Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Hal-hal yang Membuat Saya Sedikit Menyesal Masuk Prodi PAI UIN Saizu, meski Tidak Sampai Ingin Pindah Kampus

Arif Nur Akwan oleh Arif Nur Akwan
23 Juni 2026
A A
UIN SAIZU, Kampus Ngapak Terbaik di Purwokerto PAI UIN Saizu

UIN SAIZU, Kampus Ngapak Terbaik di Purwokerto (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Saizu bukanlah keputusan yang saya sesali sepenuhnya. Kalau disuruh mengulang waktu, mungkin saya tetap akan memilih kampus yang sama. Hanya saja, setelah beberapa semester menjalaninya, saya menyadari ada beberapa hal yang tidak pernah diceritakan dalam brosur kampus maupun cerita manis para senior.

Hal pertama yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi adalah soal biaya UKT. Dengan nominal sekitar Rp4,6 juta per semester, saya sempat membayangkan fasilitas yang benar-benar memanjakan mahasiswa. Sayangnya, kenyataan tidak selalu seindah ekspektasi. Apalagi Purwokerto bukan kota dengan standar upah yang tinggi.

ADVERTISEMENT

Bagi sebagian mahasiswa yang berasal dari keluarga biasa, angka tersebut jelas tidak kecil. Kadang saya bertanya-tanya, apakah biaya yang dikeluarkan benar-benar sebanding dengan fasilitas yang didapat?

Itu baru satu, sebenarnya, ada beberapa hal yang bikin saya agak gimana gitu kuliah di PAI UIN Saizu.

Ketika diskusi kelas berubah menjadi adu prompt AI

Hal lain yang membuat saya cukup prihatin adalah suasana belajar yang terasa stagnan. Diskusi kelas yang seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran justru sering berubah menjadi sesi membaca hasil olahan AI. Saya tidak anti teknologi. Saya sendiri memanfaatkannya.

Namun, ketika mahasiswa lebih rajin mencari prompt daripada membaca referensi dan berpikir mandiri, rasanya ada sesuatu yang hilang dari dunia akademik. Diskusi yang seharusnya hidup malah terasa seperti lomba siapa yang paling pandai mengemas hasil salinan.

Tidak semua orang kuliah di PAI UIN Saizu karena ingin belajar

Saya juga menyadari bahwa tidak semua orang masuk kuliah karena benar-benar ingin belajar. Ada yang kuliah karena takut dianggap gagal jika tidak menyandang status mahasiswa, ada yang sekadar mengikuti teman, dan ada pula yang menjalaninya demi memenuhi harapan orang tua. Di PAI UIN Saizu pun tak luput dari masalah ini.

Akibatnya, sebagian mahasiswa hanya menjadikan kuliah sebagai formalitas. Datang ke kelas, mengisi presensi, lalu pulang tanpa benar-benar peduli dengan materi yang dipelajari. Seolah-olah gelar lebih penting daripada proses menjadi manusia yang berilmu.

Baca Juga:

7 kuliner Purwokerto yang menurut saya pantas dikenal lebih banyak orang, jangan jajan mendoan melulu

Masuk UIN Saizu Purwokerto yang Saya Benci setelah Ditolak Kampus Impian Bukanlah Akhir dari Segalanya

BACA JUGA: Menjadi Alumni UIN Itu Juga Beban, Terutama Jika Hidup di Desa

Nama kampus yang religius ternyata tidak menjamin segalanya

Hal yang juga membuat saya tersadar adalah bahwa label “kampus Islam” tidak otomatis menjamin seluruh penghuninya akan menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan orang lain. Nama besar dan identitas religius memang penting, tetapi pada akhirnya kampus tetap dihuni oleh manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan berbagai persoalan moral.

Saya belajar bahwa religiusitas tidak cukup hanya terpampang dalam nama institusi, tetapi juga perlu diwujudkan dalam budaya akademik dan perilaku sehari-hari.

Tugas segudang dan mimpi publikasi yang terlalu dini di PAI UIN Saizu

Kekecewaan lainnya datang dari sistem pemberian tugas yang saya alami selama kuliah di PAI UIN Saizu. Saya pernah melihat mahasiswa semester awal dibebani target yang menurut saya terlalu tinggi. Ada dosen yang menuntut mahasiswa mampu menerbitkan artikel di jurnal Sinta 4 demi mendapatkan nilai maksimal, padahal banyak mahasiswa yang bahkan masih belajar memahami cara menulis artikel ilmiah yang baik. Ambisi akademik memang penting, tetapi rasanya kurang bijak jika tuntutan besar tidak dibarengi dengan arahan dan pendampingan yang memadai.

Beban tugas yang menumpuk akhirnya melahirkan fenomena yang sebenarnya cukup menyedihkan: praktik joki tugas. Sebagian melakukannya karena malas, sebagian lagi karena merasa kewalahan. Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat melatih kemampuan berpikir justru terkadang berubah menjadi perlombaan menyelesaikan tugas secepat mungkin, apa pun caranya.

Saya tidak ingin pindah kampus, hanya ingin kampus ini lebih baik

Meski demikian, saya tidak sampai ingin pindah kampus. Hanya karena PAI UIN Saizu tidak sesuai dengan apa yang di pikiran saya, tak langsung saya pengin pergi. Sebab saya sadar, berbagai persoalan ini mungkin juga ditemukan di banyak perguruan tinggi lain. Saya hanya berharap Prodi PAI UIN Saizu dapat terus berbenah. Sebab mahasiswa tidak hanya membutuhkan ijazah, melainkan juga lingkungan yang sehat untuk bertumbuh, ruang diskusi yang hidup, serta pendidikan yang benar-benar mendidik, bukan sekadar menumpuk tugas dan mengejar formalitas.

Barangkali saya tidak benar-benar menyesal masuk PAI UIN Saizu. Saya hanya sedikit kecewa karena ternyata dunia perkuliahan tidak seideal yang saya bayangkan ketika pertama kali mengenakan jaket almamater.

Penulis: Arif Nur Akwan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2026 oleh

Tags: PAI UIN SaizupurwokertoUIN PurwokertoUIN SAIZU
Arif Nur Akwan

Arif Nur Akwan

Mahasiswa semester 2 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Suka latihan strengh training, terutama home workout/calisthenics.

ArtikelTerkait

Purwokerto dalam Ingatan Seorang Perempuan Hopeless Romantic (Unsplash.com)

Purwokerto dalam Ingatan Seorang Perempuan Hopeless Romantic

7 Oktober 2022
Purbalingga Bikin Warga Bangga karena Bisa Mengalahkan Purwokerto

Purbalingga Bikin Warga Bangga karena Bisa Mengalahkan Purwokerto

8 April 2024
Purwokerto, Kota Kecil Rasa Jakarta: Semakin Mahal dan Kekinian padahal Dompet Warganya Pas-pasan

Kelam di Balik Gemerlap Purwokerto: Upah Pekerja di Bawah UMR, Lembur pun Tak Dibayar dengan 1001 Alasan

12 Juni 2025
IPB Saya “Buang” demi Unsoed yang Katanya Nggak Terkenal (IG Unsoeda) fakultas teknik unsoed

IPB Adalah Kampus Impian Saya, tapi Saya Lebih Memilih Kuliah di Unsoed yang Katanya Nggak Terkenal Itu

13 September 2025
5 Rekomendasi Tempat Makan Enak di Purwokerto Berdasar Lidah Warga Lokal, Wisatawan Wajib Mencicipinya Mojok.co

5 Rekomendasi Tempat Makan Enak di Purwokerto Berdasar Lidah Warga Lokal, Wisatawan Wajib Mencicipinya

21 Juni 2025
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

27 Juli 2026
5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak cuma di situ-situ aja mojok

5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak di situ-situ aja

27 Juli 2026
Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi jasanya menandai hari jadi Klaten pada 28 Juli akan selalu diingat Mojok.co

Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi perannya untuk hari jadi Klaten akan selalu diingat

28 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Jangan bebani mahasiswa KKN dengan tugas yang harusnya dikerjakan negara

30 Juli 2026
Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering Mojok

Andai duit bukan masalah, saya mau merintis usaha katering rumahan

2 Agustus 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

31 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.