Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Tetangga yang Hobi Bakar Sampah Memang Pantas Dibenci, Sehari-hari Cuma Bikin Sesak Napas

Supriyadi oleh Supriyadi
10 Februari 2026
A A
Tetangga yang Hobi Bakar Sampah Memang Pantas Dibenci, Sehari-hari Cuma Bikin Sesak Napas Mojok.co

Tetangga yang Hobi Bakar Sampah Memang Pantas Dibenci, Sehari-hari Cuma Bikin Sesak Napas (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya bukannya nggak suka bertetangga. Saya masih percaya kalau manusia itu makhluk sosial yang butuh orang lain untuk hidup, dalam hal ini tetangga. Itu mengapa, tinggal di perumahan yang saling kenal hanya lewat WhatsApp tidak pernah masuk dalam list hidup.  

Persoalannya, bertetangga di lingkungan yang “hidup” secara sosial, misal di desa atau perkampungan, ternyata bukan hal mudah. Ada saja tantangan yang menguji kesabaran dan kerukunan. Salah satu tantangan yang sedang saya hadapi saat ini misalnya, punya tetangga yang sering sekali bakar sampah. 

Bagi sebagian orang, termasuk tetangga saya, membakar sampah adalah solusi praktis menghadapi persoalan tumpukan sampah. Tidak perlu membayar dan menunggu truk pengangkut, sampah menumpuk sudah lenyap dimakan api. Saya mencoba memahami logika dan cara hidup ini, tapi selalu gagal.  

Sampah mungkin sudah tidak menumpuk. Persoalannya mungkin seolah-olah selesai. Tapi, mereka tidak pernah menyadari betapa berbahaya dan mengganggu aktivitas membakar sampah itu. Ada satu argumen yang kerap dipakai oleh tetangga saya untuk membela dirinya sendiri. “Ini kan di pekarangan sendiri,” begitu katanya. Dia mungkin lupa, dampak dari membakar sampah, alias asapnya bisa terasa hingga berkilo-kilometer di sekitarnya. Termasuk ke rumah saya. 

Dilema menegur tetangga hobi bakar sampah

Persoalan bakar sampah sesungguhnya bukan sekadar asap yang mengganggu pernapasan atau mencemari bau jemuran pakaian. Lebih dari itu, bakar sampah bisa memicu ketegangan sosial. Jujur saja, menegur tetangga mungkin terdengar sederhana, tapi praktiknya jauh lebih rumit daripada itu. Apalagi kalau tetangganya ngeyel minta ampun. Segala alasan tidak masuk logika keluar. 

Asal tahu saja, persoalan bakar sampah bisa sampai ke mana-mana. Mulai dari dicap rewel hingga sok bersih. Bahkan, bukan tidak mungkin orang yang menegur dikira tidak tahu kebiasaan kampung setempat. Lebih parah lagi, risiko menjadi bahan pembicaraan di belakang. Itu mengapa, banyak orang memilih diam. Apalagi kalau yang terganggu adalah pendatang baru di suatu daerah. 

Hidup bertetangga harusnya sama-sama nyaman

Saya bukannya orang yang sangat suci terkait lingkungan. Saya juga masih punya banyak dosa yang membuat bumi ini tidak lestari. Namun, soal bakar sampah, sikap saya tegas. Aktivitas ini seharusnya tidak pernah ada, apalagi di tengah zaman seperti sekarang. Ketika berbagai teknologi dan informasi pengolahan sampah rumah tangga begitu mudah ditemukan. 

Di sisi lain, saya memahami mengubah pemikiran  seseorang itu tidak mudah. Apalagi kalau hal itu sudah menjadi kebiasaan atau budaya di suatu tempat. Sekalipun teguran yang dilayangkan benar dan valid, tetap saja akan mental kalau pembakar sampah punya keyakinan lain.  

Baca Juga:

Tangsel Dikepung Sampah, Aromanya Mencekik Warga, Pejabatnya ke Mana?

Bengawan Solo: Sungai Legendaris yang Kini Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Di titik ini tidak ada kesimpulan apapun. Hal-hal ideal di kepala, bahwa bertetangga seharusnya saling toleransi, tenggang rasa sehingga bisa hidup tanpa curiga  udah buyar. Hubungan bertetangga nyaman dan rukun tiba-tiba terasa begitu jauh. Di saat inilah seharusnya pemegang kekuasaan seperti RT, RW, atau orang yang dituakan memainkan perannya. Ya kalau mereka bukan bukan bagian dari orang yang suka bakar sampah ya. 

Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Sesulit Itukah Memiliki Tetangga yang Baik?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: bakar sampahSampahsesak napastetangga
Supriyadi

Supriyadi

Juru tulis bersenjata kopi.

ArtikelTerkait

Salon de thé François industri musik jepang mojok

Jangan Anggap Enteng Urusan Sampah di Jepang

6 Oktober 2021
Tetangga Adalah Saudara Terdekat Meski Hobinya Karaoke di Rumah Terminal Mojok

Tetangga Adalah Saudara Terdekat Meski Hobinya Karaoke di Rumah

1 Maret 2021
Membakar Sampah Adalah Kejahatan! (Unsplash)

Membakar Sampah Adalah Kejahatan!

2 Desember 2022
Suka Duka Punya Tetangga Tukang Servis Sound System terminal mojok.co

Suka Duka Punya Tetangga Tukang Servis Sound System

24 Januari 2021
Saya Jadi Pengin Tinggal di Jepang Gara-gara FYP TikTok dan Tetangga Nyebelin

Saya Jadi Pengin Tinggal di Jepang Gara-gara FYP TikTok dan Tetangga Nyebelin

19 November 2023
radha krishna Sulitnya Hidup Bertangga dengan Orang yang Tidak Paham Adab terminal mojok.co

“Reply 1988” Drama Korea Terbaik yang Nunjukin Tetangga Goals

3 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat Mojok.co

Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat

17 Juni 2026
Mati Listrik di Jogja Adalah Cara Cepat Membunuh Orang Miskin (Unsplash)

Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan

20 Juni 2026
Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL Mojok.co

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

21 Juni 2026
Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam “Naik Kelas” Jadi Makin Diperhitungkan

18 Juni 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co kota pelajar

Jogja Kota Pelajar Bukan Cuma Soal UGM, tapi Soal Standar Pendidikan dari SD yang Sudah Kompetitif

17 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.