Dan semoga, segala sesuatunya menjadi lebih baik tanpa sembarang spall-spill di Twitter.

 BACA JUGA Menertawakan Buzzer Pendukung UU Cipta Kerja Adalah Kemewahan Terakhir Kita Bersama dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Anya Geraldine Bukannya Norak, Justru Cerdas Melihat Peluang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
2


Komentar

Comments are closed.