Jurusan Bahasa dan Sastra yang Selalu “Ditodong”, Lalu Dipinggirkan – Terminal Mojok

Jurusan Bahasa dan Sastra yang Selalu “Ditodong”, Lalu Dipinggirkan

Artikel

Avatar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa diartikan sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sedangkan sastra, adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Begitu menurut KBBI, tetapi dalam artikel ini tidak akan membahas bahasa dan sastra, tetapi mahasiswa jurusannya.

Kalian yang tergolong mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra, baik itu murni atau kependidikan, pasti merasa lulusan Bahasa dan Sastra ditodong dituntut untuk mau melakukan apapun. Contohnya kecilnya ketika Kuliah Kerja Nyata (KKN), magang, dan kegiatan kemasyarakatan. Pokoknya kalau ada kegiatan yang berkaitan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Lulusan Bahasa dan Sastra harus siap dan berada di garda terdepan. Wajib hukumnya!

Dalam struktur organisasi atau kegiatan kepanitiaan, lulusan Bahasa dan Sastra wajib mengisi kursi yang amat vital. Karena kemampuan berbahasa dan bersastranya yang dianggap mumpuni, lulusan bahasa dan sastra biasanya didaulat sebagai ketua, sekertaris, dan pembawa acara atau master of ceremonies (MC). Saya akan membeberkan alasannya berdasarkan berbagai sumber yang saya terima dan saya rangkum. Perlu dicatat, pengalaman ini tebtunya berbeda pada setiap orang.

  1. Jadi Ketua Organisasi atau Panitia Karena Bisa Ngomong

Ketua panitia, ya, jabatan paling vital ini seperti sudah disediakan khusus untuk lulusan Bahasa dan Sastra. Alasannya sederhana, ketua untuk wajib sambutan pada setiap pembukaan acara. Ketika sambutan, harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, sesuai EYD (sekarang PUEBI), kata anggota lain. Hanya mahasiswa jurusan bahasa dan sastra yang bisa ngomong.

Saya hanya terkaget-kaget mendengar alasan tersebut. Padahal Tuhan mengamanahi setiap insanNya mulut untuk ngomong atau berbicara, tapi kok ya hanya mahasiswa Bahasa dan Sastra saja yang dituntut bisa ngomong. Hadeuh, pusing~

  1. Jurusan Bahasa dan Sastra Terbiasa Menulis, Maka Jadilah Sekretaris

Mengutip pendapatnya Mbah Pram bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kalau Anda sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra, lalu selalu ditunjuk menjadi sekertaris, maka husnuzan saja, mungkin orang yang menunjuk Anda ingin selalu mengenang Anda. Orang tersebut malu untuk meminta foto bareng dengan kita atau, malu-malu untuk meminta nomor WA Anda. Eaaa~

Tidak ada yang peduli dengan tulisan Anda, mau tulisan Anda bagus kek, seperti sandi rumput kek, betul-betul bukan itu yang diinginkan orang yang menunjuk Anda menjadi sekertaris. Tapi karena Anda merupakan mahasiswa Bahasa dan Sastra jadi layak dijunjung tinggi menjadi sekertaris. Tak boleh ditawar lagi. Titik.

  1. Anda Sudah Terbiasa Berbahasa, Pasti Cocok jadi MC
Baca Juga:  Perdebatan Mana yang Lebih Nyaman: WC Jongkok atau WC Duduk

Dengan embel-embel jurusan yang terdapat kata “bahasa”-nya, orang lain sudah yakin Anda pasti bisa MC. Karena MC itu mirip ketua, harus bisa ngomong. Dan hanya mahasiswa Bahasa dan Sastra saja yang bisa ngomong. Karena mahasiswa Bahasa dan Sastra kerjaannya hanya nulis dan ngomong.

Selamat bagi Anda yang sudah terbiasa tampil di muka umum, tapi bagi Anda yang belum terbiasa cukum bilang “huft”. Anda harus memberanikan diri, ini hal yang positif, tetapi kalau dadakan ya ambyar juga. Pada suatu acara, terkadang kesulitan untuk mencari MC, lalu dengan adanya jalan pintas yaitu Anda. Tidak perlu tengok kanan, tengok kiri, karena Anda adalah jawaban yang tepat. Karena Anda adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra yang terbiasa nulis dan ngomong.

Itu tadi beberapa rangkuman yang saya dengar dari anak atau mahasiswa Bahasa dan Sastra. Cukup menantang memang. Ya mau tidak mau harus Anda jalani kenyataan yang agak sakit tapi tak berdarah tersebut.

Pada kesempatan lain, saya mendengar sendiri kenyataan yang lebih pahit. Bagi mahasiswa Bahasa dan Sastra tentunya. Ada seorang anak kecil usia sekolah, tidak perlu saya sebutkan jenjangnya. Ia tidak suka pelajaran bahasa, karena pelajaran bahasa itu gampang. Dan nilainya di sekolah selalu bagus. Begini katanya, “pelajaran bahasa itu gampang, nggak perlu belajar. Lha wong nilaiku baik terus kok.”

Duh, Dek. Rasanya mau mbrebes mili mendengar kata-katamu itu. Kamu nggak tahu sih betapa kakak-kakak mahasiswamu yang jurusan Bahasa dan Sastra sering menjadi “tumbal peradaban”.

---
9


Komentar

Comments are closed.