Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tradisi Nyethe: Cara Orang Tulungagung Membunuh Kebosanan

Ahmad Zulfiyan oleh Ahmad Zulfiyan
18 Juli 2020
A A
nyethe ampas kopi hitam mojok

nyethe ampas kopi hitam mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai daerah yang terkenal dengan julukan Seribu Warung Kopi, ngopi di Tulungagung memang menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat Kota Marmer itu. Pagi sampai pagi lagi, banyak orang menghabiskan waktu di warung kopi. Di sana, mereka tak sekadar ngopi. Banyak orang, tua maupun muda, melakukannya untuk ngobrol ngalor ngidul. Namun, ada juga yang hanya fokus ke layar gawai untuk bermain game sambil meracau, “mati ra kowe, su.”

Bagi banyak orang, ngopi tak lengkap tanpa ditemani rokok. Kopi dan rokok seolah menjadi dua entitas tak terpisahkan. Kolaborasi keduanya menghasilkan kenikmatan tak terperi. Sesekali nyeruput kopi, sesekali kebal-kebul. Namun, bagi orang Tulungagung, selain ngopi dan ngerokok, ada satu kegiatan wajib yang perlu dilakukan saat ngopi. Namanya nyethe atau ‘membuat cethe’.

Bagi sebagian orang, ampas kopi yang tersisa dalam gelas tak memiliki makna apa-apa. Anggapan ini tak berlaku di Tulungagung, Jawa Timur. Di sana, ampas kopi tidak dibuang begitu saja. Orang-orang memberdayakannya untuk nyethe. Nyethe merujuk pada kegiatan ‘melukis’ puntung rokok menggunakan ampas kopi yang halus. Biasanya, mereka menggambar di puntung rokok menggunakan sendok atau batang korek api.

Konon, tradisi ini bermula dari kebiasaan orang-orang di Tulungagung yang senang berkumpul dan ngobrol ngalor ngidul. Saat berkumpul itu, nyete dilakukan untuk menghilangkan bosan. Selain itu, tradisi ini dipercaya bisa mempererat tali persaudaraan masyarakat Tulungagung agar tetap guyub rukun.

Jika kamu ke warung kopi di Tulungagung, tradisi ini bisa kamu temui dengan mudah. Anak muda sampai orang tua sangat lihai mengoles ampas kopi pada puntung rokok. Rokok yang telah diolesi cethe dinilai punya cita rasa yang lebih enak dan gurih. Tak heran, hampir setiap pengunjung warung kopi di Tulungagung pernah melakukannya.

Bagi pencinta kopi dan rokok, tradisi nyethe memberi kenikmatan tersendiri. Saya pernah bertanya kepada teman saya tentang kebiasaannya. Menurutnya, nyethe bisa membantu dia ‘kabur’ dari masalah hidup yang sedang dialami. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat kreasi cethe di puntung rokok miliknya. Imbasnya, stres hilang seketika.

Namun, jangan salah sangka. Meski sekilas terlihat gampang, kegiatan ini nyatanya tak semudah yang terlihat. Saya pernah mencoba melumuri puntung rokok milik teman saya ampas kopi. Awalnya, saya hanya ingin membuat gambar batik. Setelah jadi, entah gambar macam apa yang saya buat. Tidak jelas.

Bagi saya, orang-orang yang nyethe adalah seniman. Hal ini membutuhkan keahlian khusus sehingga gambar yang dihasilkan pun terlihat artsy. Selain itu, nyethe juga perlu kesabaran ekstra. Jika tak sabaran seperti saya, rokok yang sudah digambari berakhir di tong sampah, bukan di mulut. Meski sebagian besar warga Tulungagung pernah ke warung kopi, tak semuanya lihai nyethe.

Baca Juga:

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

Pengalaman Mencoba Coffee Gold Indomaret: Enak, Murah, tapi Bingung karena Kasir Indomaret Merangkap Baristanya

Selain itu, nyethe adalah sebuah ‘kesenian’ yang universal. Orang-orang yang nyethe tak melulu harus doyan kopi atau merokok. Semua orang dapat melakukannya. Soal dihisap atau tidak setelah jadi, itu urusan lain.

Tidak bisa dipungkiri, cethe menjadi daya tarik tersendiri di Tulungagung. Bagi warga luar kota, cethe adalah hal yang baru karena hanya Tulungagung yang punya tradisi ini. Pun, tak semua kedai kopi bisa dipakai untuk nyethe. Kegiatan nyethe lebih banyak dilakukan di warung kopi, bukan kafe. Meski di kota besar seperti Surabaya atau Jogja banyak kafe-kafe cozy, saya tak yakin ada tradisi nyethe di sana. Paling cuma tradisi ghibah.

Bagi yang punya banyak masalah tapi nggak mau menangis, monggo mencoba tradisi nyethe ini. Kalau masalahnya hilang, ya syukur. Kalau nggak, setidaknya kamu bisa ngerasain sensasi melukis sambil bersedih, kan? Kalau kamu nggak merokok, tenang saja. Kamu masih bisa memajang kreasi cethe yang telah kamu buat di lemari ruang tamu paling atas. Kapan lagi punya karya yang bisa dipamerkan?

BACA JUGA Apa yang Sebenarnya Dipelajari di Program S-3 Marketing Harvard? dan tulisan Ahmad Zulfiyan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2020 oleh

Tags: Kopinyethetulungagung
Ahmad Zulfiyan

Ahmad Zulfiyan

Pekerja swasta berbasis di Jakarta. Tertarik pada isu sosial dan pendidikan.

ArtikelTerkait

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

19 Januari 2026
Rasa Minuman Tomoro Coffee Sama dengan Starbucks? Ya Enakan Starbucks ke Mana-mana, lah, Situ Halu?

Rasa Minuman Tomoro Coffee Sama dengan Starbucks? Ya Enakan Starbucks ke Mana-mana, lah, Situ Halu?

9 Desember 2023
kopi mama

Mama, Kopi Memang Pahit

9 Juli 2019
Minum Kopi Itu Biasa Saja, Nggak Usah Dibikin Ribet dan Diromantisasi kopi artisan kopi senja barista kasta minum kopi terminal mojok.co

Duh, Barista Sekarang kok Banyak yang Arogan ya?

22 Mei 2020
Kopi Santan, Kopi Indie Khas Blora yang Nggak Kalah dari Kopi Susu Kekinian terminal mojok

Kopi Santan, Kopi Indie Khas Blora yang Nggak Kalah dari Kopi Susu Kekinian

30 Juni 2021
Filsuf Adalah Tonggak Peradaban Bangsa dan Kini Mereka di Kedai Kopi terminal mojok.co

Analisis Berbagai Arti Ungkapan ‘Ngopi’ yang Sering Kita Dengar

8 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Vario 125, Motor Honda yang Bikin Sesal, tapi Nggak Tergantikan (Wikimedia Commons)

Saya Menyesal Nggak Pakai Vario 125 dari Dulu karena Motor Honda Ini Nggak Bikin Bangga tapi Nyatanya Nggak tergantikan

1 Mei 2026
Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

Surabaya Belum Setara Jakarta: Cukup 2 Alasan Kenapa Kota Terbesar Kedua Ini Belum Siap Jadi Venue Konser Kpop

29 April 2026
Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan Mojok.co

Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan

1 Mei 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit Mojok.co

Sukabumi Belum Pantas Jadi Peringkat 6 Kota Paling Toleran, Soal Salat Id Aja Masih Dipersulit

27 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau
  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.