Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Steven Pinker Bilang Dunia Jadi Lebih Baik, Itu Indonesia Masuk Hitungan Nggak Ya?

Aliurridha oleh Aliurridha
26 Desember 2019
A A
Steven Pinker Bilang Dunia Jadi Lebih Baik, Itu Indonesia Masuk Hitungan Nggak Ya?

Steven Pinker Bilang Dunia Jadi Lebih Baik, Itu Indonesia Masuk Hitungan Nggak Ya?

Share on FacebookShare on Twitter

Steven Pinker seorang ahli bahasa dan juga ilmuan bidang psikologi kognitif mengatakan bahwa dunia sudah jadi lebih baik. Pinker dalam buku terbarunya Enlightenment Now menunjukkan berbagai data dunia yang menurutnya semakin baik, kekerasan berkurang, perang tidak ada, orang miskin berkurang, kesenjangan antara yang kaya dan miskin berkurang drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rasanya ini benar namun sepertinya ada yang luput dari Pinker, atau jangan-jangan Indonesia tidak masuk hitungan.

Indonesia, negeri dongeng yang katanya tanah surga ini menyimpan ketimpangan antara yang kaya dan miskin sangatlah besar. Seperti puisi yang dibacakan Salman dalam Film Tanah Surga… Katanya yang mengkritik Indonesia dengan mengambil lirik lagu Koes Plus Kolam Susu. Dalam puisi tersebut Salman memperlihat dengan jelas ketimpangan yang dirasakan warga negara perbatas yang tinggal di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Saking terpuruknya bahkan warga perbatasan ada yang kehilangan kecintaan terhadap Indonesia dan memilih menjadi warga Malaysia, ialah Ayah Salman sendiri.

Ketimpangan itu nyata bukan hanya milik kisah fiksi seperti yang digambarkan dalam film Tanah Surga… Katanya. Data statistik menunjukkan bahwa 1% elit Indonesia menguasai 45,4% kekayaan nasional. Selain itu 10% orang terkaya menguasai 74,8% kekayaan nasional. Data ini terus meningkat dari tahun 2014. Jadi kalau Pinker mengatakan kesenjangan menurun mungkin datanya salah atau memang Indonesia tidak termasuk dalam hitungan.

Lebih hebat lagi saat debat pemilihan presiden 2019, salah satu kandidat dengan lantangnya mengatakan bahwa ada 1% elit menguasai setengah kekayaan nasional, padahal dia termasuk yang 1% itu. Bukannya dikritik atau disoraki malah ditepuktangani. Saya betul-betul tidak paham dengan warga Indonesia ini. Bahkan orang yang berusaha meperlihatkan ketimpangan itu nyata malah dinyinyiri. Banyak sekali komentar menyalahkan mereka yang tidak beruntung ini sebagai orang yang malas ketika muda malas. Suara nyinyir itu seringkali muncul dari bibir kelas menengah yang merasa bahwa semua yang mereka hasilkan adalah buah dari kerja kerasnya.

Kalau kita bicara kerja keras, pedagang nasi itu bangun paling, loper koran kerja tanpa libur, pemulung itu pulang paling malam, tapi meski serajin itu mereka tidak akan pernah bisa jadi CEO. Bukan karena malas atau kurang cerdas, semua karena dari awal mereka tidak start pada garis yang sama. Mereka tidak memiliki instrumen seperti instrumen dimiliki kelas menengah.

Dalam jurnal American Journal of Preventing Medicine, terdapat penelitian yang dilakukan oleh Profesor Adina Zefki Al Hazzouri dari Universitas Miami yang menemukan adanya hubungan antara penghasilan yang rendah dengan fungsi kognitif yang buruk. Penelitian ini mengatakan stres karena kekuarangan uang adalah salah satu alasannya. Selain itu buruknya sanitasi dan tempat tinggal ditambah pola hidup yang buruk juga menjadi alasan penurunan fungsi kognitif.

Mayoritas orang Indonesia tumbuh di lingkungan yang miskin dan kumuh. Karena itu sejak pertama memang orang sudah mulai dari garis start yang sama sekali berbeda. Jadi sudah wajar jika ketimpangan dari hari ke hari semakin membesar, karena yang miskin dan terpinggirkan semakin tidak punya instrumen untuk mengembangkan potensi, sebaliknya yang kaya dan berkecukupan punya segala upaya untuk meninggalkan yang miskin semakin jauh.

Pinker juga menyatakan dunia semakin baik karena kekerasan berkurang, penurunan drastis kematian akibat pembunuhan, perang, terorisme, dan kelaparan. Sebuah fakta yang tidak bisa dibantah bahwa kematian akibat pembunuhan, perang, terorisme, kekerasan, kelaparan sudah berkurang. Bahkan jika penyebab kematian akibat itu semua digabungkan tidak bisa menggantikan kematian akibat bunuh diri. Maka sebenarnya dunia tidak lebih baik, hanya menggeser penyebabnya.

Baca Juga:

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

5 Alasan Orang Kaya Ingin Terlihat Miskin, Menghindari Pajak Bukan Satu-satunya!

Saat ini justru kematian akibat bunuh diri yang tinggi menunjukkan bahwa manusia pada masa ini justru lebih rentan, lebih tertekan, dan lebih keras hidupnya, bukan kekerasan fisik namun kekerasan yang dilakukan justru tanpa melibatkan fisik. Begitu kata Yuval Noah Harari, seorang yang tidak hanya ilmuan sejarah namun pemikir besar abad ini.

Lihat saja kasus bunuh diri yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Di Korea bahkan orang sekelas selebriti saja banyak yang tidak sanggup melanjutkan hidup dan memilih melakukan bunuh diri karena tekanan hidup yang keras. Kasus-kasus gangguan mental pun semakin banyak namun masih saja orang melihat gangguan mental dengan stigma dan stereotip.

Meski begitu memang benar ada sesuatu yang baik terjadi pada zaman ini menurut Pinker. Manusia sekarang lebih banyak mati karena kelebihan makan daripada kekurangan makan. Harari bahkan sepakat dengan hal ini. Namun tentu saja ini tidak terjadi di semua tempat masih banyak negara yang tegolong negara ber-flower seperti Indonesia yang mengalami kemunduran.

Dilansir dari Kompas (3/12/19) Indonesia masuk kategori serius dalam riset indeks kelaparan Global. Indonesia peringkat 70 dari 117 negara. Meski skornya terus membaik sejak tahun 2010 namun skor itu turun lagi di tahun 2019 ini yang dibandingkan dengan negara tetangga termasuk dalam kategori tinggi.

Saya tidak menyalahkan pandangan optimis Pinker karena jika dilihat dalam perspektif makro data yang disajikan memang menunjukkan progresivitas. Namun karena saya hidup di negara yang ketimpangannya tinggi jadi cara berfikir saya dipengaruhi oleh berbagai fakta sosial yang terlihat di sekitar saya sehingga membuat saya menolak segala argumen Pinker.

Jadi kalau Pinker bilang segala hal yang optimis tentang dunia semakin baik, saya rasa Pinker tidak bersalah sama sekali mungkin saja Indonesia luput dari objek studinya. Mungkin juga data tentang Indonesia masih kurang atau bahkan data yang tersedia tidak menunjukkan kenyataan yang sebenarnya? Ya mana gue tahu kalau itu.

BACA JUGA Yang Tidak Mereka Katakan tentang Kapitalisme atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Desember 2019 oleh

Tags: Indonesiakematianketimpanganmasalah sosialMiskin
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Shuukatsu_ Mempersiapkan Kematian Sendiri ala Orang Jepang terminal mojok

Shuukatsu: Mempersiapkan Kematian Sendiri ala Orang Jepang

9 Oktober 2021
11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda Mojok.co

11 Kosakata Sehari-hari yang Sebenarnya Berasal dari Bahasa Belanda

20 Desember 2023
7 Nama Daerah Unik di Indonesia yang Bikin Melongo terminal mojok

7 Nama Daerah Unik di Indonesia yang Bikin Melongo

30 November 2021
Mensyukuri Tinggal di Sumenep, Kabupaten Termiskin Ketiga di Jawa Timur

Mensyukuri Tinggal di Sumenep, Kabupaten Termiskin Ketiga di Jawa Timur

26 Juni 2023
4 Perbedaan Kuliah S1 di Jepang dan Indonesia

4 Perbedaan Kuliah S1 di Jepang dan Indonesia

28 Februari 2022
buzzer negeri ini

Mari Kita Sambat Soal Negeri ini

2 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Aerox Motor Yamaha Paling Menderita dalam Sejarah (unsplash)

Aerox: Motor Yamaha Paling Menderita, Nama Baik dan Potensi Motor Ini Dibunuh oleh Pengguna Jamet nan Brengsek yang Ugal-ugalan di Jalan Raya

8 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Stasiun Duri Lebih Bikin Stres dari Manggarai: Peron Sempit, Tangga Minim, Kereta Lama Datang

9 April 2026

Di Jajaran Mobil Bekas, Kia Picanto Sebenarnya Lebih Mending daripada Suzuki Karimun yang Banyak Dipuja-Puja Orang

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.