Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Tak Ada yang Lebih Tabah dari para Pejuang KRL

Bintang Ramadhana Andyanto oleh Bintang Ramadhana Andyanto
29 September 2023
A A
Tak Ada yang Lebih Tabah dari para Pejuang KRL Jakarta Tarif KRL berbasis NIK

Tak Ada yang Lebih Tabah dari para Pejuang KRL (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam salah satu sajaknya, Sapardi Djoko Damono pernah menulis bahwa tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya tentu mengakui bahwa penggalan puisi tersebut sangatlah puitis. Namun, dalam konteks kehidupan sehari-hari, saya rasa Pak Sapardi sedikit keliru. Pasalnya, bagi saya, pernyataan yang lebih tepat adalah “Tak ada yang lebih tabah dari pejuang KRL”.

Teruntuk kalian yang menetap di wilayah Jabodetabek, kalian pasti tahu bahwa banyak sekali orang yang mengandalkan Kereta Rel Listrik (KRL) sebagai moda transportasi sehari-hari. Harap diingat bahwa tak semua orang memiliki kendaraan pribadi, sehingga satu-satunya solusi jika hendak bepergian adalah dengan memanfaatkan kendaraan umum. Kebetulan, saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang terhitung ke dalam golongan tersebut.

ADVERTISEMENT

Tabah menjadikannya sebagai rutinitas

Jika hanya dilakukan sekali-dua kali, menaiki kendaraan umum di Jabodetabek mungkin akan dipandang sebagai bentuk refreshing. Mungkin ada saja orang di luar sana yang bosan melalui hari-harinya dengan mengendarai mobil atau motor pribadi, lantas bermaksud untuk menggunakan KRL, MRT, Transjakarta, atau transportasi umum apa pun saat hendak menuju suatu tempat. Bagi kelompok tersebut, tampaknya mereka tidak akan begitu relate dengan isi artikel ini.

Ketika membuat tulisan ini, perspektif yang saya gunakan adalah orang-orang yang menjadikan kendaraan umum sebagai bagian dari rutinitas mereka. Orang-orang yang setiap harinya berangkat ke sekolah, ke kantor, atau ke mana pun dengan menaiki KRL dan pulang dengan menggunakan moda yang sama pula. Jujur saja, bagi saya, mereka yang kerap disebut sebagai “pejuang KRL” tersebut adalah definisi paling valid dari ketabahan; contoh paling konkret dari kesabaran.

Meskipun saya juga merupakan seorang pejuang KRL, tetapi boleh dibilang saya masih newbie dalam menyandang julukan tersebut. Saya baru menyematnya dalam waktu kurang lebih setahun, tepatnya sejak saya pertama kali menetap di Depok. Dalam periode tersebut, saya selalu memanfaatkan KRL setiap kali akan berangkat ke lokasi magang, ke kantor di mana saya bekerja paruh waktu, ataupun ketika saya sekadar ingin berjalan-jalan bersama teman-teman.

Oleh karena itu, saya telah melihat banyak sekali “kisah” di dalam KRL, kisah dari mereka yang menjadikan KRL sebagai bagian dari rutinitas. Mereka yang rela berangkat ketika subuh baru menetas demi tidak berdesak-desakan di dalam kereta. Mereka yang harus pulang lebih awal ataupun lebih larut agar tidak harus “berjumpa” dengan jam-jam sibuk kereta di sore hari.

Sejujurnya, saya selalu kagum oleh mereka yang sanggup menjadikan itu sebagai “makanan” sehari-hari. Saya yang belum sampai setahun saja sudah dibuat lelah dan terkadang tak tahan akan semua itu. Lantas, bagaimana dengan mereka yang mungkin telah melaluinya dari waktu ke waktu?

Naik KRL berarti harus tabah dan sabar

Menurut saya, jika dibandingkan dengan teman-temannya sesama transportasi umum, KRL memang transportasi yang paling menuntut ketabahan. Jika ketabahan yang dimaksud dalam sajak Sapardi adalah tabah menunggu sesuatu yang tidak ada (hujan di bulan Juni), tabah dalam menaiki KRL maksudnya adalah tabah dalam menunggu datangnya kereta yang terkadang cepat terkadang (agak) lama.

Baca Juga:

Resign karena Nggak Kuat Menghadapi Stasiun Manggarai Adalah Alasan yang Masuk Akal, Bukan Lemah 

Madiun, Kota Kecil yang Sudah Banyak Berbenah kecuali Transportasi Publiknya

Tak berhenti sampai di situ, naik KRL berarti harus tabah pula berdesak-desakan dengan penumpang lain di jam sibuk. Kita juga harus berpegal ria karena tak mendapatkan tempat duduk meski stasiun yang dituju berjarak sangat jauh seperti hubungan kamu dengan gebetan.

Sementara apabila dibandingkan dengan transportasi umum lain, misalnya, Transjakarta, situasinya memang terkadang cukup serupa. Akan tetapi, entah mengapa bagi saya keadaan di Transjakarta tidak se-“menyiksa” seperti di dalam KRL. Saya tidak tahu penyebab pastinya, tetapi kalau boleh menduga-duga, mungkin ada saja faktor psikologis yang berperan.

Sebagai contoh, ketika menaiki Transjakarta, penumpang bisa melakukannya sembari menikmati pemandangan jalanan kota. Bagi indra penglihatan, hal ini cukup menghibur dan sejenak dapat membuat saya melupakan fakta bahwa saya tengah berada dalam situasi terhimpit penumpang lainnya.

Nah, di dalam KRL, kemampuan saya untuk dapat menikmati panorama kota jadi lebih terbatas karena kecepatan kereta yang cukup menyulitkan pandangan saya untuk “melihat-lihat”. Ngerti, kan, maksud saya? Pokoknya andai saya memilliki refleks super cepat seperti The Flash, saya pasti tidak akan membahas permasalahan yang satu ini.

Kemudian, kalau berbicara mengenai JakLingko, saya telah cukup banyak berbicara mengenai transportasi tersebut dalam artikel yang pernah saya tuliskan di sini. Akan tetapi secara keseluruhan, saya tetap menyimpulkan bahwa level ketabahan pejuang KRL masih lebih tinggi daripada penumpang JakLingko.

Tempat berkumpulnya orang tabah

Setelah menjadi warga Jabodetabek selama kurang lebih satu tahun, saya dapat mengatakan bahwa Jakarta (dan wilayah sekitarnya) adalah tempat berkumpulnya orang-orang tabah. Kalau boleh meminjam ungkapan seorang teman saya, maka Jakarta adalah tempat bagi mereka yang menjunjung tinggi istilah “perintis, bukan pewaris”.

Para pejuang KRL adalah mereka yang saya maksud. Demi menciptakan kehidupan yang lebih baik, atau setidaknya, dapat terus bekerja, mencari uang, dan “bertahan hidup”, mereka harus berdesak-desakan di dalam sebuah kendaraan bermesin yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka sehari-hari.

Memang hal semacam ini tidak akan terasa relate bagi semua orang. Ini adalah semacam curhatan berisi uneg-uneg yang baru bisa dipahami sepenuhnya oleh mereka yang benar-benar merasakannya. Ya, siapa lagi kalau bukan para pejuang KRL, sang orang-orang tabah di tengah kerasnya kehidupan ibu kota.

Jadi, mana yang lebih tabah? Hujan bulan Juni atau para pejuang KRL?

Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Merasakan Tua di Jalan: Naik KRL Transit Manggarai Harus Bayar Pakai Mental Health.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2023 oleh

Tags: drama krlKRLtransportasi publiktransportasi umum
Bintang Ramadhana Andyanto

Bintang Ramadhana Andyanto

Anak negeri. Tukang ngopi. Pakar senjalogi.

ArtikelTerkait

Tidak Ada yang Salah dengan Merantau ke Kota Kecil terminal mojok.co

Cerita Ketika Bepergian: Berangkat Terasa Lebih Lama, Pulang Terasa Lebih Cepat

25 September 2019
Perlintasan KRL Pasar Minggu Problematik dan Menguji Kesabaran

Perlintasan KRL Pasar Minggu Problematik dan Menguji Kesabaran

10 November 2023
Tips Bawa Sepeda Naik KRL Jogja-Solo

Tips Bawa Sepeda Naik KRL Jogja-Solo

8 November 2022
Kereta Api Jauh Lebih Unggul dari Bus Meskipun Tiketnya Mahal (Unsplash)

Kereta Api Lebih Akan Selalu Lebih Unggul dari Bus Meskipun Harga Tiketnya Lebih Mahal

3 Mei 2025
5 Alasan Punya Mobil Pribadi di Jakarta Itu Sekarang Sudah Nggak Worth It

5 Alasan Punya Mobil Pribadi di Jakarta Itu Sekarang Sudah Nggak Worth It

3 Mei 2025
Alasan Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Dihindari oleh Perempuan Mojok.co

Alasan Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Dihindari oleh Perempuan

17 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah Mojok.co

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah

26 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah yang Jadi Sarang Tikus (Unsplash)

Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah: Ketika Rumah Tua Berubah Menjadi Sarang Tikus

21 Juni 2026
Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan Mojok.co

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan 

25 Juni 2026
Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

23 Juni 2026
Ikut Organisasi Mahasiswa Itu Sah-sah Saja, asal Siap Keluar Duit Lumayan organisasi kampus

Rapat Organisasi Kampus: Belajar Berorganisasi atau Cuma Belajar Boros?

23 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.