Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tingkat Kemiskinan Jogja di Atas Rata-rata Nasional Itu Biasa Saja kok, Nggak Usah Kaget

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
17 Februari 2021
A A
ha milik tanah klitih tingkat kemiskinan jogja klitih warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

warga jogja lagu tentang jogja sesuatu di jogja yogyakarta kla project nostalgia perusak jogja terminal mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Lagi-lagi pagi hari saya terusik. Harusnya saya bisa meliukkan tubuh dengan manja sembari berkhayal. Tapi berita di media sosial membuat saya langsung terbelalak, bangun, dan tensi terjun bebas. Dan seperti biasa, hanya berita dari Jogja yang bisa membuat saya tertarik.

“Ealah damput!” Umpat saya sambil tersenyum getir.

Berita itu mengabarkan bahwa persentase penduduk miskin di Jogja sebesar 12,80 persen. Data ini diperoleh selama periode September 2019 sampai September 2020. Angka ini naik dari periode sebelumnya yang “hanya” 11,40 persen. Gampangnya, ada 13 warga miskin di antara 100 warga Jogja.

Mungkin Anda berpikir, “Ah, baru segitu kok.” Yah memang, 13 di antara 100 bisa dianggap kecil. Tapi, persentase penduduk miskin di Indonesia hanya sekitar 10,19%. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masuk dalam 16 besar wilayah yang angka kemiskinannya melebihi rata-rata nasional. Ya, Anda nggak salah baca, tingkat kemiskinan Jogja di atas rata-rata kemiskinan nasional, ngeri ora?

Menanggapi kabar ini, Pemda DIY tentu segera menelurkan ide-ide. Menurut Sekda Kadarmanta Baskara Aji, ekonomi DIY dan Indonesia memang sedang terpuruk. Pemda mengklaim bahwa bantuan sosial telah disalurkan. Namun, bantuan tidak cukup untuk mengentaskan kemiskinan.

Konsep dari Pemda DIY adalah: padat karya dan relaksasi pada utang bank. Yang pertama, setiap aktivitas desa dilakukan dengan padat karya. Jadi para warga miskin mendapat bantuan ,tapi dari bekerja sebagai padat karya. Kemudian, relaksasi pada utang di bank dilakukan dengan mengurangi bunga atau menunda angsuran. Diharapkan agar pelaku ekonomi dapat bergerak dahulu.

Gemas sih untuk menanggapi solusi yang embuh ini. Tapi, saya ingin menekankan perkara angka kemiskinan ini dahulu. Menurut saya, angka ini biasa aja kok. Tidak ada yang istimewa, dan mungkin tidak perlu menyalakan tanda bahaya. Ya karena memang sudah wajar jika Jogja terjebak kemiskinan dan tingkat kemiskinan Jogja di atas rata-rata.

Bagaimana tidak, Jogja dikerjakan dengan cara yang serampangan kok. Pepatah bilang “tidak ada asap jika tidak ada api.” Nah, berarti angka kemiskinan yang melampaui rerata nasional ini juga tidak muncul secara ajaib. Bahkan pandemi Covid-19 bukanlah satu-satunya alasan yang membuat angka kemiskinan Jogja sesuram ini.

Baca Juga:

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

Sebagai orang yang pernah tinggal di sana, saya harus jujur kalau Jogja kini menjelma jadi kota besar yang membosankan

Yah, pasti Anda sudah menebak saya akan membahas UMP yang humble ini. Benar, karena ini punya dampak langsung. Ketika upah rendah, bagaimana masyarakat bisa mentas dari kemiskinan. Meskipun ada yang meromantisasi pangan murah, tapi hidup tidak hanya bicara makan saja.

Dengan UMP yang ndlogok ini, masyarakat Jogja harus memenuhi kebutuhan hidup mengikuti harga nasional. Harga beras, bensin, sampai gawai untuk bekerja tidak pernah mengikuti UMP Jogja. Jadi, pemenuhan hidup layak Jogja lebih sulit daripada daerah dengan upah yang lebih tinggi.

Tapi, UMP juga bukan menjadi alasan tunggal. Bagaimana Jogja dikemas untuk memikat investor juga memicu angka kemiskinan yang menyebalkan ini. Ketika warga Jogja yang berekonomi rendah sedang banting tulang, kapital dari luar masuk dengan berbahagia. Wajar, karena kapital mereka yang terkesan murah di daerah lain menjadi sangat berharga di Jogja.

Kapital ini bisa memonopoli sumber daya Jogja. Akhirnya warga Jogja yang sudah kalah tanding sejak awal terjebak dalam situasi serba mahal. Jika Anda teringat gentrifikasi, memang itu yang terjadi. Bukan hanya wacana, tapi gentrifikasi benar-benar terjadi tanpa disadari. Mungkin karena terbuai dengan romantisisasi ala soto lima ribuan.

Dan terakhir, memang Jogja tidak dikerjakan untuk mengentaskan kemiskinan. Tidak usah berdalih, sebagai kota pariwisata Jogja mengharapkan perputaran uang dari pendatang. Wisatawan yang membawa dana dari daerahnya dibelanjakan di Jogja. Sayang sekali, dana ini berhenti di lingkup sempit. Alasannya? Ya karena monopoli tadi.

Jadi, cukup berlebihan ketika kita kaget pada angka kemiskinan Jogja. Harusnya kita sadar, cepat atau lambat ketimpangan Jogja akan makin terasa. Kemiskinan ini, seperti kata Mas Agus Mulyadi, struktural dan kultural.

Bahkan dengan solusi dari Pemda DIY, saya pikir angka kemiskinan di Jogja tidak akan bergeser banyak. Bisa menahan laju kemiskinan saja sudah bagus lho, nggak usah ndakik-ndakik menurunkan tingkat kemiskinan jogja. Sebab, solusi tadi tidak nampak solutif ketika bicara Jogja. Selama Jogja dikemas seperti sekarang, angka kemiskinan akan ikut menyempurnakan ketimpangan. Tidak masalah, masih bisa dibalut romantisisasi Tugu Jogja kok.

Lalu warga Jogja harus apa? Pilihan pertama, tetap narimo ing pandum dan tunggu ratu adil datang. Pilihan kedua, yah kembali kepada warga Jogja. Apa rela tetap terjebak kemiskinan yang struktural dan kultural ini?

BACA JUGA Pemecatan Pangeran Adalah Bukti Kraton Jogja sebagai Monarki Tanpa Kritik dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2021 oleh

Tags: Jogjatingkat kemiskinan jogja
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Kota Malang kota pendidikan. (Unsplash.com)

Kota Malang Kalahkan Jogja Sebagai Kota Paling Ideal untuk Kuliah

11 Juli 2022
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
Jogja Terbuat dari Tumpukan Kebohongan yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Jogja Terbuat dari Tumpukan Kebohongan yang Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

22 Februari 2024
Saya Justru Menyesal Tidak Jadi Kuliah di Jogja pariwisata jogja caleg jogja

Surat Terbuka Mahasiswa Jogja kepada Tukang Parkir: Nggak Semua Tempat Harus Ada Tukang Parkirnya, Bos!

4 Agustus 2023
Tour Guide Taman Sari Jogja, Profesi Paling Mulia karena Keikhlasannya

Tour Guide Taman Sari Jogja, Profesi Paling Mulia karena Keikhlasannya

31 Agustus 2024
Stasiun Maguwo Lama Sleman Dilupakan padahal Istimewa karena Jadi Satu-satunya Stasiun Terbuat dari Kayu di Jogja

Stasiun Maguwo Lama Sleman Dilupakan padahal Istimewa karena Jadi Satu-satunya Stasiun yang Terbuat dari Kayu di Jogja

23 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral Terminal

Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral

23 Juli 2026
Sleman Tanpa UGM dan UNY Cuma Jadi Kabupaten Sunyi dan Mati

Sleman jadi besar dan hebat justru karena tidak punya “pusat kota”, kemajuan tersebar merata di segala penjurunya

26 Juli 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja malang

Deklarasi Wonogiri sebagai ibu kota mi ayam bakso harusnya menyadarkan Malang bahwa reputasi saja tidak selalu cukup

21 Juli 2026
Pesan untuk orang tua ambis yang khawatir anaknya nggak juara kelas Mojok.co

Pesan dari orang tua untuk sesama orang tua, stop paksa anak yang baru masuk SD jadi juara kelas

24 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026
Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

Tolong hentikan tradisi perpisahan sekolah anak SD di hotel atau tempat mubazir lainnya, ini pemborosan tak berguna!

25 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.