Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Pengalaman Menyenangkan Saya Menjadi Anak dari Bapak NU dan Ibu Muhammadiyah

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
6 Maret 2026
A A
Pengalaman Menyenangkan Saya Menjadi Anak dari Bapak NU dan Ibu Muhammadiyah

Pengalaman Menyenangkan Saya Menjadi Anak dari Bapak NU dan Ibu Muhammadiyah

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap kali saya cerita ke orang-orang bahwa ibu saya adalah warga Muhammadiyah tulen, sedangkan bapak saya adalah warga NU (Nahdlatul Ulama) garis keras, reaksi yang saya terima hampir selalu sama. Mereka kaget, “Kok bisa?” Kemudian diikuti pertanyaan, “Memangnya nggak pernah berantem?”

Dan saya selalu tertawa mendengar respons itu. Seolah-olah hidup di bawah satu atap dengan dua organisasi berbeda itu setara dengan duduk bersama fans bola beda klub yang tak pernah akur. Padahal, sejauh ingatan saya, di keluarga kami selalu baik-baik saja. Bahkan cukup menyenangkan.

ADVERTISEMENT

Bapak NU, ibu Muhammadiyah, dan saya riang gembira

Jika ditanya soal loyalitas, bapak saya ini memang cukup totalitas. Bahkan kalau ditanya apa agamanya, mungkin blio akan menjawab dengan tegas, NU. Iya begitu loyalnya blio ini. Dalam rekam jejaknya juga pernah menjadi guru di pesantren NU, dan pernah menjabat sebagai ketua Banser. Pun sejak masih muda blio sudah menjadi berkhidmat dengan penuh ketulusan.

Sementara itu, ibu saya tumbuh besar dalam ekosistem Muhammadiyah dari ujung ke ujung. Pendidikannya di bawah naungan Muhammadiyah, dan kalau tidak salah ingat, kakek saya dari pihak ibu pernah menjadi ketua ranting Muhammadiyah di daerahnya. Jadi ibu saya ini punya identitas Muhammadiyah pada darah dagingnya.

Dan dua orang dengan latar belakang seperti ini kemudian bertemu, menikah, membangun keluarga, dan membesarkan anak-anak, termasuk saya. Menarik, bukan?

BACA JUGA: Muhammadiyah Gagal Lucu, Tapi NU Juga Gagal Serius

Lebaran beda hari: ujian yang ternyata tidak semenakutkan itu

Kalau diingat, salah satu momen persimpangan dalam keluarga NU-Muhammadiyah itu sering terjadi ketika hari raya idul fitri atau lebaran jatuh di tanggal yang berbeda. Dan itu beberapa kali terjadi di keluarga saya.

Dan seingat saya perbedaan itu biasa saja. Kami sudah punya semacam kesepakatan tak tertulis di keluarga kami jika itu terjadi. Iya, Bapak dan ibu langsung mengambil jalan tengah. Yakni kami akan mengunjungi rumah kakek-nenek dari pihak ibu terlebih dahulu, baru kemudian esoknya kami lebaran di rumah yang mana mayoritas NU.

Baca Juga:

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

Bersekolah di SMA Muhammadiyah Adalah Salah Satu Keputusan Terbaik yang Pernah Saya Ambil Dalam Hidup Ini

Jadi, ketika Muhammadiyah lebaran duluan dan NU menyusul keesokan harinya, maka malam hari di lebaran pertama Muhammadiyah itu, kami sudah mampir ke rumah keluarga ibu terlebih dahulu. Secara teknis, kami tetap hadir di hari pertama lebaran mereka. Dan bagi bapak, ia meyakini karena malam takbiran, jadi memang sudah masuk 1 syawal. Sebuah win-win solution yang cukup cerdik menurut saya.

Satu sisi, Bapak yang NU bisa legowo karena suara takbir sudah berkumandang, yang artinya hari raya sudah sah menurut kalendernya. Kakek-nenek dari pihak ibu tetap dikunjungi di momen yang tepat. Semua senang, tidak ada yang pulang dengan muka masam.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Qunut, Tarawih, dan hal-hal yang tidak pernah jadi perdebatan

Selain soal hari raya, ada juga hal-hal lain yang secara teori bisa memicu friksi di keluarga lintas ormas seperti kami. Qunut saat salat Subuh, misalnya. Atau dzikir keras setelah salat. Atau jumlah rakaat tarawih, yang sampai hari ini pun masih jadi topik hangat di kolom komentar netizen.

Tapi jujur saja, itu semua tidak pernah jadi bahan debat di rumah kami. Iya, tidak ada sidang keluarga soal fikih yang berbeda. Tidak ada yang saling kirim dalil lewat WhatsApp, dan tidak ada yang meninggalkan rumah karena tidak terima pendapatnya dibantah.

Bapak dan ibu saya sepertinya sudah sepakat sejak awal bahwa hal-hal semacam itu tidak cukup penting untuk menghabiskan waktu, energi, dan pikiran. Apalagi sampai merusak keharmonisan keluarga.

Dan saya rasa itu adalah salah satu pelajaran paling berharga yang tidak pernah secara eksplisit diajarkan ke saya, tapi saya serap pelan-pelan dari cara mereka menjalani hidup bersama.

NU dan Muhammadiyah bukan agama

Satu hal yang ingin saya garis bawahi dari semua cerita ini adalah, NU dan Muhammadiyah itu bukan agama. Bukan pula aliran. Keduanya adalah organisasi masyarakat, atau ormas. Titik.

Karena itu, perbedaan tersebut bukanlah satu hal yang menggelisahkan. Pun saya kadang heran kenapa orang bisa begitu defensif soal perbedaan amaliyah antara dua organisasi yang sebetulnya sama-sama berpijak pada agama Islam.

Dan kalau bapak saya yang mantan ketua Banser dan ibu yang tumbuh besar di lingkungan Muhammadiyah saja bisa hidup satu atap dengan damai, rasanya tidak ada alasan kuat bagi orang lain untuk menjadikan perbedaan ini sebagai sumber permusuhan. Setidaknya itu yang saya pelajari dari keluarga saya. Dan saya cukup bangga karenanya.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Cerita dari Aktivis Muhammadiyah yang Menikahi Gadis NU

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2026 oleh

Tags: doa qunutMuhammadiyahnuperbedaan NU dan Muhammadiyah
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Gara-gara Ormas Agama, Saya Hampir Gagal Nikah

12 Februari 2021
Alasan Saya Tetap Mau Jadi Dosen Muhammadiyah walau Tahu Hidupnya Bakal Susah Mojok.co

Alasan Saya Tetap Mau Jadi Dosen Muhammadiyah walau Tahu Hidupnya Bakal Susah

1 Juli 2025
Persamaan Ormas Islam Indonesia dan Klub Liga Inggris MOJOK.CO

Persamaan Ormas Islam Indonesia dan Klub Liga Inggris, Liverpool Adalah NU dan Arsenal Itu HTI

25 Juli 2020
UAD universitas ahmad dahlan kuliah rasa pengalaman cara mendaftar kuliah di luar negeri mojok

UAD Cocok Untukmu yang Gagal Kuliah ke Luar Negeri

22 April 2020
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Dosen Muhammadiyah Lebih Layak Jadi Menantu Idaman Dibanding PNS karena Sudah Terjamin Tahan Banting dan Serba Bisa Mojok.co

Dosen Muhammadiyah Lebih Layak Jadi Menantu Idaman Dibanding PNS karena Sudah Terjamin Tahan Banting dan Serba Bisa

12 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah Mojok.co

4 Kuliner Populer Palembang yang Nggak Cocok untuk Semua Lidah

6 Juli 2026
Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang Mojok.co

Nasib Alumni Universitas Trunojoyo Madura: Balik ke Rumah Menanggung Ekspektasi Orang Sekampung, Merantau Malah Jadi Insecure

7 Juli 2026
9 Karakter Orang yang Nggak Cocok Kuliah di Politeknik Mojok.co

Mahasiswa Politeknik Nggak Pernah KKN, Bukan Berarti Nggak Berjiwa Sosial, Pengabdian Kami Cuma Beda Gaya Saja

5 Juli 2026
Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap Intel (Unsplash)

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

5 Juli 2026
Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius Mojok.co

Potensi Pantai Cibugel Indramayu jadi sia-sia karena nggak diurus secara serius

11 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.