Betapa Sucinya Orang yang Suka Mandi dan Betapa Hinanya Orang yang Jarang Mandi

Soal suci dan hina antara orang yang suka mandi dan jarang mandi ini memang sebaiknya harus dibahas di rapat DPR di Senayan.

Artikel

M. Farid Hermawan

Dasar manusia, sukanya menang sendiri, merasa paling suci sendiri dan merasa paling bersih sendiri ketika dirinya ngaku-ngaku sudah mandi di hadapan orang yang belum mandi.

Problematika kubu yang suka mandi dan jarang mandi ini nyatanya begitu penting dan urgent untuk ditelaah lebih dalam. Bagaimana tidak, nyatanya fakta di lapangan menunjukkan bahwa ada semacam kasta yang membedakan antara mereka yang ngakunya suka mandi dan mereka yang terlihat menikmati betapa jarangnya diri mereka mandi.

Fakta dilapangan soal adanya semacam kasta ini terjadi  lewat apa yang saya alami secara langsung selama masa KKN. Masa KKN yang saya lalui selama satu bulan memberikan banyak pelajaran tidak hanya soal bagaimana cara untuk lebih dekat dan berkontribusi secara nyata di masyarakat. Tetapi juga memberikan saya banyak pelajaran bahwa ada semacam intimidasi yang terorganisir di antara kubu yang suka mandi dan yang jarang mandi.

Pada hakikatnya mandi tentu menjadi aktivitas yang memang setiap hari kita lakukan. Tujuan utamanya pasti saja untuk membersihkan badan serta efek sampingnya membuat badan lebih segar. Namun yang membuat saya jengkel, masalah mandi ini sudah terlalu kelewat batas. Sudah bikin diri ini layaknya seonggok kotoran sapi yang hina di tengah rumah mewah yang baru saja di pel lantainya. Saat masa KKN,  jujur saya adalah salah satu anggota yang jarang mandi di antara beberapa anggota lainnya. Alasannya tentu saja karena saya merasa tidak terlalu perlu mandi tiga kali sehari dikondisi air yang pas-pasan di rumah yang saya tinggali selama masa KKN. Ditambah saya paham tingkat kekotoran tubuh saya.

Tapi namanya juga manusia yang senang melebih-lebihkan dan suka mengotor-ngototorkan hal yang tidak perlu. Masalah mandi seolah menjadi sesuatu yang sangat hina, menjadi sesuatu yang sangat urgent untuk diselesaikan ketimbang membenahi kemacetan di ibu kota atau mengatasi korupsi di negeri ini. Aktivitas jarang mandinya saya membuat kasta saya pada akhirnya berbeda dengan mereka yang lebih sering mandi. Saya hina dan mereka suci. Saya selalu diceramahi soal pentingnya mandi dan pentingnya menjaga tubuh agar tetap wangi. Yang saya sendiri pun sebenarnya tahu kunci dari semua itu, semprotkan saja parfum banyak-banyak maka selesailah urusan mandi atau tidaknya seseorang.

Baca Juga:  Cerita "Digoyang" 1000 Kali Gempa Ambon

Saat urusan kebersihan badan seolah menjadi sesuatu yang harus diperdebatkan dan dipermasalahkan. Manusia-manusia suci yang katanya suka mandi itu tidak menyadari bahwa aktivitas mandi secara rutin dalam sehari tidak menjamin kewangian tubuh, kesehatan badan atau kekayaan yang berlimpah. Pada dasarnya suka mandi atau jarang mandi itu adalah sama. Sama-sama akhirnya badan harus disemprot parfum supaya wangi. Mispersepsi ini yang sering salah kaprah bagi banyak orang. Bagaimana peran parfumlah yang menjadi penentu hasil akhir dari mereka yang sok suci sudah mandi dan mereka yang merasa hina akibat jarang mandi.

Jangan jadikan aktivitas rutin mandimu sebagai sebuah kesombongan, keangkuhan dan ria yang berujung dosa. Jikalau kamu sudah mandi ya sudah, nggak usah sok-sok an intimidasi kaya gini, “Eh, kamu belum mandi yah, iyuhh, sana mandi, manusia kok kotor banget!” jujur itu sangat menyakitkan wahai saudaraku. Bagi kaum yang jarang mandi, sebenarnya banyak alasan yang bisa ditanyakan mengapa mereka hanya mau mandi sekali sehari atau tidak mandi seharian. Masih ada kesempatan untuk mendengarkan alasan-alasan sebelum menghakimi mereka yang jarang mandi. Jangan menjadi manusia yang senang main hakim sendiri serta merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena urusan mandi.

Soal suci dan hina antara orang yang suka mandi dan jarang mandi ini memang sebaiknya harus dibahas di rapat DPR di Senayan. Bagaimana tidak, kalau dibiarkan ini akan meluas menjadi perseteruan semacam  cebong versus kampret. Masing-masing kubu merasa mau menang sendiri. Jangan sampai ada aksi gerakan mandi bersama di Monas yang dilakukan berjilid-jilid. Hingga aksi balasan dari kubu jarang mandi yang melakukan aksi sweeping peralatan mandi di toko-toko dengan alasan yang sederhana, mandi atau tidaknya seseorang adalah hak asasi manusia yang harus dihormati.

Jikalau nama Kimi Hime saja berhasil masuk menjadi bahasan rapat para anggota DPR. Mengapa hal urgent semacam perseteruan antara kubu suci mereka yang suka mandi dan kubu hina mereka yang jarang mandi tidak menjadi isi pokok bahasan para anggota DPR? Efeknya jika dilakukan pembiaran dalam kasus ini sangat berbahaya. Harus ada undang-undang yang mengikat untuk mencegah tindak intimidasi bagi mereka yang mengaku suci terhadap mereka yang merasa hina dalam urusan mandi.

Baca Juga:  Tren "Wajah Tua" FaceApp, Menjadi Tua Kok Bangga?

Urusan mandi yang tentu semua manusia tahu, pada kenyataannya tidak sesimpel naluri kita sendiri. Yang ketika merasa kotor barulah mandi atau ketika merasa masih bersih lebih memilih tidak mandi. Urusan mandi sudah menjadi suatu masalah yang kronis. Apalagi jika kedua kubu bertemu dalam satu atap.

Lantas, ketika bicara adil atau tidak adil. Setidaknya terlihat saya memihak kubu mana lewat tulisan ini. Tentu kalian pembaca sudah bisa menerka-nerkanya. Poin penting yang saya tekankan adalah kembali lagi jangan pernah merasa seperti orang suci yang harus dihormati, yang seenaknya berkata-kata tidak menyenangkan hanya karena diri sudah mandi. Dan tentu bagi kalian yang jarang mandi, mungkin kebiasaan tersebut bukanlah sesuatu yang membanggakan dalam struktur dan norma di masyarakat. Jadi jangan pernah merasa diri paling benar dengan argumen ilmiah soal keuntungan dari jarangnya aktivitas mandi kalian. Jangan mengeluarkan pembelaan sampah.

Hal utama yang harus kita jaga adalah bagaimana kita mencari jalan tengah di antara perbedaan yang sebenarnya sangat sepele yang sebenarnya bisa dicarikan jalan keluarnya sambil nongkrong di pojokan Alfamart.

Mandi dan segala hiruk pikuknya pada akhirnya bisa menjadi jurang pemisah antara persatuan dan perbedaan yang selalu coba dicari arti sejatinya oleh bangsa ini.

Duh, saya lupa. Bangsa ini kan adalah bangsa yang terkenal plural dan punya slogan Bhinneka Tunggal Ika. Kayaknya tidak perlu deh saya mempertanyakan arti mencari cara merekatkan kesatuan di tengah perbedaan. Tidak perlu kan? Mandi ya mandi aja lah. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
395 kali dilihat

6

Komentar

Comments are closed.