Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Ustaz Kencing Berdiri, Jemaah Saling Memusuhi

Didim Dimyati oleh Didim Dimyati
14 Juli 2020
A A
Ustaz Kencing Berdiri, Jemaah Saling Memusuhi MOJOK.CO

Ustaz Kencing Berdiri, Jemaah Saling Memusuhi MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari yang lalu, tulisan saya berjudul “Memaafkan Ustaz yang Tidak Punya Kapasitas Keilmuan” lolos di Mojok. Tentu saja saya sangat bahagia. Makin bahagia ketika Achmad Bayu Setyawan merespons tulisan saya. Tulisan beliau berjudul “Ustaz yang Tidak Memiliki Kapasitas Keilmuan Harusnya Belajar, Bukan Asal Dakwah”.

Tentu saja, saya merasa tertantang untuk membalas kembali. Biar tercipta diskusi yang menyenangkan ini terus berlanjut.

Yah, meskipun sebenarnya, tulisan saya kali ini agak sedikit melenceng dari permasalahan kemarin. Saya coba untuk memberikan ilustrasi supaya subtansi tulisan awal saya tersampaikan.

***

Saya merasa tentram, melihat ustaz salafi dan ustaz ahli sunnah waljamaah mau duduk bareng. Efek lain juga terasa pada jemaahnya. Mereka tidak lagi pilih-pilih ustaz. Pengajian yang diisi Gus Muafik, misalnya, sekarang banyak tambahan jemaah baru, yang berasal dari jemaahnya Ustaz Basalamah, begitu juga sebaliknya, mereka saling mengisi.

Yang terlihat keren adalah dari golongan eks HTI dan NU. Mereka tidak lagi bertentangan satu sama lain. Khilafah yang diusung eks HTI tidak menjadi persoalan. Pancasila yang menjadi dasar negara, tidak coba diganti.

Komentar-komentar miring tentang kelompok yang membanggakan diri mulai sedikit. Mereka mulai saling menghormati satu sama lain. Jika berbeda pendapat, mereka tidak merasa paling benar. Mereka selalu ingat perkataan imam mazhab mereka.

Kata imam Abu Hanifah: “Inilah yang terbaik yang bisa aku temukan dari eksplorasi maha kerasku atas kitab Allah dan sunnah Nabi. Jika ada hasil temuan intelektual lain yang lebih baik, aku akan menghargainya.”

Baca Juga:

Kuliah di UNU Yogyakarta: Senang dengan Fasilitasnya tapi Sedih karena Nama Gedungnya

Lulusan S2 Kesulitan Cari Kerja di Jogja: Ditolak Puluhan Sekolah karena NU dan Tidak Punya KTA Muhammadiyah Sampai Nggak Tega Ngasih Gaji Kecil

Begitu juga Imam al-Syafi’i mengatakan: “Pendapatku benar tetapi mengandung kemungkinan salah. Pendapat orang lain keliru, tetapi mungkin benar.”

Mereka memegang teguh perkataan tersebut dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam persoalan berbeda pendapat, baik itu amalan ibadah atau pendapat lainnya. Sesekali, ketika duduk bareng di warung kopi, mereka sambil becanda dalam mengomentari suatu hal, contohnya soal rokok. NU mengambil pendapat merokok itu boleh dan Salafi mengharamkan.

“Eehh, rokok itu haram, berasal dari kencing syaitan.” kata jemaah salaf.

“Makannya, gue kenyot itu, agar syaitan mati, akibat banyak kencing.” Jamaah NU menimpali sambil tertawa.

“hahhahaa, koplok lu,” sahut jemaah salaf sambil ikut tertawa.

Mereka menanggapinya perbedaan dengan santai, bahkan candaan. Mereka menghargai satu sama lain. Mereka tidak lagi mendikotomikan jemaah. Mereka sadar, persaudaraan itu lebih penting.

Begitu juga terhadap yang berbeda Agama, entah itu Kristen, Budha, Hindu, dan bahkan ateis, mereka berdampingan, tidak saling mencerca satu sama lain. Ini merupakan keberhasilan dari para ustaz, pastur, dan pemimpin keagamaan, yang memberi contoh kepada jemaahnya.

Saya kira, sebentar lagi Indonesia khususnya, akan menjadi percontohan bahwa Islam itu membawa kedamaian. Yang disebutkan Nabi Muhammad itu memang benar, membawa rahmat bagi seluruh alam.

Saya pernah lihat sebuah rekaman video Abdul Somad, Adi Hidayat, AA Gym, Gus Miftah, Gus Muafik, Ustaz Basalamah, Ustaz Firanda, Ustaz Felix, Ustaz Tengku, Ustaz Bahtiar, dan lain-lain, berkumpul dalam sebuah ruangan.

Mereka merumuskan bagaimana umat ini ekonominya baik, pendidikan terjamin, kesehatan terlayani. Tentunya dengan bantuan pemerintah sebagai penanggung jawab.

Ternyata selama ini, pemimpin agama kita tidak hanya berdakwah di mimbar saja. Mereka mengambil peran lain, mereka memikirkan kehidupan umat. Saya semakin bangga saja, salam ta’djim. Sun tangan bulak-balik kepada semua ustaz.

Saya sendiri sekarang menyadari, pentingnya peran ulama kita untuk berdamai secara terbuka. Mereka akan menjadi panutan jemaahnya.

Saya mendengar kisah Ustaz Basalamah yang ikut mengaji di majelis Gus Miftah. Dia sangat andhap asor, dia datang tidak memperlihatkan sebagai ustaz, dia datang sebagai jemaah seperti yang lain. Tapi karena jemaah tahu kehadiran beliau, Gus Miftah pun dikasih tahu juga.

“Ustaz sini, bersama saya di mimbar.”

“Nggak Gus, di sini aja sama jemaah lain. Niat saya mau belajar juga.”

“Udah Ustaz sini. Ustaz lebih pantas duduk di mimbar, kami jemaah di sini ingin mendengarkan nasihat Ustaz, sedikit aja gapapa,” pinta Gus Miftah.

“Terima kasih Ustaz, tapi saya merasa belum pantas untuk duduk bareng di mimbar sama Ustaz, di sini aja, ya.”

Sungguh menakjubkan, seorang ustaz memberi contoh teladan yang baik. Tidak saling menyalahkan amalan lagi. Tidak saling menyesatkan atau membid’ahkan. Ternyata kebaikan itu memang menular ya. Saya membayangkan sambil mempertanyakan pada diri sendiri, mengapa ini tidak dari dulu seperti ini.

Mungkin tidak akan ada lagi perpecahan akibat dari politik, tidak akan ada lagi perkataan kotor “Cebong vs kampret” atau “kadrun vs togog”. Tidak akan ada pemanfaatan oleh elite politik menggunakan tameng agama.

***

“Pak, bangun, bangun, udah pagi. Cepet salat subuh, tinggal sepuluh menit pukul 06.00.” Istri saya tiba-tiba mengguncang tubuh saya. Eh, walah, ternyata sayang sedang mimpi saja.

Tidak lama kemudian, saya iseng buka Facebook. Ternyata masih tetap saja perdebatan bid’ah atau tidak, masih berlangsung. Jemaahnya ikut memanasi satu sama lain. Saya pun ikut komentar: “Lanjutkan, gelutnya! Hahahaha….”

Ini balasan tulisan saya. Semoga nyambung sama maksud tulisan awal saya. Salam ta’dzim kepada semua ustaz yang saya sebutkan namanya.

BACA JUGA Terlalu Banyak Ustaz, Bukannya Maslahat, Malah Membuat Ribet Umat dan tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Juli 2020 oleh

Tags: Gus MuafikHTInuUstazUstaz Basalamah
Didim Dimyati

Didim Dimyati

Guru Madrasah Aliyah Alwasilah Lilhasanah. Pemerhati kehidupan sosial dan keagamaan. Lagi belajar nyucruk jalan sufi modern yang hedon.

ArtikelTerkait

Surat untuk Gus Yahya Kesetaraan Gender Itu Nggak Cuma Ngurusin Kapasitas, Gus Terminal Mojok

Surat untuk Gus Yahya: Kesetaraan Gender Itu Nggak Cuma Ngurusin “Kapasitas”, Gus

22 Januari 2023
Di Luar Berdebat, di Kampung Saya, NU dan Muhammadiyah Berhubungan Erat Sampai ke Kamar terminal mojok.co

Di Kampung Saya, Menyebut Nama Muhammadiyah Saja Dikira Aliran Sesat

2 Juni 2020
dicintai dan mencintai

Pak Ustaz, Sebaiknya Kita Memilih Dicintai Apa Mencintai?

8 Mei 2019
Menjawab 11 Tuduhan Ustaz Unknown Tentang Tanda Orang Kecanduan Drama Korea

Menjawab 11 Tuduhan Ustaz Unknown Tentang Tanda Orang Kecanduan Drama Korea

19 November 2019
memaafkan ustaz MOJOK.CO

Ustaz yang Tidak Memiliki Kapasitas Keilmuan Harusnya Belajar, Bukan Asal Dakwah

9 Juli 2020
Emang Bener Ulama itu Pewaris Para Nabi MOJOK.CO

Emang Bener Ulama Itu Pewaris Para Nabi?

17 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

Menurut Keyakinan Saya, Tugas Presentasi Mahasiswa Adalah Metode Pembelajaran yang Efektif, dan Saya Serius

31 Januari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.