Pedoman Melakukan Financial Planning Sendiri

Ibarat kita mau pergi ke suatu tempat, kita harus punya tujuan mau ke mana; lewat mana; dan naik apa. Financial planning juga begitu.

Artikel

Fierza

Masih muda, baru terima gaji, lantas bingung uangnya mau diapain.

Ada yang dihabisin buat investasi; Ada yang habis buat travelling; Ada juga yang habis beli makan doang. Satu yang pasti: habis. Mau hire financial planner, tapi mahal. Nih saya mau kasih pedoman dan tips financial planning sendiri 🙂

Sebenernya tujuan dari financial planning itu apa?

Ibarat kita mau pergi ke suatu tempat, kita harus punya tujuan mau ke mana; lewat mana; dan naik apa. Financial planning juga begitu. Kita harus tahu;

1. Goal kita apa
2. Kondisi keuangan saat ini bagaimana
3. Mengondisikan

Goal setiap orang bisa bermacam-macam. Ada yang mau pensiun dini; Ada yang mau hidup nomaden; Ada yang mau jadi milyarder; Atau bahkan hidup sederhana. Sah? Sah aja. Kita yang menjalani, kita yang menentukan. Yang bahaya adalah ketika kita tidak punya tujuan finansial. Kenapa?

Ketika orang tidak punya tujuan finansial, lagi, itu seperti kita sudah siap berangkat pergi, tapi tidak punya tujuan. Akhirnya kita hanya pergi dengan kendaraan kita, kemana pun kita pergi. Hasilnya? Kita hanya menghabiskan bensin dan waktu kita di jalan. Begitu juga dengan finance.

Langsung aja, hal pertama yang kita perlu lakukan:

1. Menentukan tujuan.

Goal di sini kita bagi 3 macam;
A. Jangka pendek
B. Jangka menengah
C. Jangka panjang

Jika sudah menentukan, mari hitung totalnya.

Jangka pendek itu sependek apa? Normalnya sih dalam hitungan bulan, sampai dengan satu tahun. Biasanya sifatnya rutin, seperti; Pengeluaran bulanan, cicilan, atau beli HP. Ya pokoknya yang mostly kita butuh dalam jangka waktu dekat.

Jangka waktu menengah. Ini udah mulai bervariasi untuk setiap orang. Mungkin di kisaran 5-10 tahun kali ya. Contoh: Tabungan menikah, tabungan haji, tabungan untuk sekolah S2, S3, dll.

Baca Juga:  Toleransi Terhadap Perbedaan Kadar Kebahagiaan

Yang terakhir, jangka panjang. Ini lebih bervariasi lagi. Ada yang mempersiapkan untuk pensiun dini, ada yang menyiapkan tabungan pendidikan anak, atau bahkan ingin menyelamatkan dunia 🙁

Pokoknya, tentukan tujuan dulu. Apa pun itu. Baru lanjut ke poin 2.

2. Kondisi keuangan saat ini

Bagaimana kondisi keuangan saat ini? Apakah surplus? Atau minus karena banyak cicilan? Jika surplus, berarti tinggal nabung sesuai target. Nah, kalau minus? Ini yang biasa jadi PR para financial planner.

Kenapa minus bisa jadi PR besar? Karena ketika kondisi keuangan berbeda. Semakin kamu diemin, minusnya akan semakin besar. Berbeda ketika kamu makan 2 apel temenmu, dan kamu ganti 2 apel tahun depan, mungkin tidak masalah.

Kartu kredit, misalnya. Jika didiamkan, makin bengkak. Untuk itu, kita perlu perlindungan. Misalnya, kita punya cicilan, umur manusia nggak ada yang tahu lah ya. Kalau tiba-tiba kita meninggal, siapa yang menanggung cicilan kita? Kita butuh seseorang/institusi yang melunasi hutang kita saat kita nggak ada. Di sini peran asuransi

Asuransi ada bermacam-macam. Ada asuransi Jiwa, asuransi kesehatan, asuransi harta benda, asuransi perjalanan, dll. Fungsinya satu, untuk menanggung kerugian.

Terus, asuransi pendidikan itu sebenernya ada nggak sih? Apa yang ditanggung? Nilai jelek? *eh. Jatuhnya ya nabung aja.

Asuransi juga ada 2 macam;
1. Asuransi murni; dan
2. Asuransi unit link.

Bedanya, kalo murni itu duit premi kita gak balik. Karena duit kita dipake nanggung yang melakukan klaim. Semacam subsidi silang. Kalo unit link, dijanjikan balik. Dengan catatan setelah sekian tahun. Kok bisa balik? Emang nggak rugi? Bisa balik. Karena uang yang kita bayarkan itu dibelikan produk-produk investasi. Maka dari itu, uang yang dijanjikan akan balik pun juga baliknya lama, biasanya di atas 5 tahun.

Baca Juga:  Cover Lagu Orang Lain atau Lagumu Dicover Orang Lain?

Asuransi kesehatan, harta benda, dll juga penting. Karena faktor-faktor di atas sering kali jadi “penggerus” terbesar tabungan kita. Kita emang gak bisa menghindari resiko, tapi kita bisa memperkecil resiko.

Dan satu lagi; dana darurat. Selain kematian, kita juga tidak tahu kapan kita di-PHK; kapan orang lain melakukan kesalahan tapi kita ikut nanggung beban mereka, dsb.

Banyak yang advice, rumus ideal dari dana darurat adalah 6x pengeluaran bulanan. Makin gede makin bagus.

Itu tadi poin 2, intinya:

-Lihat kondisi keuangan saat ini
-Buat kondisi keuangan surplus
-Lindungi dan perkecil resiko pengeluran yang tidak diinginkan dengan asuransi dan dana darurat.

Lanjut ke poin terakhir, yaitu mengondisikan

Mengondisikan di sini adalah menyesuaikan tujuan finansial kita dengan kondisi kita saat ini, termasuk langkah-langkah preventifnya. Ibaratnya, kalau goal kita di sana, kita ada di mana? Seberapa jauh dari goal kita? Tentunya secara penerapannya akan berbeda setiap orang.

Mengondisikan bisa berarti memilih prioritas, mengontrol resiko, mengukur besaran pendapatan. Ibarat kita bawa kendaraan, kita sesuaikan kapan bisa ngebut, kapan jalan santai, kapan harus pelan-pelan. Finansial rekat hubungannya dengan hukum. Jangan sampai salah jalan. Good luck!

BACA JUGA Rata-rata Gaji Orang Indonesia: Data yang Perlu Kamu Tahu Biar Nggak Minder Gaji Kamu Segitu atau tulisan Fierza lainnya. Follow twitter Fierza.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
434 kali dilihat

3

Komentar

Comments are closed.