Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Astrea Bulus 1991 yang Saya Beli Lima Juta, Dibilang Teman “Ora Jaman”, Ternyata Malah Jadi Motor Paling Masuk Akal Buat Saya

Muhammad Faishol oleh Muhammad Faishol
5 Mei 2026
A A
Menyesal Beli Motor Impian Honda Astrea Prima karena Akhirnya Cuma Nambah Beban Hidup Mojok.co astrea bulus

Menyesal Beli Motor Impian Honda Astrea Prima karena Akhirnya Cuma Nambah Beban Hidup (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya membeli Honda Astrea Bulus 1991 pada Mei 2025. Bukan karena nostalgia. Bukan pula karena ingin terlihat beda. Jujur, alasan saya lebih sederhana dan terkesan nggak keren-keren amat: waktu itu saya lagi butuh motor yang murah. Dan angka lima juta itu masih muat di dompet yang lagi tipis.

Buat yang belum tahu, Astrea Bulus itu motor bebek jadul yang di bagian belakangnya ada stoplamp berbentuk bulat, mirip cangkang bulus. Dari situ asal usul julukannya. Soal cerita Astrea versi Sabit yang stoplampnya lebih lancip dan dikasih “topi” pula, saya nggak akan bahas panjang lebar. Biarlah pembaca yang rajin googling sendiri.

Semenjak motor ini nongol di garasi, tetangga mulai manggut-manggut. Ada yang bertanya, “Lho, mobilé kok jaman Semar mendem tho?” Maksudnya mungkin bilang motor ini kuno banget. Saya cuma senyum. Ada juga yang bertanya, “Rego pira, Le?” Begitu saya sebut lima juta, dia cuma manggut-manggut lalu pergi. Nggak tau dia mikir apa. Saya biasanya cuma senyum.

Tapi saya nggak kapok. Karena motor yang sederhana ini justru sedikit demi sedikit mengajarkan soal logika berkendara yang lebih membumi.

Perkara starter elektrik yang bukan bawaan pabrik

Saya awalnya kaget waktu motor ini bisa distarter pakai tombol. Ternyata itu bukan dari pabrik, melainkan modifikasi dari pemilik sebelumnya. Mas Bejo, mekanik langganan, bilang, “Yang asli mah cuma pakai engkol, Le. Kayak gerinda.”

Saya bersyukur meski modifikasi itu sederhana. Setiap pagi, saya tinggal pencet, motor langsung hidup. Nggak ada lagi ritual ngengkol seperti orang menggerinda tembok sambil jaga-jaga kalau-kalau engkolnya muter balik dan ngejedot jempol. Modifikasi kecil ini jelas mengurangi kadar drama di pagi buta.

BACA JUGA: Menyesal Beli Motor Lawas Impian Honda Astrea Prima karena Akhirnya Cuma Menambah Beban Hidup

Ketika Astrea bulus nanjak ke Gunung Ijen

Pengalaman paling seru adalah waktu saya bawa motor ini ke jalur tanjakan Gunung Ijen, Banyuwangi. Jalannya meliuk, tanjakannya panjang dan terjal. Saya boncengan berdua sama istri.

Baca Juga:

Saya Menyesal Nggak Pakai Vario 125 dari Dulu karena Motor Honda Ini Nggak Bikin Bangga tapi Nyatanya Nggak tergantikan

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

Jujur, waktu saya lihat tanjakan pertama, saya sudah siap-siap menerka mesin bakal merangkak. Astrea bulus ini hanya bermodal mesin 4 tak, tanpa pendingin cairan, dan nggak punya ECU macam motor sekarang. Tapi ternyata dia tetap naik.

Mesinnya meraung, suaranya berat, putaran atas cepat habis. Tapi motor ini punya ritme sendiri. Selama gigi dipilih sabar dan gas tidak digeber emosi, ia tetap jalan. Tidak mati. Tidak overheat. Cuma berisik dan bergetar sampai kaki ikut nge-band. Dari sini saya sadar bahwa kadang memiliki kendaraan sederhana itu lebih menenangkan karena tuntutannya juga sederhana.

Astrea bulus jadi saksi anak saya bisa hafal surat

Suatu siang, anak saya yang masih TK berhasil menghafal surat pendek. Saya janji mau kasih hadiah. Saya tanya, “Mau diapain?” Dia jawab, “Mau main PS.”

Ya sudah. Saya ajak dia naik Astrea Bulus ini ke rental PS dekat rumah. Sepanjang jalan dia nempel di punggung saya, teriak-teriak senang. Saya jadi mikir, motor tua begini ternyata bisa bikin momen kecil kayak gini terasa istimewa.

Sampai di rental PS, kami main game balapan. Saya main serius, dia main mobil nabrak-nabrak tapi tetap merasa menang karena saya biarkan saja. Pulangnya? Ibunya ngamuk. Katanya, “Masa anak TK diajak main PS? Nanti jadi kebiasaan buruk.”

Saya diam. Biar dia marah. Yang penting anak saya senang. Beberapa hal memang layak dimarahi, tapi juga layak dikenang.

Soal BBM, motor ini nggak pernah ambisius. Pemakaian harian di kisaran 50-60 kilometer per liter. Angka yang menurut saya ramah buat kantong. Irit bukan karena teknologi canggih, tapi karena emang desainnya sederhana: mesin kecil, bobot ringan, dan nggak banyak fitur yang nyedot bensin.

Rem tromol dan keterbatasan yang justru mendidik

Yang perlu diingat, Astrea Bulus tetap pakai rem tromol depan-belakang. Ini jelas bukan untuk ngebut atau ngerem mendadak di jalan basah. Dulu, saya pernah hampir nyungsep pas ngerem agak mendadak. Sejak saat itu, saya belajar jaga jarak dan mengurangi kecepatan di tikungan.

Saya juga belajar bahwa di dunia ini, nggak semua hal harus maksimal. Kadang yang penting motor tetap hidup dan sampai tujuan. Buat saya, itu sudah lebih dari cukup. Terkait pajak, akhirnya saya bayar juga sekitar Rp90 ribu. Bukan karena saya tiba-tiba jadi warga negara yang taat, tapi karena malu juga kalau sampai ditilang, hehehe.

Jadi, motor ini nggak membuat hidup saya naik kelas

Astrea Bulus tidak membuat hidup saya naik kelas. Ia hanya membantu hidup tetap jalan. Pelan, sederhana, dan tanpa banyak drama. Di lampu merah, ketika motor-motor baru di samping terlihat kinclong, saya cuma diam. Kadang ada yang melirik sinis.

Tapi ya sudahlah. Saya sudah melewati masa-masa peduli omongan orang lain. Teman masih suka nyeletuk, “Bro, ganti dong. Ora jaman!” Saya jawab dulu, “Nanti kalau Astrea ini benar-benar keok.” Tapi sampai sekarang, dia belum keok.

Penulis: Muhammad Faishol
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Mei 2026 oleh

Tags: astrea bulusHonda Astrea Grandmotor hondamotor honda astrea
Muhammad Faishol

Muhammad Faishol

Lelaki yang hidup di antara aroma kafein dan deru mesin. Menikmati ketenangan dalam seseduh kopi, namun menemukan gairah dalam setiap presisi otomotif. Bekerja sebagai Dosen dan guru.

ArtikelTerkait

Honda Mega Pro, Motor yang yang Identik dengan Bapack-bapack motor honda megapro

Saat eSAF Jadi Buah Bibir, Motor Honda MegaPro Karbu Tetap di Hati

31 Agustus 2023
Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
Motor Bagus Sebanyak Itu di Pasaran dan Kalian Masih Memilih Beli Motor Honda BeAT? Ya Tuhan, Seleramu lho yamaha mio m3

Motor Bagus Sebanyak Itu di Pasaran dan Kalian Masih Memilih Beli Honda BeAT? Ya Tuhan, Seleramu lho

27 Maret 2024
Motor Bagus Sebanyak Itu di Pasaran dan Kalian Masih Memilih Beli Motor Honda BeAT? Ya Tuhan, Seleramu lho yamaha mio m3

Setia Bersama Honda Beat Biru 2013: Motor yang Dibeli Mertua dan Masih Nyaman Sampai Sekarang, Motor Lain Mana Bisa?

17 April 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Vario 125, Motor Honda yang Bikin Sesal, tapi Nggak Tergantikan (Wikimedia Commons)

Saya Menyesal Nggak Pakai Vario 125 dari Dulu karena Motor Honda Ini Nggak Bikin Bangga tapi Nyatanya Nggak tergantikan

1 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Kuliner di Pantai Blimbingsari, Banyuwangi: Tenang dan Nyaman, tapi Bikin Kapok buat Jajan

Pengalaman Kuliner di Pantai Blimbingsari Banyuwangi: Tenang dan Nyaman, tapi Bikin Kapok buat Jajan

4 Mei 2026
12 Istilah Hujan yang Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo” Mojok

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

30 April 2026
Bangkalan Madura Nggak Selalu Jelek, Pengalaman Cetak Ulang KTP di Mal Pelayanan Publik Membuktikan Sebaliknya Mojok.co

Urus KTP di Bangkalan Madura Ternyata Tidak Menjengkelkan seperti yang Dikira

5 Mei 2026
Bioskop Sukabumi Nggak Menarik, Warga Pilih Nonton di Bogor daripada di Kota Sendiri Mojok.co

Bioskop Sukabumi Nggak Menarik, Warga Pilih Nonton di Bogor daripada di Kota Sendiri

5 Mei 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026
Trans Jatim Koridor 7, Seburuk-buruknya Transportasi Publik. Masih Perlu Banyak Belajar dan Berbenah

Ternyata Bus Trans Jatim Nggak Ada Bedanya dengan Angkot, Ngebut dan Ugal-ugalan!

4 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong
  • Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis
  • Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian
  • Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?
  • Sarjana Jogja Tanpa Nurani: Fenomena Buang Anabul Setelah Wisuda
  • KRL Jakarta Memang Bikin Stres, tapi Kelakuan Penumpangnya Masih Lebih Manusiawi daripada KRL Jogja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.