Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

Dodik Suprayogi oleh Dodik Suprayogi
10 Juli 2026
A A
Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang! (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai anak Jombang asli yang tumbuh dengan doktrin kalau belum makan nasi berarti belum makan, merantau ke Bogor adalah urusan adaptasi isi perut yang luar biasa berat. Kota Hujan ini tidak hanya dingin oleh air langitnya, tapi juga sukses mendinginkan logika kuliner saya.

Puncaknya terjadi pada suatu malam, ketika seorang kawan karib mengajak saya keluar untuk mencari makan malam. Di kepala saya, pilihannya kalau tidak nasi goreng, ya pecel lele. Namun, langkah kaki kami justru terhenti di depan sebuah tenda dengan spanduk bertuliskan “Bubur Ayam Khas Cianjur”.

Saya termangu. “Makan malam pakai bubur ayam?” Spontan, pertanyaan reaktif langsung keluar dari mulut saya.

Kawan saya hanya tertawa terbahak-bahak, menganggap keheranan saya sebagai lelucon. Padahal bagi saya, ini adalah sebuah culture shock yang sangat keterlaluan.

Doktrin bubur adalah menu darurat di Jombang

Di Jombang, dan hampir sebagian besar wilayah Jawa Timur, bubur ayam menempati kasta yang sangat spesifik dalam hierarki makanan. Bubur adalah menu darurat, makanan wajib yang disajikan ketika tubuh sedang tumbang, demam, atau saat mengunyah nasi terasa seperti mengunyah kerikil.

Alasan kedua, orang Jatim makan bubur hanyalah sebagai menu sarapan kilat sebelum berangkat kerja atau sekolah. Itu pun porsinya sering dianggap anget-anget kuku, sekadar pengganjal lambung biar tidak kosong.

Maka, melihat pemandangan warung bubur ayam di Bogor yang justru baru menggelar tikar dan menyalakan lampunya saat matahari tenggelam adalah sebuah anomali. Lebih heran lagi saat melihat rombongan anak muda sehat walafiat, tertawa renyah, sambil memesan bubur ayam porsi jumbo lengkap dengan sundulan sate usus dan ati ampela.

Bubur di malam hari itu sebuah keberanian

Bagi lambung orang Jawa Timur yang sudah terbiasa ditempa oleh soto daging, sate madura, atau sego sambel penyetan di malam hari, memilih bubur ayam sebagai menu dinner adalah sebuah bentuk keberanian yang tidak masuk akal. Ada logika tak tertulis di Jatim bahwa bubur itu cepat lapar lagi. Sifatnya yang cair dan lembut membuat makanan ini seperti sekadar lewat di tenggorokan tanpa meninggalkan rasa kenyang yang hakiki.

Baca Juga:

Orang Jombang Malas Liburan ke Wonosalam, Lebih Memilih Plesir ke Malang

Jalur Jombang-Nganjuk Lebih Mirip Halang Rintang daripada Jalan Nasional

Ketika akhirnya saya terpaksa memesan semangkuk bubur malam itu, perang logika di dalam kepala saya berkecamuk. Di Jabar, bubur ayam malam hari disajikan dengan sangat meriah. Kuah kuning yang gurih, taburan cakwe, seledri, kedelai goreng, hingga kerupuk yang melimpah ruah sampai tumpah-tumpah.

Rasanya memang enak, saya akui itu. Tapi tetap saja, ada bagian dari jiwa Jombang saya yang menolak kenyataan bahwa ini adalah menu penutup hari. Sepanjang mengunyah, saya sibuk membatin, “Ini nanti jam sebelas malam pasti saya bakal kelaparan lagi.”

Menghormati bubur sebagai kuliner penenang

Lambat laun saya menyadari bahwa di Bogor, dan Jawa Barat pada umumnya, bubur ayam telah bergeser fungsi dari makanan fungsional menjadi kuliner penenang. Orang-orang di sini tidak mencari efek kenyang seperti saat makan nasi padang atau penyetan di malam hari. Mereka mencari kehangatan yang pas untuk melawan hawa dingin Bogor, didampingi obrolan santai dan ritual memilih sate-satean berbumbu kecap yang manis gurih.

Saya akhirnya harus berdamai dengan kenyataan kultural ini. Bubur ayam di tanah rantau bukan lagi simbol kelemahan fisik atau tanda bahwa imun tubuh sedang turun. Melainkan sebuah kenyamanan malam hari yang sah dan legal dinikmati siapa saja. Bahkan untuk anak Jombang yang awalnya mengira semua orang di warung tenda itu sedang terserang gejala flu berkepanjangan.

Meskipun jujur saja, setelah makan bubur itu, saya tetap mampir beli nasi uduk untuk berjaga-jaga jika lambung saya protes tengah malam.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Ciri Bubur Ayam yang Pasti Enak, Cocok Jadi Penyelamat Perut di Pagi Hari

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2026 oleh

Tags: bogorbubur ayam bogorJombangkuliner bogor
Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Penggiat pertanian yang sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Ekonomi di Universitas Trisakti Jakarta.

ArtikelTerkait

Plaza Jambu Dua Bogor: Pusat Belanja yang Sempat Mati Suri, Kini Dihidupkan Kembali

Plaza Jambu Dua Bogor: Pusat Belanja yang Sempat Mati Suri, Kini Dihidupkan Kembali

19 Agustus 2024
Mikrolet Biru Peterongan-Brangkal Lenyap Tergerus Perkembangan Zaman

Mikrolet Biru Peterongan-Brangkal Lenyap Tergerus Perkembangan Zaman

4 Juli 2023
bandros sarapan ala sunda mojok

Bandros, Surabi, dan Ulen: Mana yang Paling Lezat buat Sarapan?

15 Desember 2020
4 Hal yang Wajar di Bogor tapi Tidak Lumrah di Jakarta

Nasib Pejalan Kaki di Bogor: Dianggap Penyebab Macet dan Selalu Dirampas Haknya

8 November 2025
Saking Ruwetnya, Kemacetan Simpang Pasar Parung Bogor Nggak akan Terurai sampai Kiamat Mojok.co

Saking Ruwetnya, Kemacetan Simpang Pasar Parung Bogor Nggak akan Terurai sampai Kiamat

23 Juni 2024
Calon Maba IPB University Jangan Harap Tinggal Nyaman di Bogor, Hanya Sengsara yang Akan Kamu Dapatkan

Calon Maba IPB University Jangan Harap Tinggal Nyaman di Bogor, Hanya Sengsara yang Akan Kamu Dapatkan

31 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di Bangkalan Madura Bikin Saya Sadar, Nggak Semua Orang Bakal Cocok Tinggal di Sini Mojok.co

Jangan Keluyuran ke Bangkalan Madura, Niat Menenangkan Pikiran Malah Dibuat Menyesal karena Perjalanan yang Melelahkan

5 Juli 2026
Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak Terminal

Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak

6 Juli 2026
Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis Mojok.co

Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis

8 Juli 2026
Obsesi Beli iPhone Bukan karena Gengsi, tapi Ingin Setara (Unsplash)

Obsesi Saya untuk Membeli iPhone Bukan Soal Gengsi, tapi Ingin Merasa Setara karena Tidak Ada Manusia yang Terlihat Kecil di Depan Orang Lain

4 Juli 2026
Sensus Ekonomi 2026 Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap Intel (Unsplash)

Sensus Ekonomi 2026 Cuma Hasilkan Sampah, Petugas BPS Dianggap “Intel Pajak” oleh Warga

5 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.