Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

Rahul Diva Laksana Putra oleh Rahul Diva Laksana Putra
18 Maret 2026
A A
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! (PL09Puryono via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kemarin bangun tidur dengan niat sederhana, cuma mau cek notifikasi. Tidak ada ekspektasi aneh-aneh. Paling ya chat grup yang isinya keluhan tugas atau meme receh yang dikirim tengah malam. Tapi yang muncul justru beberapa reels Instagram. Jalanan Sekaran dan Banaran sekitar kampus UNNES terendam banjir.

Refleks pertama tentu saja kaget. Bukan karena ada airnya, tapi karena lokasinya. Gunungpati bukan tempat yang biasanya identik dengan banjir. Setidaknya, dulu begitu. Ada semacam keyakinan lama bahwa air di sini lebih sering “diterima” tanah, bukan dipamerkan di jalanan.

Yang bikin aneh, rasa kaget itu tidak bertahan lama. Ialu cepat berubah jadi semacam penerimaan yang tidak nyaman. Seolah-olah ini bukan kejadian pertama, hanya saja kali ini kebetulan lewat di layar.

Tidak bisa dimungkiri, kehadiran kampus membawa kehidupan. Jalanan jadi ramai, ekonomi bergerak, dan Gunungpati yang dulu cenderung sepi berubah jadi kawasan yang terus berdenyut hampir sepanjang hari.

UNNES, sebagai pusat aktivitas itu, tentu punya peran besar dalam perubahan tersebut. Dari tahun ke tahun, kampus ini berkembang. Gedung bertambah, fasilitas diperluas, dan jumlah mahasiswa terus meningkat. Masalahnya, pertumbuhan seperti ini tidak pernah berdiri sendiri.

Kos-kosan menjamur, kafe berdiri, alam menanggung semuanya sendiri

Di sekitar kampus UNNES, kos-kosan menjamur, warung makan bermunculan, kafe berdiri hampir di setiap sudut, dan lahan kosong pelan-pelan berubah fungsi. Yang dulunya tanah terbuka, kini tertutup bangunan. Yang dulunya menyerap air, kini memantulkan air.

Perubahan ini sering kita anggap sebagai tanda kemajuan. Dan memang, dari satu sisi, itu tidak salah. Tapi ada satu hal yang sering luput kita pikirkan, setiap pembangunan selalu membawa konsekuensi, termasuk pada kemampuan lingkungan untuk bertahan.

Ketika ruang terbuka semakin sempit dan permukaan tanah semakin keras, air kehilangan tempat untuk kembali. Ia tidak hilang, hanya berpindah, biasanya ke tempat yang tidak kita inginkan.Dan dari situ, cerita tentang genangan mulai terasa semakin akrab.

Baca Juga:

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

Label konservasi pada UNNES sering bekerja seperti penenang. Ia memberi kesan bahwa segala sesuatu sudah berada di jalur yang benar, bahkan ketika perubahan di sekitar berjalan ke arah yang sebaliknya.

UNNES memegang label itu dengan cukup percaya diri. Sebuah identitas yang, setidaknya di atas kertas, menjanjikan keberpihakan pada lingkungan. Tapi justru karena terdengar begitu ideal, label ini perlu dilihat lebih dekat.

BACA JUGA: 4 Hal Salah Kaprah tentang UNNES yang Bikin Geleng-geleng

Label konservasi pada UNNES bukan sekadar citra

Konservasi bukan sekadar soal citra, melainkan soal konsistensi. Ini seolah “prinsip” hidup dari keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak selalu terlihat, tapi dampaknya terasa dalam jangka panjang. Dalam bagaimana lahan dipertahankan, bagaimana air diberi ruang, dan bagaimana pembangunan dibatasi, bukan hanya diperluas.

Tanpa terasa, yang berubah bukan hanya lanskap, tapi juga cara kita memaknainya. Pohon yang berkurang dianggap wajar, ruang terbuka yang menyempit dilihat sebagai konsekuensi, dan genangan air pelan-pelan diterima sebagai bagian dari rutinitas. Yang menarik, keyakinan bahwa semuanya masih baik-baik saja justru tetap terjaga.

Barangkali karena yang dipertahankan bukan lagi kondisi lingkungannya, melainkan bayangan tentang bagaimana tempat itu seharusnya. Sebuah bayangan yang cukup kuat untuk menutupi kenyataan, setidaknya sampai air mulai naik dan sulit diabaikan. Yang paling cepat beradaptasi di Gunungpati akhir-akhir ini bukan mahasiswa baru UNNES, tapi air.

Awalnya banjir terasa aneh. Jalan tergenang dianggap kejadian luar biasa, cukup untuk bikin orang berhenti, foto, lalu kirim ke grup dengan caption panik. Tapi lama-lama, reaksinya berubah. Genangan jadi informasi biasa. “Oh, di situ banjir ya?” Lalu lanjut scroll. Seolah-olah ini bagian dari fitur baru, bukan masalah.

Padahal kalau dipikir-pikir, aneh juga. Kita kuliah di kampus konservasi, tapi tiap hujan malah dapat bonus pengalaman praktikum hidrologi langsung di jalan. Tidak perlu lab, cukup motor dan sedikit keberanian menerobos genangan. Yang lebih lucu, kita tetap menyebut semua ini sebagai perkembangan.

Melupakan hal terpenting

Mungkin karena kita terlalu sibuk menikmati yang bertambah—kafe baru, kos baru, gedung baru sampai lupa kalau yang berkurang itu justru hal yang paling penting, tapi paling tidak kelihatan. Kayak tanah yang dulu diam-diam menyerap air, drainase yang kian tertutup, sekarang sudah pensiun tanpa sempat pamit. Ketika air mulai mengambil alih peran itu, kita malah bingung, seolah-olah ini kejadian yang tiba-tiba.

Banjir di UNNES dan Gunungpati mungkin bukan sekadar soal hujan yang terlalu rajin turun. Lebih tepatnya, ini seperti hasil kerja kelompok yang kita kerjakan bareng-bareng, tapi pas nilainya jelek, semua pura-pura tidak ikut kontribusi.

Kita menyebutnya perkembangan, tapi jarang mau jujur bahwa ada yang dikorbankan. Kita bangga dengan pertumbuhan, tapi enggan menghitung apa yang hilang. Dan ketika air mulai mengisi ruang yang tersisa, kita masih dengan santai menyalahkan cuaca, seolah-olah dia satu-satunya yang aktif bekerja.

Padahal air itu sederhana. Dia tidak punya niat jahat, apalagi agenda tersembunyi. Dia cuma datang ke tempat yang kita sediakan atau lebih tepatnya, tempat yang tersisa. Jadi kalau sekarang Gunungpati makin sering kebanjiran, mungkin ini bukan soal air yang terlalu banyak.Tapi ruang yang kita sisakan memang sudah terlalu sedikit.

Penulis: Rahul Diva Laksana Putra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA UNNES Semarang: Ada Semarang dalam Namanya, tapi Ternyata Jauh dari Pusat Kota Semarang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2026 oleh

Tags: banjir di UNNESgunungpati semarangkampus UNNESSemarangUNNES Semarang
Rahul Diva Laksana Putra

Rahul Diva Laksana Putra

Penulis jalanan sekaligus mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Peduli dengan berbagai keluh kesah publik ataupun isu sosial-politik.

ArtikelTerkait

Semarang Menyimpan Surga Kecil Bernama Tengaran Kulon (Unsplash)

Tengaran Kulon, Dusun Kecil di Semarang Ini Adalah Tempat Terbaik untuk Menetap

27 Agustus 2023
Orang Salatiga vs Kabupaten Semarang Siapa yang Suka Bohong (Unsplash)

Salatiga Memang Dicap Numpang wisata Daerah Kabupaten Semarang, tapi Warga Kabupaten Semarang Lebih Parah karena Ngaku-ngaku dari Salatiga

31 Mei 2026
Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

3 Agustus 2026
Rekomendasi 4 Warung Makan Akhir Bulan buat Mahasiswa Undip Terminal Mojok perantau

Undip, Kampus yang Ramah untuk Perantau Newbie

31 Juli 2022
4 Wisata Semarang yang Bisa Bikin Kamu Kapok Jika Salah Momen Berkunjung

Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang, Kota Ini Super Keras!

7 Januari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung Mojok.co

Kota Mandiri Maja cuma menang branding, buat hidup sehari-hari mending pilih Rangkasbitung

3 Agustus 2026
Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

Penebang pohon keliling, profesi yang kerap dianggap sepele, dibayar murah, padahal taruhannya nyawa

2 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli sudah bikin senang? (Unsplash)

Kenapa muter-muter di Indomaret tanpa beli apa-apa sudah bikin senang?

3 Agustus 2026
Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.