Jadi Additional Band Player Itu Nggak Ada Enaknya

Tapi saya akhirnya mengiyakan ajakan teman saya ini. Dengan agak berat hati, saya menyanggupi untuk jadi additional vokalis di band teman saya.

Artikel

Avatar

Beberapa bulan lalu, saya tiba-tiba ditawari oleh band teman saya untuk jadi additional player di salah satu acara. Pikiran saya waktu itu adalah kalau tidak jadi additional bass, ya additional gitar. Posisi yang paling lumrah untuk digantikan lah. Bebannya juga gak terlalu berat kalau di posisi itu. Jarang dapat atensi yang lebih soalnya. Nggak terlalu diperhatikan juga sebenarnya.

Tapi perkiraan saya meleset jauh. Ketika saya tanya balik, “Additional apa nih?”, teman saya bilang untuk jadi additional vokal. Saya tanya balik, “Vokalismu kemana?”, dan jawabannya adalah, “Vokalisku liburan ke Bandung.” Dhuarrr. Tak kira sakit atau apa, ternyata lagi liburan. Band nggak niat emang ini.

Masalahnya, saya dan vokalis teman saya ini beda banget. Selain perbedaan karakter suara, vokalis yang saya gantikan sementara ini punya kharisma yang tinggi. Jauh lebih ganteng dan lebih keren dibanding saya. Dia itu yang putih, bersih, berkharisma, cakep lah pokoknya. Lha saya ini udah nggak ganteng, gelap luar dalam, menakutkan, jorok, jarang mandi, gondrong, kumal. Nggak pantas dijelaskan lagi lah pokoknya. Ibaratnya, kalau saya main jelek, yang kena lempar duluan ya pasti saya.

Saya sampai beberapa kali meyakinkan teman saya kalau pakai additional vokalis itu beresiko. Setidaknya bagi saya, nggak tahu lagi bagi mereka. Tapi teman saya itu ya santai-santai aja. Nggak pusing, bingung atau gimana. Saya juga sebenarnya nggak keberatan. Saya sih bisa-bisa aja. Lha wong tinggal hapalin lagunya, latihan sekali dua kali, beres. Tapi ya ada rasa nggak enak gitu loh. Beban broo.

Tapi saya akhirnya mengiyakan ajakan teman saya ini. Dengan agak berat hati, saya menyanggupi untuk jadi additional vokalis di band teman saya. Okelah, cuma satu panggung aja. Meskipun saya belum hapal semua lagu yang harus dibawakan. Saya cuma punya satu setengah minggu untuk menghapal lagu-lagu mereka yang susah banget, bahasa inggris lagi. Apalagi mereka mainnya musik emo yang vokalnya tinggi-tinggi. Pedhot guluku iki

Waktu kurang dari dua minggu itu saya kebut buat ngapalin lagu-lagunya. Kesempatan latihan juga cuma dua kali, itu pun sudah mendekati hari H. Ketika latihan juga gitu, masih meraba-raba. Mulai dari saya yang belum hapal lirik-liriknya, nadanya terlalu tinggi, sampai lagu-lagunya yang susah. Belum lagi ada rasa sungkan dan nggak enak ketika latihan.

Latihan pertama saya masih baca lirik di catatan dan masih sering salah. Saya juga sebenarnya belum hapal semua lagunya. Jadinya ada beberapa lagu yang nggak selesai ketika latihan. Meskipun teman-teman saya ini santai aja, tapi saya bisa lihat ada rasa mangkel dalam raut wajah teman-teman saya. Di akhir latihan pertama, teman saya menyuruh untuk latihan teriak-teriak, biar kuat ambil nada tinggi.

Baca Juga:  Ketika Game Online Menyerang, PES dan Winning Eleven Masih Menjadi Pilihan

Latihan kedua sudah cukup oke lah, saya sudah hapal semua lagu-lagunya. Tapi saya masih nggak kuat di nada-nada tinggi. Kalau saya paksa, ya jadinya jelek banget kayak orang gila teriak-teriak. Tapi kalau nggak dipaksa teriak juga nggak enak sama teman-teman. Soalnya lagunya tipikal yang teriak-teriak gitu. Muka-muka mereka juga sudah agak mangkel ketika itu. Walhasil saya ngalah aja, dari pada berantem. Saya coba sebisa mungkin untuk teriak di bagian-bagian yang memang harus teriak.

Meskipun nggak dituntut untuk sempurna, tapi saya merasa harus sempurna. Ya setidaknya sama atau mirip-mirip seperti vokalis yang saya gantikan sementara lah. Ada rasa nggrundel di hati gitu loh. Mau mundur juga nggak enak, terlanjur menyanggupi. Mau lanjut gaass juga berat banget. Tapi akhirnya ya gaass maju aja. Mau gimana lagi, nggak ada pilihan. Manggungnya itu dua hari setelah latihan kedua. Salah saya sendiri kok mengiyakan jadi additional. Udah tahu berat, tapi iya iya aja.

Akhirnya hari H tiba. Saya datang bersama teman-teman ke tempat manggung. Tempatnya ternyata kecil dan intimate gitu. Nggak ada jarak antara panggung dan penonton. Jadi kalau ada salah-salah atau semacam kesrimpet, ya ketahuan banget. Sejak masuk di tempat itu, pertanyaan dari orang-orang yang sering muncul ke teman saya adalah, “vokalismu ganti?” atau “kok vokalismu yang ini sekarang?” Pertanyaan seperti ini semakin menambah beban. Malam itu saya ndredek nggak karuan. Akhirnya, saya minum dulu saja. Biar nggak grogi-grogi amat.

Sialnya, kami main pertama. Mulai dari intro sampai lagu pertama masih aman. Saya hapal dan tidak lost control. Petaka datang di lagu kedua. Ketika masuk vokal, saya salah ambil nada. Ambyarr. Namanya juga pikiran lagi setengah sadar, saya juga setengah sadar kalau saya salah nada. Beruntung saya segera sadar kalau saya salah nada, dan saya nggak nyanyi lagi sampai bagian reff nya. Bukan hanya malu sama yang nonton, saya juga malu dan nggak enak sama teman-teman saya. Mereka sih senyum-senyum aja lihat saya salah nada. Entah apa maksudnya. Akhirnya lagu ketiga sampai lagu terakhir lancar, tapi saya tetap kepikiran tentang kesalahan saya itu.

Baca Juga:  Modus PDKT Ala Senior Kampus yang Harus Diperhatikan Mahasiswa Baru Ketika Ospek

Ya kalau yang salah personel aslinya sih oke-oke aja. Lha ini udah additional, pengganti, malah salah. Salahnya di vokal lagi. Waduhhh, kacau. Ya meskipun teman-teman lainnya santai aja, tapi saya yakin mereka pasti ada rasa mangkel, kok saya bisa salah sih. Tapi ya sudah lah. Toh kita tetap manggung dan dapat makan dan minum gratis. Beres lah.

Sejak kejadian itu, saya jadi mikir-mikir lagi misalkan diajak untuk jadi additional. Bebannya nggak cukup kuat ternyata buat saya. Atensinya nggak seberapa, harapannya yang berapa-berapa. Sudah tidak terlalu dapat perhatian, terus selalu dibanding-bandingkan dengan personel aslinya, belum lagi kalau bikin salah, pasti dijadikan sasaran amarah. Bebannya berlipat ganda broo. Mending saya bantu-bantu jadi kru aja deh, nggak apa-apa meskipun disuruh-suruh.

Kalau jadi kru kan meskipun tanggung jawabnya juga besar, setidaknya nggak kelihatan. Kan yang lebih disorot personelnya, bukan krunya. Jadi kalau ada salah-salah, pasti yang jadi “sasaran” penonton dan “netizen yang maha sempurna” kan personelnya, bukan krunya. Apalagi kalau yang melakukan kesalahan additional player, tambah nggak karuan. Bisa habis dimakan mulut penonton yang maha sempurna. Masih mending kalau cuma diejek, kalau dilempar sesuatu kan lain masalahnya. Udah bayarannya sebelas dua belas dengan kru, tanggung jawabnya dobel, badan pula jadi taruhan. Gila memang.

Saya jadi kepikiran, gimana ya rasanya jadi musisi yang bertahun-tahun hanya jadi additional player, ngganti si ini, ngganti si itu. Ya oke lah bayarannya lumayan, tapi pasti ada rasa nggak enak ketika manggung. Additional player ini pasti dituntut sempurna seperti personel aslinya. Selain itu kalau ada kesalahan, hampir pasti additional player ini dijadikan sasaran. Ya meskipun ada beberapa additional player yang bisa bertahan dan akhirnya jadi personel tetap di band. Tapi ya nggak banyak juga.

Tapi ya tetap saja, jadi additional player itu nggak enak dan berat. Belum lagi kalau jadi additional player dari band yang belum profit, sudah bebannya berat, mainnya susah, nggak dapat bayaran lagi. Mendingan jadi kru aja lah, meskipun disuruh-suruh, tapi bebannya nggak terlalu berat. Ya meskipun nggak dibayar, setidaknya dapat minum gratis sepuasnya. Hehehe.

---
389 kali dilihat

3

Komentar

Comments are closed.