Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK, tapi Masih Bingung Mau Jadi Apa

Mukhamad Bayu Kelana oleh Mukhamad Bayu Kelana
9 Maret 2026
A A
Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK (Unsplash)

Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak awal kuliah, saya termasuk mahasiswa yang cukup percaya bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) adalah salah satu kunci masa depan. Oleh karena itu, saya berusaha menjaga nilai sebaik mungkin dengan rajin masuk kelas, mencatat materi, dan mengerjakan tugas tepat waktu. 

Setiap melihat IPK di portal akademik naik sedikit saja, rasanya seperti mendapat validasi bahwa hidup saya masih berada di jalur yang benar. Yah, meskipun jalur itu kadang terasa seperti jalan berkabut yang belum jelas arahnya.

Masalahnya baru terasa ketika saya mulai mendekati semester akhir. Setelah sekian lama sibuk mengejar angka di transkrip nilai, saya justru mulai bertanya pada diri sendiri. Setelah ini sebenarnya saya mau jadi apa? 

Pertanyaan yang kelihatannya sederhana itu malah terasa lebih sulit ketimbang menjawab soal ujian esai lima halaman. Ironisnya, saya tidak sendirian. Banyak teman yang IPK-nya sama-sama aman, tapi kalau soal rencana setelah lulus, jawabannya kurang lebih sama: “Lihat nanti aja, yang penting lulus dulu cumlaude.”

Baca juga: Kuliah di Kampus Favorit, Belajar Setengah Mati demi IPK Tinggi tapi Mental Remuk karena Kampus Cuma Peduli Angka, Bukan Manusia

Mengejar IPK seolah itu tiket masa depan

Sejak menjadi mahasiswa, ada satu angka yang terasa sangat penting, yaitu IPK. Sejak lama, kita mendapat asupan kepercayaan bahwa IPK tinggi adalah tanda mahasiswa yang berhasil. 

Akhirnya, semua mahasiswa melakukan berbagai macam strategi demi menjaga angka itu tetap aman. Dari rajin mencatat di kelas, memilih dosen yang “ramah nilai”, sampai membentuk kelompok belajar yang sebenarnya lebih sering untuk saling berbagi jawaban tugas.

Saya pernah berada di fase itu. Setiap semester rasanya seperti kompetisi kecil dengan diri sendiri, jangan sampai nilai turun. Anehnya, semakin tinggi nilai IPK, muncul perasaan aneh yang saya sendiri sulit menjelaskannya. 

Baca Juga:

Dosen Muda Memang Asyik, tapi (Maaf) Saya Lebih Percaya Diajar Dosen Tua

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Saya berhasil memenangkan perlombaan angka di transkrip nilai. Tapi, saya belum tentu memenangkan perlombaan memahami hidup saya sendiri.

Ketika IPK tinggi tidak menjawab apa-apa

Masalahnya mulai terasa ketika memasuki semester akhir. Saat pembicaraan teman-teman mulai bergeser dari tugas kuliah menjadi rencana setelah lulus, saya mulai sadar bahwa IPK ternyata tidak selalu memberi jawaban.

Ada teman yang IPK-nya hampir sempurna, tapi masih bingung ingin bekerja di mana. Ada juga yang rajin kuliah bertahun-tahun, tapi ketika ada yang tanya soal cita-cita, dia justru terdiam lama.

Ironisnya, kita sering menghabiskan bertahun-tahun untuk mengejar angka di kertas, tapi jarang benar-benar diberi ruang untuk memikirkan satu hal sederhana. Kita sebenarnya ingin menjadi siapa?

Baca juga: Jangan Remehkan Mahasiswa Nasakom (Nasib Satu Koma): Mereka Menyelamatkan Saya dari Kehidupan Kampus yang Monoton

Belajar bahwa kuliah tidak hanya soal nilai

Semakin lama saya sadar bahwa kuliah seharusnya tidak hanya soal IPK. Nilai memang penting, tapi ia bukan satu-satunya hal yang menentukan arah hidup seseorang. 

Ada banyak hal lain yang justru lebih menentukan. Misalnya, pengalaman, keberanian mencoba, bahkan keberanian untuk mengakui bahwa kita belum tahu mau ke mana.

Mungkin karena itulah banyak mahasiswa yang akhirnya merasa kebingungan di semester akhir. Kita terlalu lama fokus mengejar angka, sampai lupa bahwa kuliah juga seharusnya menjadi tempat untuk mengenal diri sendiri.

Dan di tengah kebingungan itu, saya kadang merasa satu hal yang menenangkan. Mungkin benar bahwa Tuhan masih bersama mahasiswa yang sibuk mengejar IPK, meskipun mereka sendiri masih bingung akan menjadi apa setelah lulus nanti.

Penulis: Mukhamad Bayu Kelana

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Nasib Jadi Mahasiswa FBS UNY yang Lulus dengan Predikat IPK Terendah Sefakultas: Diketawain Dosen, Bikin Malu Orang Tua

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: cumlaudeIndeks Prestasi KumulatifipkKuliahlulus cepatlulus cumlaude
Mukhamad Bayu Kelana

Mukhamad Bayu Kelana

Mahasiswa Sarjana Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang.

ArtikelTerkait

Ibu Rumah Tangga dan Ojol juga Berhak untuk Kuliah, Universitas Terbuka Menerima Tanpa Batasan Apa pun! Mojok.co

Ibu Rumah Tangga dan Ojol juga Berhak untuk Kuliah, Universitas Terbuka Menerima Tanpa Batasan Apa pun!

29 Desember 2025
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
UT universitas terbuka mahasiswa cerita dinamika ipk jelek drop out syarat masuk gimana cara mendaftar mojok

Universitas Terbuka: Masuk Gampang, Keluar Susah, dan Udah School from Home dari Dulu

11 April 2020
Ribetnya Punya Dosen Terkenal, tapi Suka Bikin Statement Aneh di Medsos terminal mojok.co

Baju Korsa: Pilihan Fesyen Paling Fleksibel bagi Mahasiswa

22 Agustus 2021
Derita Menyandang Status Mahasiswa di Kampung, Disepelekan dan Dianggap Manja Mojok.co

Derita Menyandang Status Mahasiswa di Kampung, Disepelekan dan Dianggap Manja

20 Desember 2023
Outfit Mahasiswa FISIP UI Membuat Saya Sadar bahwa Kuliah Tidak Mesti Pakai Kemeja dan Celana Bahan

Kuliah di Mana pun Itu Sama Saja Adalah Omong Kosong yang Terus Dipertahankan

15 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya Terminal

4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya

9 Maret 2026
Menu Underrated Solaria: Porsi Banyak, Harga Terjangkau, dan Rasa Nggak Mengecewakan Mojok.co

Menu Underrated Solaria: Porsi Banyak, Harga Terjangkau, dan Rasa Nggak Mengecewakan

7 Maret 2026
Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

8 Maret 2026
Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

Yamaha Vega Force: Takhta Tertinggi Motor Entry Level yang Tak Boleh Dilewatkan

9 Maret 2026
Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan Mojok.co

Lontong Balap Makanan Khas Surabaya Paling Normal, Pendatang Pasti Doyan

8 Maret 2026
Personal Branding Itu Tidak Penting

Personal Branding Itu Tidak Penting

6 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati
  • Sebagai Warlok Jogja, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja
  • Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran
  • Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial
  • Mendambakan Menjadi Seperti Vidi Aldiano, Cara Hidup dan Pergi bikin “Iri” Banyak Orang
  • Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.