Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Temanmu Melinting Bukan karena Miskin, tapi Sedang dalam Laku Spiritual

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
25 Juni 2020
A A
melinting, isi dompet perokok

Temanmu Melinting Bukan karena Miskin, tapi Sedang dalam Laku Spiritual

Share on FacebookShare on Twitter

Rokok lintingan sedang naik daun. Dan di setiap sudut tongkrongan bisa kita temu muda-mudi yang sibuk melinting. Melinting memang menjadi tren baru selain gowes dengan sepeda lipat. Dan karena sedang menjadi tren, linting pun tak luput dari gunjingan.

Berbeda dengan gunjingan terhadap goweser, gunjingan kepada pelinting lebih menyakitkan (menurut saya). Jika goweser dipandang sebagai orang berpunya yang arogan, pelinting dipandang sebagai orang miskin yang kepepet. Pelinting dianggap terlalu miskin untuk sekedar membeli rokok pabrikan. Benarkah demikian?

ADVERTISEMENT

Ada benarnya ketika kita bicara awal kepopuleran melinting. Melinting menjadi populer pasca kenaikan cukai produk tembakau. Rokok pabrikan yang dulu bisa terjangkau dengan mengesampingkan sarapan kini tak terjangkau. Beberapa merk naik sebegitu tingginya hingga tidak terjangkau oleh kalangan nom-noman UMR. Tapi, naiknya harga ini bukan menjadi alasan utama. Anggap saja fase tercerahkan sebelum masuk laku spiritual. Pokoknya anggap saja seperti itu ya.

Mari kita bicara tentang melinting dahulu. Melinting adalah sebuah cara menikmati tembakau. Kata linting berarti menggulung, dalam hal ini adalah menggulung tembakau di dalam kertas. Berbeda dengan budaya merokok konvensional, melinting harus melewati segenap laku sebelum bisa menikmati nikotin di dalamnya. Laku ini pun harus dalam keteraturan demi tercapainya kenikmatan yang haqiqi. Wah ternyata melinting tidak sesederhana itu kan?

Sebenarnya melinting pun terjadi pada rokok konvensional. Tapi fase ini diambil alih oleh korporasi tembakau. Mereka menjadi jasa pelinting bagi penikmat tembakau. Tentunya dengan iming-iming kepraktisan dan kenyamanan. Sedangkan, pelinting harus menjalani fase ini. Dalam pabrik rokok kita kenal posisi kerja seperti quality control, pelinting, bathil, dan pengepak. Nah, para lintinger ini menjadi semua itu setiap akan merokok. Luar biasa beban seorang pelinting.

Bicara laku melinting, semua diawali dengan akad jual beli. Maksudnya, pelinting harus membeli ubo rampe terlebih dahulu. Dari tembakau, kertas, cengkeh, lem, sampai tempat menyimpan tembakau. Kesemuanya dilakukan oleh pelinting langsung tanpa perantara korporat. Akad terjadi, seperangkat kebutuhan linting pun diterima. Dan masuklah seorang pelinting dalam laku melinting yang sebenarnya.

Seorang pelinting akan menyiapkan segala ubo rampenya sebelum mulai melinting. Jadi jangan kaget jika meja seorang pelinting lebih berantakan dari keluarga di dalam sinetron religi. Tapi ketidakaturan ini adalah laku pembuka sebelum mereka benar-benar melinting. Jadi cukup perhatikan tanpa perlu cangkeman ya.

Pelinting tersebut akan mengambil kertas lintingnya, lalu mulai meletakkan tembakau di atas lipatannya. Tangannya sangat terampil dalam memilah tembakau dari dahan kering sampai rafia yang tak sengaja masuk. Beberapa pelinting akan menaburkan cengkeh dan bumbu lain dengan takzim. Ada juga yang memasang filter sebagai penambah kenyamanan. Kemudian dalam satu gerak tangan, tembakau tadi ada di dalam tabung kertas linting tadi. Semua ini diakhiri dengan tersulutnya lintingan agar terbentuk asap. Asap nikmat inilah yang akan disesap dengan khusuk sambil merem syahdu.

Baca Juga:

Tulungagung, Kota yang Siap Bersaing dan Menggeser Kudus sebagai Pemilik Takhta Kota Kretek

Kemasan Rokok Polos Bukti Pemerintah Tidak Mengenal Rakyatnya. Pasti Gagal, dan yang Untung Justru Rokok Ilegal!

Dari laku yang saya jelaskan di atas, sudah nampak nyata bahwa melinting tidak sepele. Ia adalah sebuah kesatuan yang tertata apik dan terwariskan dari zaman ke zaman. Seorang pelinting memperlakukan lintingan dengan takzim dan lemah lembut. Setiap unsur lintingan tersentuh oleh jemarinya. Pelinting telah menyatu dengan berbagai hasil bumi tadi setiap melinting. Dia melakukan tarian syukur dengan jemari lentiknya (dan kadang kapalan juga).

Seorang pelinting pantang melompat-lompati laku melinting. Karena tidak mungkin menaburkan cengkeh setelah kertas dan tembakau terlinting. Dia menjalani laku yang mungkin membuat jenuh orang lain. Seorang pelinting juga mengenal diri dari cerminan ubo rampenya. Dia sangat mengenal tembakau mana yang cocok, kertas mana yang mantap, dan lain sebagainya. Dia juga mengenal tembakau mana yang cocok, tidak hanya di lidah, tapi juga di keuangan.

Menilik dari apa yang dilakukan oleh para pelinting, sejatinya adalah sebuah laku spiritual yang harmonis. Menyatukan unsur-unsur hasil bumi, yang nantinya akan bersatu dengan kalbu sang pelinting. Semua dilakukan dengan penuh rasa syukur, minimal bersyukur tetap bisa menyesap nikotin sampai hari ini. Seorang pelinting tidak memilih kenikmatan praktis, namun kenikmatan dalam harmoni. Kenikmatan dimana dia terlibat penuh dalam pencapaiannya.

Tapi memang, pilihan untuk melinting sering dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Iya, benar kok. Tapi bukankah ketidakmampuan membeli rokok pabrikan juga sebuah laku spiritual. Iya kan?

BACA JUGA Sesakit-sakitnya Patah Hati Lebih Sakit Tidak Kebagian Sodoran Rokok dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2020 oleh

Tags: melintingmerokokRokok
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

ICJ satuan waktu sak ududan perokok anak kecil djarum super mojok mulut asbak

Kalau Kena Abu Rokok Pengendara di Jalanan Jogja, Sebaiknya Nggak Usah Lapor ke ICJ

27 September 2021
Para Perokok di Dalam Ruangan Tertutup dan Ber-AC, Motivasinya Apa sih?

Kenapa Kebanyakan Perokok Lebih Memilih Membeli Rokok Dibanding Makanan saat Uangnya Pas-pasan?

28 Agustus 2020
mengapa kuli bangunan buang puntung rokok sembarangan kebakaran gedung kejaksaan agung motif pelaku tersangka mojok.co

Alasan Kuli Bangunan Buang Puntung Rokok di Gedung Kejaksaan Agung

27 Oktober 2020
Para Perokok di Dalam Ruangan Tertutup dan Ber-AC, Motivasinya Apa sih?

Perokok Bisa Dilihat Karakternya Lewat Merek Rokok yang Dihisap

1 Juli 2020
Mengatasi Drama-Drama Curanrek di Tongkrongan

Mengatasi Drama-Drama Curanrek di Tongkrongan

29 Oktober 2019
pb djarum

Djarum Itu Rokok atau Alat Menjahit?

9 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

21 Juli 2026
Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak Mojok.co

Pengalaman mencicipi nasi goreng kuah Bang Tommy: kuliner Kediri yang aneh, tapi enak

17 Juli 2026
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

21 Juli 2026
Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

Mohon maaf, tidak semua orang suka tahu campur Lamongan, bahkan saya sebagai warlok juga kurang cocok

19 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026
Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo? (Wikimedia Commons)

Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?

21 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.