Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Novandi Ali Akbar oleh Novandi Ali Akbar
8 Maret 2026
A A
Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Share on FacebookShare on Twitter

Kota Purwokerto kini memiliki predikat sebagai kota ternyaman selain Yogyakarta. Predikat ini disampaikan oleh seorang komika kawakan Pandji Pragiwaksono yang mengatakan bahwa Purwokerto nggak istimewa, tapi nyaman.

Namun tampaknya predikat ini belum ditopang dengan fasilitas yang memadai, terkhusus untuk para pelancong yang ingin menikmati kota Purwokerto dengan berjalan kaki. Padahal jika dibandingkan dengan daerah di sekitarnya, memang tampak bahwa Purwokerto merupakan kota paling maju.

Dengan sapaan Kota seribu curug bukankah sebaiknya Purwokerto mengembangkan akses yang baik bagi para pelancongnya, misalnya dengan meningkatkan fasilitas seperti kendaraan umum dan trotoar. Dengan pengembangan tersebut, pelancong dari berbagai daerah akan semakin tertarik dengan Kota Purwokerto.

Sebagai pendatang saya merasa betul bahwa kota ini tidak ramah bagi pejalan kaki. Sebab, jarang sekali ditemukan trotoar di pinggir jalan. Jika pun ada, pasti sudah dimanfaatkan untuk para kapitalis kecil.

Trotoar di Purwokerto tidak berjalan seperti semestinya

Ketenangan Purwokerto tidak berjalan baik bagi para pejalan kaki yang tidak bisa berjalan secara bebas di trotoar. Beberapa trotoar yang ada di Purwokerto dijadikan tempat ladang duit bagi para pelaku parkir liar dan tidak jarang juga dijadikan lahan untuk orang berjualan. Dengan merambahnya street coffee yang menggunakan kursi dan meja pendek di trotoar menjadikan para pejalan kaki harus menunduk untuk lewat atau bahkan berjalan memutar, terutama Ketika malam hari.

Apabila terdapat trotoar yang dapat digunakan dengan baik, namun tidak dibarengi dengan pohon sebagai peneduh disiang hari. Belum lagi dengan guilding blocks (ubin kuning) yang kerap kali hilang dan terputus entah kemana, bahkan ada yang tertutup gerobak atau bahkan mengarah ke tiang listrik.

Pertanyaannya adalah, apakah tata ruang Purwokerto telah menyediakan ruang ekonomi yang layak bagi kelas menengah bawah? Jika dirapikan, itu bukan menjadi jawaban, tapi menimbulkan masalah bagi pejalan kaki di blok-blok lain di Purwokerto.

Purwokerto didesain untuk memanjakan kendaraan pribadi

Jika Anda berjalan-jalan di Purwokerto, Anda akan sadar bahwa tidak semua daerah terdapat trotoar, karena hanya terdapat di beberapa daerah. Setelah mengitari Purwokerto, menurut saya trotoar bagus ada di daerah sekitar kampus misalnya di Kawasan Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed, di komplek kulineran Kebondalem, dan sepanjang Jalan HR. Bunyamin, serta Jalan Overste Isdiman.

Baca Juga:

Hal-hal yang Membuat Saya Sedikit Menyesal Masuk Prodi PAI UIN Saizu, meski Tidak Sampai Ingin Pindah Kampus

Masuk UIN Saizu Purwokerto yang Saya Benci setelah Ditolak Kampus Impian Bukanlah Akhir dari Segalanya

Meskipun ada beberapa daerah yang terdapat trotoar jalan, tapi tidak senyaman beberapa yang sudah saya sebutkan.

Unsoed menjadi kampus yang cukup memperhatikan pejalan kakinya. Ini perlu diikuti oleh beberapa kampus yang ada di Purwokerto, karena selain pelancong yang ingin melihat kampus-kampus di Purwokerto, mahasiswa juga butuh trotoar untuk pergi ke kampus. Hal yang mungkin remeh-temeh, tapi bagi isu yang diskriminatif bagi para mahasiswa yang berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan pribadi.

Ada kesan bahwa Purwokerto memang tidak terlalu memikirkan para pejalan kaki. Banyak sekali ditemukan kendaraan pribadi mengisi penuh jalanan jika Anda menyusuri Kota Purwokerto. Belum lagi dengan merambahnya ojek online yang dalam satu sisi membantu ekonomi para umkm, warga, dan driver itu sendiri. Tapi di sisi lain, menjadi pisau bermata dua yang mengakar di aspal Purwokerto.

Refleksi para pelaku usaha yang enggan juga sadar

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya para pelaku usaha memang haruslah sadar akan kepentingan umum selain mementingkan isi dompetnya sendiri. Salah satunya dengan menyediakan lahan parkir sendiri di depan atau samping rukonya. Bukannya menjorokkan bangunan ruko ke trotoar bahkan hingga bahu jalan, karena sudah pasti akan dimanfaatkan para pelaku parkir liar.

Bagi pejalan kaki rasanya akan gundah ketika melihat bangku atau meja untuk nongkrong dan makan berada di pipir trotoar. Mau lewat tidak enak, juga mau memutar tertutup lahan parkir liar. Maka pejalan kaki harus sabar, karena mereka tidak bisa terbang melewati ruko para pelaku usaha yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Jika tidak sabar pejalan kaki harus melewati bahu jalan, dan saya sarankan untuk berhati-hati karena banyak kendaraan yang berlalu-lalang.

Paradoks mengenai pembangunan dan pemeliharaan trotoar yang belum sempurna oleh pemerintah daerah, juga berdasar kepada kesadaran diri dari para pelaku usaha swasta yang harus sadar akan tanggung jawabnya untuk tidak mengambil hak para pejalan kaki, adalah masalah yang harus diselesaikan oleh Purwokerto. Yah, kota nyaman harusnya dirasakan oleh semua kalangan, bukan begitu?

Penulis: Novandi Ali Akbar
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2026 oleh

Tags: banyumaspurwokertotrotoar purwokertounsoed
Novandi Ali Akbar

Novandi Ali Akbar

Mahasiswa semester 6 Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri. Anggota pers kampus yang ingin jadi jurnalis profesional. Menaruh perhatian pada isu-isu sosial.

ArtikelTerkait

3 Keistimewaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang Tak Dimiliki Kampus Lain

3 Keistimewaan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang Tak Dimiliki Kampus Lain

27 Mei 2025
Purwokerto, Purwakarta, Purworejo- Dilema karena Sebuah Nama (Unsplash.com)

4 Rekomendasi Warung Bakso Paling Enak Di Purwokerto

24 Desember 2022
5 Rekomendasi Menu Roen Bakery Purwokerto yang Legendaris dan Wajib Dibawa Pulang Mojok.co

5 Rekomendasi Menu Roen Bakery Purwokerto yang Legendaris dan Wajib Dibawa Pulang

21 Agustus 2025
Penyakit Orang Ngapak yang Malu Menuturkan Bahasa Ngapak

Istilah “Adoh Ratu Perek Watu”, Penyebab Orang Malu Menuturkan Bahasa Ngapak

15 Juli 2023
Saatnya Purwokerto Memisahkan Diri dari Kabupaten Banyumas (Unsplash)

Saatnya Purwokerto Memisahkan Diri dari Kabupaten Banyumas

31 Januari 2023
5 Hal Menyenangkan di Purwokerto yang Bikin Betah

5 Hal Menyenangkan di Purwokerto yang Bikin Betah

27 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL Mojok.co

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

21 Juni 2026
Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
Ikut Organisasi Mahasiswa Itu Sah-sah Saja, asal Siap Keluar Duit Lumayan organisasi kampus

Rapat Organisasi Kampus: Belajar Berorganisasi atau Cuma Belajar Boros?

23 Juni 2026
Sisi Gelap Budak Elite di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta (Unsplash)

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

20 Juni 2026
Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan Mojok.co

Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan

23 Juni 2026
Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa Mojok.co

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

19 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.