Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tujuan Magang Buat Transfer Ilmu, Bukan Bikinin Kopi, doang

Akbar Malik Adi Nugraha oleh Akbar Malik Adi Nugraha
28 Januari 2021
A A
Tujuan Magang Buat Transfer Ilmu, Bukan Bikinin Kopi, doang! Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mahasiswa, saya sudah berada di usia senja menjelang lulus. Di tingkat akhir menjelang lulus, saya diharuskan magang. Magang masuk ke dalam SKS yang harus segera dikontrak, agar jalan menuju lulus bisa mulus. Saya sih excited dengan mata kuliah magang, karena menurut saya magang punya tujuan membuat kita tahu budaya kerja profesional seperti apa. Dan ternyata, budaya kerja tidak selalu indah dan menyenangkan, terkadang menyimpan busuk yang sering kali ditutup-tutupi.

Jauh sebelum mengontrak mata kuliah magang akademik, saya sudah curi start magang. Pada saat liburan semester, saya berinisiatif magang di instansi pemerintah. Tujuan saya magang dalam rangka benar-benar belajar, bukan untuk menggugurkan kewajiban.

Mendapat kesempatan magang di instansi pemerintah membuat saya semangat. Saya membayangkan akan bisa berdiskusi dengan kepala instansinya, atau setidaknya kepala bidang tertentu, agar tahu sebenarnya bagaimana kebijakan atau pelayanan diputuskan dan diberikan.

Semangat yang membara ternyata tidak terjawab dengan baik. Memang benar, jangan menaruh ekspektasi terlalu tinggi, karena kalau jatuh akan membuat luka. Dan itulah yang terjadi kepada saya.

Magang kerja selama satu pekan, saya hanya disuruh menunggui surat yang masuk, kemudian mendaftar surat-surat tersebut di buku folio; buku yang biasa dipakai anak SMA IPS sebagai buku latihan akuntansi. Setelah menerima surat yang masuk, saya diminta untuk menaruh surat tersebut di meja kepala instansi untuk ditanda tangani. Ya, saya mengurusi kerja administrasi.

Satu pekan magang membuat saya gerah. Tidak betah. Saya putuskan untuk menghadap bagian personalia, dan berkata bahwa kalau selama tiga bulan ke depan magang saya hanya kerja seperti itu, saya minta berhenti. Akhirnya perkataan sekaligus permintaan saya diaminkan dalam satu anggukan. Tidak ada nego-nego. Deal untuk berhenti.

Pertanyaan yang masih mengganjal sampai sekarang adalah: apakah saya yang terlalu idealis sehingga kurang dapat memaknai proses magang tersebut, atau memang budaya kerja di sebagian instansi pemerintah memang begitu?

Setelah pengalaman “berkesan” itulah saya mulai pilih-pilih tempat ketika akan mengikuti magang kerja. Selain itu, mencoba riset lebih dalam, serta sering bertanya kepada teman dan senior tentang pengalaman dan peluang magang.

Baca Juga:

Pernah Benci Dosen yang Slow Respon Balas WhatsApp, Kini Saya Mengerti

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

Ada beberapa orang teman saya yang magang di instansi pemerintah dan bank. Ketika saya survei kepada mereka, apa saja yang mereka lakukan, mereka serempak menjawab: pekerjaan administratif yang sangat teknis. Mereka melakukan pencatatan, merekap data, mendaftar informasi, dan tentu fotocopy. Bahkan ada yang dengan gamblang menyatakan bahwa selama magang dia gabut, tidak terlalu banyak bergerak, bingung mau melakukan apa.

Mendengar cerita-cerita teman seperti itu hanya berakhir menjadi candaan yang ditertawakan bersama saja. Jadi, ketika bertanya langsung saja to the point, “Eh, gimana magang di XXX, gabut, ya?” Dan orang yang bersangkutan menjawab dengan senyum getir, mengiakan sambil harus menerima kenyataan bahwa esoknya ia masih harus magang.

Teman saya, ketika saya masih magang selama satu pekan itu, pernah berkelakar, “Gimana? Udah disuruh buat kopi berapa gelas?” Saya tertawa terbahak mendengar pertanyaannya sekaligus berpikir bahwa berarti ada yang tidak beres dengan dunia magang mahasiswa di beberapa tempat kerja.

Semoga para CEO, kepala instansi, direktur, juga kepala suku sempat membaca tulisan ini, atau paling tidak link tulisan ini bisa sampai kepada WA mereka, agar ada perhatian. Begini, Pak, Bu, kami mahasiswa yang magang itu sesungguhnya niat, kok, ketika mengikuti program magang. Kami punya ide-ide segar yang bisa ditukartambahkan dengan Bapak Ibu. Kami bukan mahasiswa yang justru senang ketika hanya diberi pekerjaan yang kurang menantang.

Magang kerja seharusnya menjadi pembelajaran value, bukan hanya perihal kerja taktis-teknis. Ada pengetahuan mendalam, pengalaman berarti, dan pandangan yang lebih luas selepas magang. Bukan hanya magang kerja yang begitu-begitu saja, kemudian di akhir semester dibuat laporan magang, dipresentasikan, lalu menguap begitu saja tanpa ada bekas value yang tersisa.

Persoalan ini mungkin mirip dengan KKN ya, yang terkadang hanya menjadi formalitas akademik belaka, tanpa tahu esensi dan nilai di baliknya. Hanya sebagai ajang pengguguran kewajiban akademik. Hanya demi kepentingan catatan hitam di atas putih, berlembar-lembar kertas menjadi dokumen laporan yang setelah itu dilupakan begitu saja.

Magang kerja, sebagaimana idealnya, harus bisa memiliki tujuan memberikan dampak pengembangan diri yang signifikan. Kasihan dong para mahasiswa yang sudah niat hati belajar, sedikit-sedikit mencoba berkarya, kemudian sampai di kantor hanya diam mematung. Kalau saya mengambil sudut pandang mahasiswa ya begitu, ibarat dijadikan seonggok daging yang tidak terlalu berguna.

Tapi, baiklah, saya tidak ingin hanya menyalahkan sistem. Barangkali banyak juga mahasiswa yang mageran saat magang, tidak eksplor dan inisiatif, sehingga pada saat magang pengalamannya tidak terlalu berwarna. Begini, wahai kawan-kawanku, bukannya sok tahu atau belagu, tapi mbok ya kalau lagi magang jangan cuma mau fotocopy berkas, tapi juga diskusi dan sharing dengan Bapak Ibu pegawai yang keren-keren itu. Mereka yang berjas rapi, pake pantofel, rambut klimis itu punya pikiran cemerlang yang bisa diajak tukar pendapat, kok.

Magang kan punya tujuan sebagai jembatan antara perguruan tinggi dengan lembaga atau perusahaan. Dengan kata lain, ruang bertemunya ilmu pengetahuan dengan kerja profesional. Walau para pekerja profesional itu dulunya juga kuliah, tetap saja, hari ini mereka tetap harus mendengarkan pendapat dari mahasiswa yang masih kuliah, karena keadaan dan zaman sudah berbeda. Pun sebaliknya, mahasiswa magang harus banyak mendengarkan nasihat dari para profesional itu, agar lebih paham dunia kerja. Kalau begitu kan enak, ada transfer value.

Besok, kalau diamanahkan jadi kepala perusahaan atau lembaga, baik saya atau Anda, semoga punya perhatian lebih mengurusi mahasiswa magang. Mengajak berdiskusi, memintai pendapat, hingga mendengarkan cerita dan masukan dari mereka.

BACA JUGA Anak Magang Perlu Dibayar Nggak, Sih? dan tulisan Akbar Malik Adi Nugraha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 Januari 2021 oleh

Tags: Anak MagangMahasiswa
Akbar Malik Adi Nugraha

Akbar Malik Adi Nugraha

Mahasiswa Universitas Diponegoro

ArtikelTerkait

Kata Siapa Ikutan Organisasi Kampus Banyak Negatifnya_ Nggak Juga ah, Sotoy! terminal mojok

Ikutan Banyak Organisasi Kampus Itu Negatif? Sotoy, ah!

4 Juli 2021
Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung” yang Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman Mojok.co

Beasiswa PPA Penyelamat Mahasiswa “Tanggung”: Terlalu Kaya untuk Bidikmisi, tapi Terlalu Miskin untuk Kuliah dengan Nyaman

12 Mei 2026

Tolong, Jangan Suuzan sama Mahasiswa yang Ngerjain Skripsi di Coffee Shop

1 Juni 2021
4 Pekerjaan Sampingan Paling Cuan di Jogja yang Wajib Mahasiswa Tahu

4 Pekerjaan Sampingan Paling Cuan di Jogja yang Wajib Mahasiswa Tahu

29 Agustus 2025
3 Kebiasaan di Kampus (yang katanya) Merdeka, tapi Membuat Mahasiswa Tidak Merdeka

3 Kebiasaan di Kampus (yang katanya) Merdeka, tapi Membuat Mahasiswa Tidak Merdeka

18 Agustus 2024
Soe Hok Gie dan Mohammad Roem saja Setuju dengan Perpeloncoan Ospek terminal mojok.co

Kemunculan Akun @polisimaba Menunjukkan Ospek Lebih Baik Ditiadakan

12 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026
Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mojok.co

Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

20 Mei 2026
Kos Putri Tempat Tinggal yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau, tapi Aslinya Bikin Malas Mojok.co

Kos Putri yang Terlihat Ideal untuk Perempuan Perantau Aslinya Bikin Malas

18 Mei 2026
Pantai Menganti Kebumen Jawa Tengah, Pantai Indah tapi Berbahaya (Wikimedia Commons)

Pantai Menganti Kebumen, Pantai Terindah di Jawa Tengah, tapi Perjalanan ke Sana Adalah Simulasi Jantungan yang Dibungkus Liburan

22 Mei 2026
Kegiatan Pramuka Memang Cuma Buang-buang Waktu, dan Justru Itulah Tujuannya

Kegiatan Pramuka Memang Cuma Buang-buang Waktu, dan Justru Itulah Tujuannya

21 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.