Di mata saya, Terminal Cileungsi Bogor punya dua wajah. Satu sisi, terminal ini adalah penyelamat ketika saya hendak bepergian jauh. Sisi lain, tempat ini terasa begitu merana, sekarat. Seolah-olah hidup segan, mati pun tak mau, terlebih untuk melayani rute-rute pendek dalam kota,
Harus saya akui, Terminal Cileungsi Bogor andalan saya untuk urusan Bus Antar Kota Antarprovinsi (AKAP). Berkat adanya terminal ini, saya tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk macet-macetan menuju Terminal Kampung Rambutan atau Bekasi hanya demi mencari bus malam.
Coba sebutkan kota tujuannya, mulai dari Solo, Jogja, hingga Surabaya, semua armada bus terbaru berjejer rapi di sana.
Setiap sore menjelang akhir pekan, suasana di area bus jarak jauh begitu hidup. Saya sering berdiri di sudut terminal, menyaksikan kesibukan orang-orang yang menggendong tas carrier besar, menenteng koper, atau mengikat kardus oleh-oleh dengan tali rafia.
Di area inilah, Terminal Cileungsi Bogor benar-benar menjalankan fungsinya dengan sangat baik dan memberikan rasa aman bagi perjalanan jauh saya.
Terminal Cileungsi Bogor sakis bus dalam kota dan jadwalnya yang gaib
Akan tetapi, di balik kegagahan bus-bus antarkota tersebut, ada satu rute jarak menengah yang paling sering membuat saya mengelus dada, yaitu bus jurusan Cileungsi–Tanah Abang.
Bus ini sebenarnya menjadi tumpuan utama saya jika ingin pergi ke pusat grosir atau kawasan Sudirman tanpa harus repot transit naik KRL dari Stasiun Nambo. Sayangnya, satu kendala besar yang selalu saya hadapi adalah kenyataan bahwa bus ini tidak setiap waktu tersedia di jalurnya.
Menunggu bus Tanah Abang di Terminal Cileungsi membutuhkan stok kesabaran dan keberuntungan yang luar biasa. Jadwal keberangkatannya terasa gaib karena jam operasionalnya yang sangat ketat dan terbatas. Jika saya terlambat sedikit saja pada pagi hari, saya dipaksa pasrah menunggu tanpa kepastian kapan armada berikutnya akan datang.
Angkot rute pendek bak ingin menjemput ajal penumpangnya
Penderitaan saya saat menunggu bus Tanah Abang ternyata belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pemandangan di area angkutan rute pendek.
Ketika saya melangkah ke area angkot lokal, suasananya langsung berubah menjadi muram dan sunyi. Angkot-angkot jurusan lokal, seperti arah Jonggol atau yang membelah jalanan dalam Cileungsi, kini kondisinya sudah berada di ujung tanduk alias sekarat.
Saya melihat sendiri bagaimana angkot-angkot tersebut kalah telak oleh kepemilikan motor matic yang masif dan kehadiran ojek online. Akibat penumpang yang makin sepi, para sopir angkot terpaksa ngetem berjam-jam di dalam terminal hingga waktu saya habis terbuang percuma.
Area ini pun kini hanya menyisakan deretan armada karatan yang meratap menunggu penumpang yang tak kunjung datang.
Jadi, Terminal Cileungsi Bogor dalam ingatan harian saya adalah sebuah tempat yang penuh dengan ironi transportasi pinggiran. Di bawah satu atap yang sama, saya melihat kemegahan bus-bus double decker jarak jauh terparkir berdampingan dengan angkot rute pendek yang pintunya sudah mulai lepas, serta bus Tanah Abang yang jadwalnya timbul tenggelam.
Terminal ini memang sukses menjadi pahlawan yang mengantar saya menuju kota-kota yang sangat jauh. Namun, di waktu yang sama, gagal total untuk sekadar mengantar saya dengan nyaman ke kota tetangga.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













