Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sisi Gelap Purwokerto, Kota Seribu Curug yang Membuat Wisatawan Tidak Mau Kembali

Siti Isticharoh oleh Siti Isticharoh
3 Maret 2026
A A
Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada kompetisi kota yang punya kepribadian ganda paling unik di Jawa Tengah, mungkin Purwokerto pemenangnya. Kota ini memanjakan siapa saja yang menyukai wisata air. Namun, di sisi lain, ia tidak punya daya untuk membereskan sisi gelap yang membuat wisatawan tidak mau kembali.

Ya, Purwokerto punya julukan Kota Seribu Curug. Begitu banyak wisata curug di bawah lereng Gunung Slamet. Kondisi ini menjadikan Purwokerto sebagai tempat yang mewah untuk wisata air. Kamu bisa memilih sendiri curug mana yang cocok dengan selera. Bisa memilih adalah sebuah kemewahan. 

Namun, di sisi lain, Purwokerto seperti tak berdaya untuk mengatasi salah satu masalah yang mengancam kenyamanan wisatawan. Yang saya maksud adalah perkara parkir liar. Bahkan saya nggak membahas parkir di tempat wisata. Sejak di dalam kota, fenomena parkir liar sudah menjadi ancaman. Karena yang terjadi, peluit tukang parkir terdengar lebih sering daripada bunyi klakson kendaraan.

Masalah Purwokerto sejak dalam kotanya

Purwokerto punya banyak kelebihan yang membuatnya memang pantas mendapatkan segala ulasan positif. Suasana dalam kota, hingga tempat wisata, semuanya memanjakan mata. Namun, sampai di titik ini saya malah heran.

Heran karena sudah banyak ulasan positif yang masuk ke Purwokerto. Yang tentunya, dibarengi oleh berbagai ulasan negatif. Karena hanya ada sedikit, kenapa ulasan negatif ini tidak segera mendapatkan penanganan? Iya, yang saya maksud adalah parkir liar. 

Kalau ngomong sisi utara, Purwokerto adalah surga. Di bawah payung Gunung Slamet, air terjun atau curug bertebaran. Kamu bisa dapet oksigen murni, pemandangan hijau, dan suara air yang bikin tenang. Tapi, begitu ban motormu menyentuh aspal kota, suasananya berubah dari zen jadi shocking.

Dari Kota Seribu Curug, masuk ke Kota Seribu Parkir Liar

Kamu bakal belajar ilmu gaib tingkat tinggi. Purwokerto adalah tempat di mana tukang parkir liar punya jurus genjutsu. Pas kamu datang, ruko atau minimarket itu kosong, sepi, seolah cuma ada kamu dan Tuhan. 

Tapi, begitu kamu narik standar samping mau pulang, tiba-tiba muncul sosok dari balik tiang listrik sambil niup peluit “Yak, mundur… terus… yak, opp!”

Baca Juga:

7 kuliner Purwokerto yang menurut saya pantas dikenal lebih banyak orang, jangan jajan mendoan melulu

Hal-hal yang Membuat Saya Sedikit Menyesal Masuk Prodi PAI UIN Saizu, meski Tidak Sampai Ingin Pindah Kampus

Saya perlu menegaskan satu hal penting di sini. Jadi, saya yakin kalau masyarakat itu nggak masalah kalau harus membayar parkir. Misalnya, Rp2 ribu untuk motor dan Rp3 ribu untuk mobil. Namun, yang menjadi keberatan adalah status mereka yang liar. 

Seakan-akan masyarakat terpaksa untuk membayar sejumlah uang kepada entitas yang nggak jelas. Siapa yang akan menikmati? Lari ke mana uang masyarakat? Jadi apa uang pungutan liar ini? Semua itu tanpa kejelasan.

Ironi beda “ongkos” menikmati dua dunia di Purwokerto

Di Curug, kamu mungkin hanya butuh bensin dan usaha buat tracking. Tanpa harus membayar parkir. Lalu, kamu akan mendapatkan kesegaran jiwa yang nggak ternilai.

Di dalam kota, dari ATM, warung burjo, sampai toko kelontong yang cuma kamu singgahi 30 detik buat beli permen, harus bayar. Ironis sekali, kamu nggak butuh bayar untuk mendapatkan kesegaran jiwa. Tapi, untuk singgah 30 detik, kamu kudu bayar. Ini aneh sekali.

Rasanya, populasi tukang parkir liar di Purwokerto tumbuh lebih subur daripada jamur di musim hujan. Bahkan ada semboyan lokal “Luput mendoan, kenang parkir.” Artinya: Lolos dari godaan mendoan, kena jebakan parkir.

Baca juga: Purwokerto Layak Mendapat Penghargaan Anumerta Sebagai Kota Pungli Terbaik di Indonesia

Makan gaji buta

Selain tidak jelas ke mana larinya uang masyarakat, kami sebal karena tukang parkir liar di Purwokerto itu nggak kerja. Mereka makan gaji buta. Sudah membayar, tapi mereka nggak membantu kami mengeluarkan sepeda motor. Nilai uangnya nggak seberapa, tapi bikin emosi tak terkira.

Sebagai warga purwokerto, saya menyayangkan hal ini. Pesona Kota Seribu Curug mulai tersaingi oleh reputasi Kota Seribu Tukang Parkir Liar. Ada rasa getir saat menyadari bahwa biaya parkir dalam sehari mungkin bisa buat beli dua bungkus mendoan anget. 

Jadi, kalau kamu berencana main ke sini, saran saya cuma satu. Siapkan uang kecil sebanyak mungkin. Karena di Purwokerto, tanah kosong pun siapa tahu ada tukang parkirnya. Mau nggak mau harus bayar, karena fenomena negatif ini seakan dibiarkan saja.

Penulis: Siti Isticharoh

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Menghitung Penghasilan Tukang Parkir Purwokerto, Ternyata Bisa untuk Beli Honda Brio

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Maret 2026 oleh

Tags: curug Purwokertoparkir liarpurwokertoPurwokerto kota seribu curugtukang parkir liartukang parkir liar Purwokertowisata purwokerto
Siti Isticharoh

Siti Isticharoh

Mahasiswa yang sibuk memikirkan tugas dan ingin keliling dunia lewat tulisan.

ArtikelTerkait

Sisi Gelap Purwokerto yang Membunuh Wisatanya Sendiri (Unsplash)

Purwokerto Murah? Murah untuk Siapa? Kenapa Warga Asli Tidak Merasakannya?

27 Maret 2026
4 Makanan Khas Purwokerto yang Pantas Jadi Oleh-oleh selain Keripik Tempe dan Nopia, Sayangnya Tidak Banyak Wisatawan Tahu Mojok.co

4 Makanan Khas Purwokerto yang Pantas Jadi Oleh-oleh selain Keripik Tempe dan Nopia, Sayangnya Tidak Banyak Wisatawan Tahu 

14 Juli 2025
5 Kuliner Khas Banyumas yang Wajib Dicoba Terminal Mojok

Selamat Hari Jadi Kabupaten Banyumas: Jalan Rusak, Macet, dan Kemiskinan Masih Menghiasi Kota Satria

21 Februari 2023
Panduan Menjadi Pendatang yang Cepat Betah di Purwokerto (Unsplash) ngapak

Purwokerto Tidak Pernah Biasa Saja: Setelah Paksel, Hadirlah Paksu alias Ngapak Sunda

7 September 2025
Perkara Oleh-Oleh dan Kuliner, Sawangan Purwokerto Lebih Istimewa daripada Sokaraja Mojok.co

Perkara Oleh-Oleh dan Kuliner, Sawangan Purwokerto Lebih Istimewa daripada Sokaraja

28 Juni 2024
Selama ada ABC Swalayan Warga Purbalingga akan Baik-baik Saja Nggak Punya Mall Mojok.co

Selama Ada ABC Swalayan, Warga Purbalingga akan Baik-baik Saja Nggak Punya Mall

9 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

30 Juli 2026
Suka knalpot brong indikasi sadisme, psikopat, dan narsisme (Wikimedoia Commons)

Kenapa sih kita gampang banget emosi lalu ngamuk kalau ada orang blayer-blayer knalpot brong?

29 Juli 2026
3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal Mojok.co

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal

26 Juli 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park memang bukan tempat wisata termurah, tapi Jatim Park jelas adalah tempat wisata terbaik, paling worth it, dan masih affordable, kok

30 Juli 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026
Jaga ikhtiar Bupati Klaten beresin borok PD BKK Klaten (Pexels)

Yang paling penting adalah jagain ikhtiar Bupati Hamenang menyelesaikan luka lama yang dibikin PD BKK Klaten

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.