Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Suka Duka Menjadi Mahasiswa dan Setelah Lulus dari Jurusan Sastra Jepang

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
7 Agustus 2021
A A
Suka Duka Menjadi Lulusan Jurusan Sastra Jepang terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Orang pasti mengira para lulusan sastra Jepang jago ngomong bahasa Jepang. Ya jago, sih, dulu pas jadi mahasiswa. Eh. Karena sama seperti bahasa-bahasa lainnya, kalau nggak dipakai juga lama-lama luntur keilmuannya. Kalau setiap hari dipakai, sih, ya jago-jago saja, apalagi kalau sumber nafkahnya memang di situ.

Pengalaman, sih, sering tiba-tiba ditanya “ikeh-ikeh kimochii” itu artinya apa, begitu tahu kita belajar bahasa Jepang. Wibu dan wota pasti tahu lah artinya. Lho?

Kuliahnya seperti apa?

Sewaktu menjadi mahasiswa jurusan Sastra Jepang, tentunya diajari bahasa Jepang dari nol. Sama seperti anak kelas satu SD, kita diajari cara menulis dan membaca hurufnya. Belajar tata bahasa satu per satu, mengarang, mendengarkan, percakapan, budaya, sejarah, dan sastra Jepang juga. Selain itu, bisa juga memilih mata kuliah jurusan lain. Saya dulu pernah belajar Antropologi, Sosiologi, dan Bahasa Korea. Ilmu Sastra, Linguistik, Filsafat, dan Pancasila juga wajib diikuti.

Katanya enak dan santai ya kuliah jurusan Sastra itu? Mungkin iya, kalau dibandingkan dengan jurusan Teknik atau Ilmu Kedokteran karena mahasiswa jurusan Sastra nggak harus praktikum, responsi, nge-lab, dan sejenisnya. Mahasiswa Sastra cenderung santai karena nge-labnya ya baca buku dan baca buku bisa di mana saja. Menulis dan menghafal juga bisa di mana saja. Mendengarkan dan bercakap dengan bahasa yang dipelajari juga bisa dari mana saja.

Selain belajar yang fleksibel, bisa juga jadi panitia bunkasai dan event Jejepangan lainnya. Selain ikut UKM mahasiswa se-universitas, di jurusan sendiri juga bisa belajar budaya seperti menari bon odori, menabuh taiko (gendang Jepang), belajar masakan Jepang seperti takoyaki, ramen, dll. Ada juga banyak lomba yang berhubungan dengan bahasa Jepang seperti lomba kanji, lomba pidato bahasa Jepang yang hadiahnya bisa ke Jepang, dll.

Ada juga pertukaran mahasiswa khusus Sastra dan Bahasa Jepang dengan universitas Jepang, lho. Kalau zaman saya dulu, saingannya juga ada dari semua jurusan se-universitas, paling sering, sih, jurusan HI. Kalau sekarang, pertukaran yang khusus mahasiswa Sastra Jepang saja ada banyak. Makanya, kalau jago bahasa Jepangnya, bisa banget direkomendasikan melamar beasiswa ini.

Nggak perlu ditanya lagi lah keuntungan setahun bisa belajar bahasa dan budaya Jepang gratis di Jepang, pasti lebih banyak sukanya. Selain meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang, bisa juga untuk mencari pengalaman dan relasi sebanyak mungkin.

Selain bisa merebutkan beasiswa pertukaran, kalau jago bahasa Jepangnya juga bisa ikut part time jadi penerjemah ketika ada dosen dan mahasiswa Jepang yang sedang berkegiatan di Indonesia. Saya dulu pernah part time dan mendapat upah yang lumayan besar, lho. Selain upah, pengalaman, dan percakapan bahasa Jepang dengan native speaker secara gratis, kita juga bisa menjalin relasi dengan orang Jepang yang syukur-syukur bisa dijadikan narasumber wawancara skripsi kita.

Baca Juga:

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

Sekarang teknologi membuat belajar bahasa asing itu menjadi lebih mudah, sih. Dulu, untuk mendengar orang Jepang ngomong saja harus menunggu seminggu sekali di kuliah mendengarkan dan harus merekam pakai kaset kosong. Lagu saja baru lagu OST Inuyasha dan Utada Hikaru. Sekarang muter YouTube saja ada banyak lagu Jepang, dorama Jepang, vlog orang Jepang atau seperti Jerome yang bergaul dengan orang Jepang dan pakai bahasa Jepang. Buku dan novel Jepang juga lebih mudah mendapatkannya.

Jadi, ya nggak heran junior Sastra Jepang sekarang bahasanya lebih jago dibanding seniornya dulu. Eh. Lulus sekarang minimal harus memiliki sertifikat kemampuan bahasa Jepang minimal level intermediate, lho.

Yang jelas, kuliahnya seru karena setiap hari belajar bahasa Jepang. Ya iyalah. Tapi, jangan harap bakal diajari menggambar ala manga ya karena nggak ada mata kuliah itu di jurusan Sastra Jepang.

Kalau lulus, prospek kerjanya apa?

Secara garis besar, bisa dibagi menjadi dua, yang berhubungan atau yang nggak berhubungan dengan bahasa Jepang. Sebenarnya ini bisa ditentukan saat masih mahasiswa juga, sih. Biasanya kalau yang memilih kerja dengan bahasa Jepang, dia akan berusaha sekuat tenaga meraih sertifikat kemampuan bahasa Jepang sampai level tertinggi. Sertifikat ini jadi branding dan lumayan laku untuk melamar pekerjaan penerjemah, guide, guru/dosen bahasa Jepang, diplomat, dan sebagainya, atau kalau nggak ya sekalian saja kerja di Jepang.

Setahu saya, gaji penerjemah di perusahaan Jepang wilayah Jabodetabek minimal 8-10 juta per bulan, dan kalau jam terbangnya lebih tinggi pasti lebih banyak juga gajinya. Weekend pun bisa freelance jadi penerjemah di tempat lain.

Tapi, sekarang banyak banget peluang kerja di Jepang, lho. Meski kadang mengharuskan memiliki kemampuan bahasa Jepang, sih. Gajinya nggak usah ditanya lagi. Masuk pertama untuk fresh graduate minim pengalaman saja sekitar 26 juta rupiah per bulan dan ada kemungkinan naik terus, meski biaya hidup, potongan pajak, dan asuransi juga besar, sih.

Lantas, kalau ditanya mending belajar bahasa dulu atau kuliah jurusan lain dan belajar bahasanya kemudian? Tergantung jenis pekerjaan juga. Kalau desain grafis dan yang berhubungan dengan teknologi, sih, pakai bahasa Inggris juga sudah cukup, kan? Tapi, alangkah baiknya memang menguasai bahasa Jepang juga, minimal bahasa sehari-hari, karena akan sangat berguna untuk berkomunikasi. Orang Jepang sendiri sangat menghargai orang asing yang mau belajar bahasa Jepang.

Kalau nggak berhubungan dengan bahasa Jepang, ya banting setir ke pekerjaan atau usaha lain. Nah, di sini akhirnya pengalaman dan kemampuan lain kita diuji karena bahasa Jepang jelas bukan alat utama branding kita.

Ada, kok, lulusan Sastra Jepang yang jadi teller bank dan PR hotel yang levelnya sampai internasional. Kalau memang suka bisnis, ya bisa saja buka restoran Jejepangan atau usaha apa pun. Kakak kelas saya sekarang jadi wirausahawan sukses di bidang fashion lho dan merintisnya dari nol, lho. Ada juga yang membuka restoran Jejepangan. Ada juga yang hobinya kopi bisa buka usaha kafe kopi dan meracik sendiri kopinya.

Atau ada juga yang menjadi wartawan berita atau produser berita terkenal yang kadang lebih memanfaatkan kemampuan bahasa Inggrisnya dibanding bahasa Jepangnya. Ada juga seperti Mas Iqbal Aji Daryono, esais dan penulis terkenal yang nggak disangka ternyata lulusan Sastra Jepang juga dan bilang nggak bisa bahasa Jepang.

Yang jelas pekerjaan yang dipilih lulusan Sastra Jepang, mau berhubungan atau nggak dengan bahasa Jepang, adalah pilihan dari kumpulan pengalaman kumulatifnya selama menempa ilmu. Pengalaman berorganisasi, leadership, marketing, bersosialisasi, negosiasi, bisnis, dll. yang nggak bakal didapat kalau hanya mendengarkan kuliah dosen. Butuh pergaulan lebih untuk menambah wawasan dan pengalaman hidup.

Sekali lagi, hubungan dengan bahasa Jepang itu susah-susah gampang. Tetapi saya setuju dengan kata-kata dosen native saya, Bu Ishida, bahwa kemampuan bahasa asing seseorang itu bisa jadi nggak akan berkembang dengan baik kalau bahasa ibunya saja nggak dikuasai dengan baik. Jangan ngomongin arigatou, ohayou, atau makudonarudo kalau bedain awalan di- digabung atau dipisahin saja masih sulit.

BACA JUGA Mematahkan Stereotip Jurusan Sastra Cina dan tulisan Primasari N Dewi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2021 oleh

Tags: bahasa asingMahasiswapendidikan terminalsastra Jepang
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Jangan Jadikan Aktif di Ormawa sebagai Alasan Nilai Jelek

Jangan Jadikan Aktif di Ormawa sebagai Alasan Nilai Jelek

5 Januari 2023
Mahasiswa Harus Coba Ikutan Program Kampus Mengajar

Mahasiswa Harus Coba Ikutan Program Kampus Mengajar

11 Mei 2023
Keunggulan UIN Dibandingkan Perguruan Tinggi Negeri Lain, Biaya Kuliah Lebih Terjangkau Salah Satunya Mojok.co

Keunggulan UIN Dibanding Perguruan Tinggi Negeri Lain, Biaya Kuliah Lebih Terjangkau Salah Satunya

1 Februari 2024
Culture Shock Orang Indonesia yang Kuliah di Thailand Mojok.co

Culture Shock Orang Indonesia yang Kuliah di Thailand

31 Desember 2024
Dosen Ideal yang Bisa Membantu Mahasiswa Akhir Lulus Segera terminal mojok.co asisten dosen

Pengalaman Saya Nekat Menjadi Asisten Dosen Ilegal: Kena Damprat Petugas Lab hingga Diangkat Jadi Asisten Resmi

22 Februari 2024
Perhatikan Hal-hal Berikut Saat Jadi Tutor Belajar Kendaraan terminal mojok

Perhatikan Hal-hal Berikut Saat Jadi Tutor Belajar Kendaraan

18 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya Mojok.co

Jangan Terbuai Romantisme Jogja, Kota Ini Punya Seribu Jebakan buat Mahasiswanya

25 April 2026
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

Kebumen: Banyak Pantainya, tapi Belum Jadi Primadona Wisata Layaknya Yogyakarta

21 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.