Pengalaman Berurusan dengan Pak RT Overproud Jabatan dan Multipresence

Artikel

Avatar

Bapak saya adalah kandidat ketua RT selama beberapa periode, namun tidak pernah jadi. Bukan karena tim sukses bapak saya nggak becus, tapi memang bapak saya nggak mau jadi pak RT. Banyak yang udah ngusulin bapak saya, tetapi mengingat tugas ketua RT itu ribet sementara bapak saya sudah kerepotan ngurusin urusan rumah, beliau ogah. 

Oleh karena bapak saya selalu menolak jadi ketua RT, masyarakat dengan kampretnya mengajukan saya. Bayangkan saja, saya yang berambut gondrong, hobi bikin kopi, dan lumayan pemberontak gini, diusulkan jadi ketua RT. Bagaimana nasib masyarakat satu RT nantinya? Makanya, dengan kerendahan hati, saya mengikuti jalan bapak saya dengan menolak usulan itu.

Berbeda dengan saya dan bapak yang ogah jadi ketua RT, saya malah pernah berurusan dengan pak RT yang sangat bangga akan jabatannya. Beliau sering muncul tiba-tiba secara mengagetkan. Hal ini lumayan meninggalkan trauma bagi saya dan beberapa teman.

Kebetulan di Jogja, saya memang ketemu jenis ketua RT yang satu ini di tempat kerjaan. Beliau selalu membangga-banggakan bahwa dirinya adalah pak RT. Beliau selalu menepuk dada sambil berkata, “Saya ini pak RT!” Seolah-olah semua urusan kelar begitu semua orang tahu bahwa dia ketua RT.

Suatu ketika di musim penghujan, kedai kopi tempat saya kerja sedang ramai-ramainya. Kebetulan lokasi kedai kopinya memang berbatasan dengan jurang yang di dasarnya adalah Kali Code. Nah, ketika hujan mendera, secara ajaib sosok laki-laki berbadan tambun dan hanya memakai celana kolor muncul dari bawah jurang. Ngeri kali…. 

Sore-sore, hujan deras, muncul bapak-bapak tambun dari bawah, dan hanya koloran. Bayangin. Auto kagetlah mbak-mbak gemes yang lagi ngopi di wilayah outdoor. Sosok Bapak itu teriak-teriak minta bertemu manajer, tapi berhubung manajer sedang nggak ada, ya sudah teman saya yang datang. Dia bawa payung menemui si Bapak. Niatnya sih mau mayungin karena si Bapak udah kehujanan. Teman saya ternyata malah berdebat dan nggak jadi ngasih payungnya.

Si Bapak yang kata temen saya kulitnya rada-rada oily, komplain air hujan dari area kedai kopi bisa bikin longsor tanah di area jurang dan membahayakan penduduk. Berkali-kali beliau bilang, “Saya ini pak RT!” 

Ya, maksudnya kita semua sudah tahu bahwa beliau itu ketua RT, toh sudah beliau klaim beberapa kali tentang hal itu. Nggak usah disebutkan terus kayaknya nggak masalah deh. Lagian itu bapaknya cuma pak RT, belum pak RW, belum pak lurah, belum pak camat, belum presiden. Presiden sekalipun nggak akan bilang ke masyarakatnya bahwa dia Presiden. Baru jadi ketua tingkat mikro aja bangga bener dah.

Beliau protes gegara air hujan yang nggak bisa kami kendalikan, ya gimana caranya ngasih solusi? Tujuan beliau baik agar lingkungan terjaga dan nggak terjadi longsor, tapi masa harus dengan cara menakjubkan begitu? 

Saya sampai bingung gimana caranya beliau tiba-tiba nongol dari bawah area outdoor kedai kopi kami. Mungkinkah manjatin dedaunan? Padahal lebih enak kalau beliau datangnya dari depan aja selayaknya tamu-tamu lain.

Sejak kejadian itu, dibuatlah saluran air hujan dari genteng yang langsung ke jurang dan nggak terlalu mengikis tanah bagian tepinya. Jadi saran beliau kami realisasikan dengan baik meski tetap saja tanah di bawah sana berpotensi longsor karena kondisi kontur tanahnya yang ringkih.

Kemunculan pak RT di sore hari saat hujan itu bikin saya dan pegawai-pegawai kedai kopi lainnya selalu waswas apabila hujan tiba. Khawatir beliau mendadak muncul dengan hanya berpakaian kolor dan datang dari bawah jurang. Untungya kemunculannya di kala hujan hanya terjadi satu kali itu. Tetapi, kemunculannya di lain waktu juga tak kalah bikin terkejut.

Entah mata saya dan pegawai lainnya siwer atau gimana. Kami seolah sering melihat sosok menyerupai beliau di beberapa kesempatan. Malam-malam saat closing-an, kayak ada pak RT yang mondar-mandir di seberang jalan. Tukang yang ngambil sampah setiap hari juga gonta-ganti dan salah satunya mirip pak RT. Pagi-pagi pas persiapan buka kedai kopi, sering ada bapak-bapak lewat dorong gerobak yang entah isinya apa dan sosoknya mirip sama pak RT. Kami jadi penasaran, kalau sosok-sosok misterius itu memang beliau, kok kayak sibuk banget ya.

Ya ngurusin sampah, patroli malam, bahkan pagi-pagi dorong gerobak yang entah isinya apa. Yang menjadi misteri, sosok itu nggak pernah secara jelas kelihatan. Sekadar lewat dan yang lihat di satu peristiwa pasti hanya satu dua anak.

Anehnya lagi, saat kedai kopi ramai pengunjung dan lumayan gaduh di malam hari, ada bapak-bapak gondrong mengerikan yang datang dan menegur. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah utusan pak RT. Hah, sekarang beliau punya utusan juga. Kalau beliau memang sosok yang sering terlihat tadi, seharusnya beliau ada di sekitar kedai kopi dan langsung menegur kami semua dong. Ini malah mengutus anak buahnya.

Semua kejadian itu bikin sosok pak RT bagaikan urban legend yang sangat ditakuti. Bahkan kalau ada yang mau berbuat macam-macam, misalnya minum anggur merah sebelum kedai kopi tutup, pasti ada aja yang nyeletuk, “Awas, pak RT datang!” Semua orang langsung bergidik ngeri.

Asli, pak RT yang satu ini sungguh misterius dan bisa muncul secara mendadak di segala tempat. Bahkan jangan-jangan saat nulis ini, ada beliau di belakang saya. Wuanjeeenggg, ngeri amat.

BACA JUGA 4 Alasan Orang Dateng ke Kedai Kopi tapi Nggak Pesen dan tulisan Riyanto lainnya.

Baca Juga:  Gotong Royong yang Masih Lestari di Desa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
12


Komentar

Comments are closed.