Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Tak Ada Kata ‘Aja’ di Menu Selera Pilihanmu

Rode Sidauruk oleh Rode Sidauruk
22 Agustus 2019
A A
menu

menu

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, sebelum mengenal dunia perantauan dan masih tinggal dengan orangtua, saya hampir tak pernah makan di luar bersama teman-teman. Saat ada jadwal ngemall atau jalan keluar, saya akan usahakan untuk makan dulu dari rumah agar di luar nanti tak perlu memesan makanan apapun. Selain karena saya ingin hemat, saya memang tak terlalu nyaman mencicipi masakan yang bukan olahan ibu saya.

Dan sekarang, semua tak lagi sama. Dunia rantau mengajarkan saya untuk siap menguyah jenis makanan apapun kalau ingin bertahan hidup—kecuali jika saya ingin masuk UGD ketemu dokter cakep dan mengakhiri hidup dengan cara tak pantas—kelaparan.

Mungkin, setelah lebih kurang 3 tahun saya berpisah dengan masakan ibu saya, masak adalah pekerjaan yang bisa dihitung pakai belasan jari saya. Selebihnya, yah saya beli di luar. Entah itu dari warteg, warpeclel (warung pecel lele), angkringan, atau warung pinggir jalan lainnya. Kalau sedang makmur-jaya-sentosa, saya bisa sesekali ke cafe, mall, atau tempat makan sekelasnya di sekitar Jatinangor atau Bandung.

Untuk urusan makan di luar, sebenarnya saya lebih suka sendiri. Tapi, perasaan takut ditangkap basah karena sendirian membuat saya pikir ulang yang berujung pada “Bungkus, yah, Teh.”

Urusan memilih teman yang bisa diajak makan di luar, sebenarnya hal yang krusial buat saya. Bagaimana tidak? Saya tak enak saja mereka merasa tak nyaman dengan saya yang punya selera dan pantangan aneh ini. Kalau orang lain akan melemparkan kata terserah saat ditanya mau makan di mana, saya akan dengan senang hati memutuskan mau makan di mana—kecuali kalau saya sudah benar-benar buntu mau makan di mana.

Perihal makan di mana mungkin tak akan sulit bagi saya dan teman saya—jika kami memang sudah berada pada visi dan misi yang sama. Namun, ujian selanjutnya menanti. Pilih menu.

Setelah di mana terjawab, pertanyaan apa akan menghantui siapapun, bukan? Saya salah satunya, apalagi karena saya sangat picky—menyesuaikan pantangan, sehat-tidaknya, selera, dan pastinya harga.

Pernah suatu ketika, saya makan dengan seorang teman di cafe lumayan besar, dan yang kami minta mendampingi makanan yang kami pesan adalah air putih. Kalian tahu? Pelayannya langsung bertanya, “air putih aja, mbak?” seolah-olah air putih adalah sesuatu yang sangat aja. Hmm, kami langsung mengiyakan dengan tegas dan bersikap sedikit tak peduli—padahal peduli. Lah kan kami cari yang sehat, abis makan makanan yang mengandung minyak dan manis, masa mau minum kopi? Ya, tergantung selera saja.

Baca Juga:

Ulukutek Leunca, Makanan Sunda Paling Nggak Normal dan Rasanya Bikin Pusing Pendatang 

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

Ternyata, setelah mendapatkan bill, saya baru ngeh kalau air putih itu tak termasuk dalam daftar menu yang ada nilai rupiahnya. Alias gretong. Pantesan di-aja-in sama pelayannya. Dia kira kami kikir atau tak mampu beli yang bukan air putih kali yah?

Tak hanya itu, pernah saat saya beli minuman booba dengan adik saya, trus kami hanya beli satu dan dia melontarkan pertanyaan aja lainnya, “satu aja, mbak?” karena dia melihat ada dua sosok manusia di hadapannya. Lah, apa salahnya kami hanya beli satu? Kami memang saat itu sedang berhemat dan first timer minum-minuman booba jenis lain. Jadi, daripada takut zonk, ya kami memilih tak mau ambil risiko besar. Dan benar saja, semua tak seindah yang dibayangkan. Menyesal? Tentu saja tidak. Kan belinya satu. hehe

Sepertinya balada ikut-campur-dengan-menu-pesanan-konsumen sudah menjadi budaya baru di negeri ini. Padahal kan selera orang beda-beda? Kita hanya tak tahu apa yang sedang mereka lalui, alami, sukai, dan hindari. Kenapa harus berkomentar?

Komentar-komentar seperti “aja”, “kok”, atau jenis lain itu hanya akan membuat si konsumen merasa tak percaya diri pada pilihannya—dan siapa yang tahu kalau besok dia tak datang lagi ke tokomu atau memaksa menjadi orang lain memesan menu termahalmu dengan perasaan tak nyaman dan berujung pada penyakit?

Hargai saja pilihan konsumen, dia tahu apa yang dia suka dan dia mau lebih dari ke—sok—tahuanmu itu. Toh, dia juga akan menghargai pesanannya di meja kasir. Entah itu air putih atau teh manis dingin, kalau sudah menjadi selera turun-temurun, nggak akan bisa diganti dengan moccacino atau latte-lattean di gelas kecil dengan ukiran love di atasnya. Entah itu beli satu atau dua, kita tak tahu berapa banyak gula yang sedang dia kurangi karena penyakitnya. Berhenti membuat kami tak nyaman saat memesan menu kami. (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2019 oleh

Tags: CurhatkonsumenMakananmenupantangan makananselerasok tahu
Rode Sidauruk

Rode Sidauruk

ArtikelTerkait

kaos band

Tipe-Tipe Orang Berdasarkan Kaos Band yang Dipakai

13 Agustus 2019
pasal

Menghakimi Status di Instastory: Pasal Mana Pasal?

19 September 2019
Wonogiri dan Gunungkidul, Saudara Kembar Beda Nasib

10 Makanan Legendaris Kota Wonogiri selain Mi Ayam

22 November 2022
additional player

Jadi Additional Band Player Itu Nggak Ada Enaknya

22 Juli 2019
Sate Kere: Kuliner Khas Solo yang Dulu Dipandang Sebelah Mata, Sekarang Jadi Primadona

Sate Kere: Kuliner Khas Solo yang Dulu Dipandang Sebelah Mata, Sekarang Jadi Primadona

25 Oktober 2023
Saya Nggak Tau Seenak Apa Nasi Blue Band, tapi Nasi Jelantah dan Garam Juga Enak mojok.co

Alternatif Olahan Nasi Sisa Biar Nggak Mubazir

30 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026
Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

11 Maret 2026
Embek-Embek Makanan Khas Tegal Paling Mencurigakan, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba Mojok.co

Embek-Embek Makanan Khas Tegal yang Nama dan Rasanya Sama-sama Aneh, Pendatang Sebaiknya Jangan Coba-coba

12 Maret 2026
Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar Mojok.co

Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar

13 Maret 2026
Bisnis Mobil Rental: Keuntungannya Selangit, Risikonya Juga Selangit rental mobil

Rental Mobil demi Gengsi Saat Pulang Kampung Lebaran Adalah Keputusan yang Goblok

12 Maret 2026
Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

8 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.