Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

Muhammad Nabil Alfarizi oleh Muhammad Nabil Alfarizi
11 Maret 2026
A A
Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya beri tahu sedikit tentang Pangalengan, bagi kalian yang belum pernah tahu daerah ini, atau baru mendengar nama tersebut pertama kali. Pangalengan, singkatnya, dingin. Amat dingin. Pagi-pagi kabut turun rendah, embun menempel pada pucuk daun teh. Lebih-lebih ketika musim kemarau berlalu, suhu dinginnya bisa sampai 8 derajat celcius sehingga embunnya menjadi kristal tipis bagai serpihan es. Sejauh mata memandang dan sejauh hati ini menatap, terlihat bagai kebun teh bak karpet hijau yang baru disetrika Tuhan. Romantis, kan?

Nahasnya, romantisme itu berhenti pada tataran pandangan pertama saja. Sebab tidak ada satu pun tempat yang menyediakan produk teh lokalnya. Saya sebagai anak kampung sini pun kesulitan pengen ngeteh hasil panen kampung sendiri. Sebab itu, budaya ngopi kami lebih kuat ketimbang budaya ngetehnya. Ironi? Tentu saja.

Pangalengan adalah salah satu kantong produksi teh penting di Jawa Barat. Perkebunan teh seperti Malabar dan Kertamanah sudah beroperasi sejak masa kolonial. Nama Malabar bahkan tidak bisa dilepaskan dari sosok Karel Albert Rudolf Bosscha, pengusaha Belanda yang pada akhir abad ke-19 mengembangkan perkebunan teh di Pangalengan. Dari keuntungan teh itulah kemudian lahir dukungan finansial untuk pembangunan Observatorium Bosscha di Lembang pada 1920-an.

Pangalengan menghasil teh yang ikut membiayai ilmu pengetahuan.

Per hari ini, produksi teh dari kawasan Pangalengan sebagian besar berada di bawah pengelolaan PTPN I Regional 2. Daun-daun yang dipetik di Pangalengan diolah menjadi teh hitam dan dikirim ke negara seperti Rusia dan United Kingdom. Sebagian masuk ke industri dalam negeri, di-blending, dikemas ulang, lalu tersedia di minimarket dengan merek yang tidak lagi menyebut Pangalengan sebagai asal-usul tehnya.

Membayangkan bisa menyeduh teh hasil Pangalengan

Saya sering membayangkan hal yang sederhana saja, semoga itu pun terwujud. Sebuah kedai kecil di pinggir kebun. Bangku kayu. Seduhan teh hitam hasil kebun sendiri. Tidak perlu mewah atau Instagramable. Cukup ada tempat untuk duduk ngeteh dan menyadari bahwa teh yang diminum berasal dari tanah yang saya pijak.

Kembali lagi ke topik awal. Lagi-lahi soal ironi, Pangalengan juga penghasil kopi kendati lahannya tidak seluas perkebunan teh. Dataran tinggi Pangalengan menghasilkan Kopi Arabika Pangalengan yang begitu terkenal di kalangan specialty. Ketinggian 1.200-1.500 meter di atas permukaan laut membuatnya ideal. Dalam beberapa tahun terakhir, kopi Arabika Pangalengan membangun reputasi yang luar biasa, terkenal sampai mancanegara seperti Jepang. Sangat membanggakan sekali bukan?

Ironisnya, meski lebih tua, dan lebih mapan secara produksi, teh seakan tidak pynykesempatan untuk menjadi produk lokal, atau setidaknya, bisa dinikmati oleh warganya. Barangkali ini watak lama yang belum selesai, soal mentalitas produksi. Sejak zaman kolonial, warga di sini rajin menanam dan mengirim. Sampai ke beberapa negara. Warga di sini terbiasa menjadi pemasok bahan mentah. Jadi, nilai tambah, ceritanya, dan identitasnya itu terbentuk di tempat lain, bukan di Pangalengan.

Baca Juga:

Resep Teh Ginastel, Teh Racikan Wong Solo yang Ngangenin

Yang lebih menjengkelkan sebenarnya buka soal ada atau tidaknya kedai, melainkan cara kita memaknai hasil bumi sendiri. Acapkali kita begitu fasih menyebut angka produksi dan tujuan ekspor, tetapi gagap ketika harus membangun nilai tambah di kampung sendiri. Kita memperlakukan teh hanya sebagai komoditas, bukan kebudayaan.

Kebanggaan semu (?)

Akamsi cukup bangga aja. Cukup tahu bahwa kebun teh Pangalengan membentang luas ribuan hektare. Cukup tahu bahwa produksinya besar. Tapi untuk duduk santai dan menikmati secangkir teh dengan kesadaran penuh bahwa ini hasil tanah sendiri, itu seperti kemewahan yang tidak dirancang untuk akamsi itu sendiri. 

Sampai hari itu tiba, Pangalengan akan tetap menjadi penghasil teh yang rajin. Kami akan terus bangga meski tak bisa menikmati teh yang kami tanam.

Penulis: Muhammad Nabil Al Farizi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Pangalengan Bandung yang Katanya Indah bak Surga Dunia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: ekspor teh jawa baratpangalenganteh hitamteh pangalengan
Muhammad Nabil Alfarizi

Muhammad Nabil Alfarizi

Aktivis sosial yang tertarik pada isu pemberdayaan masyarakat, kerja-kerja komunitas, dan kehidupan warga di pinggiran. Sesekali turun ke lapangan, sering kali pulang bawa cerita. Memutuskan untuk lebih sering nulis daripada ngoding. Kadang suka jadi fotograper panggilan, lebih rajinnya selalu terlibat dalam kegiatan sosial.

ArtikelTerkait

Resep Teh Ginastel, Teh Racikan Wong Solo yang Ngangenin

Resep Teh Ginastel, Teh Racikan Wong Solo yang Ngangenin

13 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

3 Alasan Kuliah di Jatinangor Adalah Training Ground sebelum Masuk Dunia Kerja

18 Mei 2026
Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri Mojok.co

Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri

19 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.