Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Unpopular Opinion: Buka-bukaan Soal Gaji Itu Perlu untuk Meminimaliskan Ketimpangan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
14 Mei 2022
A A
Unpopular Opinion: Buka-bukaan Soal Gaji Itu Perlu untuk Meminimaliskan Ketimpangan

Unpopular Opinion: Buka-bukaan Soal Gaji Itu Perlu untuk Meminimaliskan Ketimpangan (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti yang sudah-sudah, pembahasan soal nominal gaji di Twitter selalu ramai. Mau berapa pun digitnya, percaya sama saya, akan selalu muncul teori-teori baru yang menghasilkan insight sekaligus bahan diskusi menarik. Ya, gimana ya. Dibilang aneh, tapi sudah biasa. Dibilang biasa, tapi masih saja menjadi sebuah hal tabu—khususnya di kalangan para pekerja.

Pembahasan soal gaji di ranah internet, entah kenapa, nyaris selalu menghasilkan quote template, “Gaji itu bersifat privat, publik nggak perlu tahu berapa gajimu atau gaji orang lain.” Intinya, bagi Sebagian orang, selain HRD atau payroll, gaji itu cukup pasangan dan/atau orang tua saja yang mengetahui.

Teranyar, premis serupa kembali menguap. Perkara awalnya adalah, seseorang posting di Twitter tentang kualifikasi calon pasangan hidup, yang disandingkan dengan profil singkat tentang blio. Termasuk mencantumkan nominal yang konon adalah pendapatannya. Yakni, Rp70-Rp100 juta per-bulan. Bermula dari hal tersebut, akhirnya muncul beberapa polemik. Dan satu kalimat ajaib yang perlu digarisbawahi adalah, “Makanya, punya gaji nggak usah diumbar-umbar!”

Ilustrasi gaji (Pixabay.com)

Lagi, lagi, dan lagi, buka-bukaan soal gaji menjadi hal tabu dan dipersoalkan oleh khalayak.

Kalaupun alasan buka-bukaan soal gaji termasuk dalam ranah privat, karena khawatir membikin gaduh di lingkungan perusahaan, tentu ada beberapa hal yang layak untuk dipertanyakan. Kita mulai dari hal sederhana seperti, apakah perusahaan sudah fair dan proporsional dalam memberikan gaji kepada karyawan senior dan junior? Tentu, hal ini tidak terlepas dari konteks karyawan yang bekerja di bidang sama dengan kompetensi yang kurang lebih sama.

Sebab, berkaca dari hal tersebut, jika gaji dan/atau benefit karyawan senior—yang sudah bertahun-tahun bekerja di suatu perusahaan—disamaratakan dengan karyawan baru, dengan deskripsi pekerjaan dan skill yang kurang lebih sama, wajar saja jika akhirnya timbul ketimpangan sosial sekaligus kegaduhan.

Dalam hal ini, jika sebagian perusahaan mengimbau kepada para karyawannya bahwa, gaji adalah salah satu privasi yang harus dijaga kerahasiaannya—dan bukan sesuatu yang layak diumbar—rasanya nggak berlebihan bila di kemudian hari, ada karyawan yang berpikir, sumber dari kegaduhan berasal dari perusahaan itu sendiri. Lah, gimana nggak. Ya masa, sih, karyawan lama-senior-yang sudah loyal bertahun-tahun lamanya, gaji dan/atau benefitnya sama rata dengan karyawan baru?

Gajian (Pixabay.com)

Bersyukur memang menjadi salah satu hal yang sakral dalam bekerja. Namun, konsep fair-proporsional, transparansi, atau buka-bukaan soal nominal yang didapat menjadi hal lain yang layak untuk didiskusikan lebih lanjut antara satu dengan lain, termasuk di internal perusahaan. Biar nggak larut dalam tabu yang nggak berkesudahan dan itu-itu saja. Toh, pada akhirnya, buka-bukaan atau transparansi akan berimbas juga kepada pelaporan sekaligus bayar pajak.

Baca Juga:

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

Orang-orang yang menjalani double job itu nggak serakah, mereka cuma mencoba bertahan ketika negara gagal menyejahterakan rakyatnya

Kalaupun khawatir di waktu mendatang muncul ketimpangan di perusahaan, karena perbedaan sekaligus buka-bukaan gaji antara satu dengan lain karyawan, setidaknya bisa dianalisis root cause-nya. Mulai dari hal mendasar terlebih dahulu seperti, perbedaan deskripsi pekerjaan yang dilakukan, kemampuan yang dimiliki, pencapaian, termasuk sudah berapa lama karyawan tersebut bekerja.

Apakah karyawan baru memang terbilang cukup fair mendapat nominal yang sama dengan karyawan lama? Atau, justru karyawan lama-loyal-dengan pencapaian tertentu yang harus lebih dulu ditingkatkan benefitnya—dihargai kinerjanya. Selain soal ketimpangan sosial karena efek laten dari buka-bukaan gaji, perlu disadari juga bahwa, hal tersebut menjadi persoalan klasik yang mesti diperhatikan oleh perusahaan.

Merasa nggak dapat perlakuan yang adil, terus resign (Shutterstock.com)

Ketimpangan maupun iri yang dialami oleh para karyawan, sebetulnya bisa menghasilkan sesuatu yang positif akan transparansi dan fair, jika perusahaan mampu mengelola soal buka-bukaan gaji antarkaryawan. Toh, sekuat apa pun perusahaan mengimbau sekaligus memberi larangan untuk hal tersebut, akan selalu ada karyawan yang diam-diam buka-bukaan perkara ini.

Harapannya, jika perusahaan dan karyawan saling terbuka dan transparan soal harapan atau penerimaan gaji, sehingga tercipta dialog untuk mencapai kesepakatan, akan menghasilkan bonding yang cukup kuat bagi keduanya. Perusahaan punya karyawan yang potensial. Di sisi lain, karyawan akan merasa dihargai—baik dari sisi loyalitas maupun kemampuannya.

Pada akhirnya, buka-bukaan soal gaji nggak semenyeramkan yang dipikirkan. Ya, gimana ya. Katanya kaum open minded dan pengin punya growth mindset yang mumpuni. Giliran buka-bukaan soal gaji, masa langsung heboh sendiri, sih?

Penulis: Seto Wicaksono
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Hal yang Membuat HRD Ketar-ketir Selama Ramadan saat Seleksi Karyawan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Mei 2022 oleh

Tags: gajiKaryawanperusahaanTransparansi
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Wanita Sudah Menikah Sulit Dapat Kerja: HRD Cari Karyawan Apa Calon Mantu?

Wanita Sudah Menikah Sulit Dapat Kerja: HRD Cari Karyawan Apa Calon Mantu?

9 September 2025
5 Keuntungan Bekerja di Perusahaan Jepang yang Ada di Indonesia Terminal Mojok

5 Keuntungan Bekerja di Perusahaan Jepang yang Ada di Indonesia

12 Oktober 2022
gaji

Biaya Kuliah Itu Mahal, Wajar dong Jika Fresh Graduate Menolak Tawaran Gaji 8 Juta

26 Juli 2019
Programmer Jangan Merasa Aman, Bentar Lagi Gaji Kalian Terjun Bebas

Programmer Jangan Merasa Aman, Bentar Lagi Gaji Kalian Terjun Bebas

15 November 2023
gaji dua digit staf admin Dear Fresh Graduate, Gaji Pas-pasan Belum Tentu Rezeki Juga Pas-pasan

Dear Fresh Graduate, Gaji Pas-pasan Belum Tentu Rezeki Juga Pas-pasan

2 Desember 2019
5 Benefit Karyawan yang Nggak Kalah Berharga dari Gaji Bulanan yang Disodorkan Perusahaan

5 Benefit Karyawan yang Nggak Kalah Berharga dari Gaji Bulanan yang Disodorkan Perusahaan

30 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

27 Juli 2026
Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa Mojok.co

Akal-akalan pemandu yang bikin liburan di Lembang Bandung berakhir kecewa

28 Juli 2026
Kebodohan pembeli soto ayam yang bikin saya muak dan jijik (Wikimedia Commons)

Akulah pelanggan soto ayam yang marah itu gara-gara konsumen nggak punya hati yang bikin muak, mual, dan jijik

26 Juli 2026
Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels) malang

Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg

25 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya Mojok.co

Jambooland Tulungagung, tempat wisata yang perlahan kehilangan pesonanya

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.