Ikutan Banyak Organisasi Kampus Itu Negatif? Sotoy, ah! – Terminal Mojok

Ikutan Banyak Organisasi Kampus Itu Negatif? Sotoy, ah!

Artikel

Ada yang bilang kalau ikut organisasi kebanyakan itu nggak baik, bahkan sampai ada tulisan soal 5 sisi negatif mengikuti banyak organisasi kampus yang ditulis oleh Mas Luthfi Lesmana. Ah, saya nggak sepakat dengan tulisan jenengan, Mas. Siapa bilang ikut organisasi banyak-banyak itu negatif? Nggak juga, ah.

Karena ketidaksepakatan ini, nggak apa-apa dong kalau saya balas tulisannya. Boleh, ya? Lagian, kan, Mas Luthfi ini (((kayaknya?))) menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Nah, oleh sebab itu saya menulis berdasarkan pengalaman pribadi juga. Selain nggak sepakat, saya juga mau mengoreksi sedikit tulisan Mas Luthfi soal organisasi ini. Mohon maaf loh, ndak maksud yang gimana-gimana. 

Pertama, ikut organisasi banyak-banyak itu bikin “bentrokan”? Saya kira bentrokan maksudnya adalah dalam batin, ealah soal waktu ternyata. Mas Luthfi bilang kalau masuk organisasi banyak-banyak itu bikin kelimpungan soal waktu dan nanti malah bentrok antara satu acara dengan acara lainnya. Nggak ah, nggak juga.

Kan ada yang namanya komunikasi, bisa bicara dan minta supaya waktunya nggak bentrok. Kalau kita orang yang cukup aktif di masing-masing organisasi kampus dan banyak kontribusi, pasti didengarkan, sih. Lagian, at least bisa dikasih maklum untuk sedikit telat jika benar-benar harus bentrok. Itu bisa diomongin dengan baik-baik, lho. Manajemen waktunya, kan, bisa diatur juga.

Kalau Mas Luthfi sendiri yang merasa begitu, wah barangkali jenengan memang kurang mahir dalam mengatur waktu dan komunikasi di organisasi. Barangkali loh ya, ini mah cuma dugaan saya. Kalau benar, ya, mohon maaf. Soalnya saya pernah bentrok waktu acara dan rasanya bisa handle keduanya. Keren, kan, saya?

Kedua, ikut banyak organisasi bikin nggak tahu apa yang kita cari? Lho, Mas Luthfi tahu kata empiris nggak? Justru orang-orang ikut banyak organisasi untuk observasi dan melihat langsung mana organisasinya yang cocok, apalagi mahasiswa baru. Wajar buat coba banyak-banyak. Dengan bukti empiris, justru membuat seseorang tahu apa yang diinginkan, dalam hal ini adalah organisasi.

Terus kalau misalnya dia cocok semuanya dan diambil semua? Ya nggak masalah, asalkan memang mampu dan lagi-lagi bisa mengatur waktunya. Seperti yang sudah saya katakan di atas. Bisa jadi dia memang multitalenta dan ikut semua organisasi karena memang bisa semuanya, ya nggak apa-apa, dong. Masa dilarang-larang? 

Ketiga, masuk banyak organisasi bikin nggak loyal. Nah, kalau ini saya sepakat dan nggak sepakat. Kalau konteksnya adalah organisasi eksternal mahasiswa, jelas harus pilih satu dan nggak boleh banyak. Apalagi anggaran dasar dalam kebanyakan organisasi eksternal mahasiswa melarang anggotanya untuk merangkap dengan organisasi sejenis. Kalau ini konteksnya, saya sepakat itu menyangkut loyalitas.

Tapi, kalau misalnya beda jenis organisasinya, bebas saja atuh. Misalnya ada orang aktif di organisasi eksternal mahasiswa, terus aktif di organisasi internal kampus, terus aktif juga di UKM dan organisasi primordial, itu mah nggak apa-apa. Jelas beda jenis organisasinya, beda juga tujuannya. Nggak masalah, justru malah bikin banyak keuntungan buat personal. Minimal itu jaringan! Kalau kayak gini, nggak bisa disangkutin sama loyalitas, donggg.

Keempat, ikut banyak organisasi banyak mengorbankan keinginan sendiri. Pengin nongkrong misalnya, tapi nggak bisa karena ada kewajiban organisasi. Hei, kan dibilangin manajemen waktunya atuh lah. Kalau memang bagus manajemen waktunya, ya nggak bakal masalah atuh. Lagian, siapa suruh nongkrong pas ada kegiatan organisasi? Orang mah nongkrong di luar waktu itu, malah nyalahin organisasi.

Ini mah muter-muter saja bahasanya, Mas Luthfi. Kalau memang nggak mampu buat ngatur waktu, ya bakal susah. Apalagi kalau komunikasi dengan organisasi nggak lancar, tambah susah lagi. Lagian, kalau memang nggak mampu ikut banyak organisasi atuh jangan ikut. Soal begini mah balik ke orangnya, bukan masalah organisasi. 

Kelima, kuliah keteteran mah salah sendiri. Organisasi lagi yang disalahin. Kalau ada orang yang keteteran kuliah mah dia sendiri yang gitu, karena malas saja. Saya sendiri kuliah juga nggak keteteran amat. Walaupun memang sampai semester tua, bukan karena organisasi asli. Karena diri sendiri. Teman saya yang aktif organisasi, ada yang lulus cepat dan ada yang lulus lama. Karena apa? Karena diri sendiri, organisasi mah nggak ngajarin begitu. 

Organisasi kampus malah pengin anggotanya tuh sadar akan akademik dan kewajiban dalam menyelesaikan pendidikannya. Kalau memang keteteran, itu berarti namanya nggak bisa atur waktu dan malas. Organisasi lagi yang disalahkan. Aduh, memang kayaknya ini mah balik lagi ke orangnya masing-masing. Bukan karena organisasi. Mau sedikit kek, mau banyak kek, kalau orangnya dari awal baik mah bakal baik. Kalau buruk, ya buruk. Gitu, Mas Luthfi. Jelas kali, ya?

BACA JUGA 5 Mitos Organisasi Mahasiswa, Tidak Seindah yang Kamu Kira dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Baca Juga:  Rindu Bus Kuning alias Bikun UI yang Sering Dianggap Bus Paling Nyaman
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.