Yang Tidak Mereka Katakan tentang Kapitalisme

Featured

Rizky Adhyaksa

Saya sedang mengerjakan skripsi ketika saya menemukan buku ini. Sebuah buku dengan judul yang cukup genit, “23 Hal yang Tidak Mereka Katakan Tentang Kapitalisme” yang ditulis oleh seseorang yang sekilas ketika saya baca cepat terbaca Haji Cang. Hmm??? Haji menulis buku anti kapitalisme??? Pas saya baca lagi ternyata H-J. Chang itu maksudnya Ha-Joon Chang.

Saya terpaku pada judulnya, apa pun yang bertuliskan “kapitalisme” biasanya memang sangat Abot Bos. Tapi pas saya baca, ternyata sebaliknya. H-J. Chang dalam buku ini, membedah dan membahas kapitalisme serta kritik atas disiplin ilmu ekonomi secara keseluruhan layaknya berbicara dengan anak berumur 10 tahun. Bahkan, ada tujuh cara dalam membaca buku ini, yang semuanya memiliki keunikannya masing-masing.

Chang membongkar 23 mitos tentang kapitalisme dan ekonomi secara keseluruhan mulai dari kebijakan, pembangunan, gaji, hingga individu yang memiliki peran sebagai warga negara. Semuanya disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari sehingga saya yang hanya merupakan remahan rempeyek ini, bisa memahaminya dengan baik.

Buku ini turut serta dalam proses penulisan minimum opus (bukan magnum opus yaaa) saya yang berupa skripshit. Akan tetapi, agar saya tidak dikutuk menjadi kapitalis ilmu pengetahuan—karna saya mendapatkan buku ini secara gratis—maka saya ingin membagikan isi dari buku tersebut, dalam bentuk essay pendek ini. Namun, ga semua 23 hal yang ditulis akan dimasukan di sini. Kita bahas yang lebih related saja dengan kehidupan sehari-hari.

So here it is, mitos-mitos tentang kapitalisme (yang mungkin kalian anggap benar):

Ekonomi pasar-bebas tuh nggak ada

Ketika berbicara dengan ekonom, maka Anda akan dijejalkan dengan sebuah paradigma di mana pasar harus menjadi efisien dalam pengelolaannya. Cara agar dia efisien adalah dengan menarik campur tangan pemerintah dari ekonomi.

Saya kasih contoh biar ngeh yaaa.

Biar kesehatan masyarakat bisa optimal dan efisien, maka hapuskan BPJS besutan pemerintah yang tidak efisien. Biarkan masyarakat a.k.a. swasta yang menyediakan jasa layanan jaminan kesehatan. Karna swasta dianggap lebih efisien dalam menyediakan semua hal. Biar mekanisme pasar yang menentukan, kalau jelek juga ga ada yang jadi pelanggan dan akhirnya tutup. Negara ga boleh campur tangan, kalo ga mau mekanisme pasar ini keganggu. Alhasil, kesehatan masyarakat bergantung pada perusahaan asuransi (baca: kapitalisme asuransi).

Okay, semua terdengar rasional. Tapi gini sobat, pasar-bebas itu ga ada. Yang namanya pasar, dari nenek moyang kita jualan budak sampai sekarang jualan pulsa, pasti ada regulasinya. Di dalam pasar yang benar-benar bebas, maka Anda berhak untuk memproduksi dan menjual apa pun itu, baik itu narkoba maupun ginjal. Tentu saja tidak terjadi karna ada aturan tentang apa yang boleh diperdagangkan dan diproduksi.

Andaikan pun BPJS besok bubar, maka negara akan tetap meregulasi penyediaan jasa layanan asuransi seperti, perlindungan konsumen, mencegah monopoli, dan perlindungan pekerja dalam perusahaan asuransi. Sehingga terma pasar bebas adalah ilusi dan merupakan jargon politik semata. Jargon pasar-bebas didengungkan semata-mata untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi para kapitalis mengeksploitasi pekerjanya (udah kiri belom neh?)

Perusahaan seharusnya tidak dijalankan berdasarkan keinginan pemiliknya

Kalian pasti bertanya-tanya, hari ini yang kita anggap kapitalis ini siapa sih? Saat ini banyak perusahaan yang menyandang status Perseroan Terbatas (PT). Status ini berarti perusahaan tersebut memiliki pemilik saham yang menguasai keseluruhan aset dari perusahaan. Akan tetapi, pemilik saham ini tidak secara langsung menjalankan perusahaan, tetapi mereka—dewan pemegang saham—menunjuk seseorang untuk menjalankan perusahaan. Pemegang saham ini nih yang mbah Marx sebut sebagai Kapitalis zaman now.

Baca Juga:  Belanja Lebaran Bareng Om Baudrillard

Nah, perusahaan tidak boleh hanya dijalankan untuk memuaskan hasrat kapitalis semata. Guna meningkatkan keuntungannya, maka kapitalis akan dengan sigap melakukan ‘rasionalisasi’ pengeluaran. Artinya memotong insentif karyawan dan menghemat perabot fasilitas kerja. Alhasil, dalam jangka waktu yang panjang produktivitas karyawan dapat menurun. Bila dibiarkan terus menerus maka akan berdampak buruk bagi perusahaan, bukan cuman si kapitalis, tapi stakeholder as a whole.

Kebanyakan orang di negara maju, kebanyakan nerima gaji

Untuk kalian semua yang selalu minder ngelihat bule, Chang bilang kalau sebenarnya mereka digaji dengan over-value. Dia kasih contoh supir bis di negara maju dan supir bis di negara berkembang. Supir bis di swedia punya gaji 30 kali lipat gaji supir bis di Indonesia. pertanyaannya adalah kok bisa? Bukan karena supir bis di sana lebih ahli. Ya ahlian supir bis Indonesia lah. Gini ya, supir bis dari Swedia bakal gagap dan gugup kalau dia disuruh masuk tikungan tajam dengan kecepatan 80km/jam, kerja nyetir mulu 9-15 jam untuk bis antar provinsi, dan balapan dengan bis lain yang sama-sama lagi kejar setoran cari penumpang.

Supir bis di swedia keenakan, karena ga ada kompetitornya. Kalau kita bisa cari cara agar banyak supir bis dari Indonesia masuk ke swedia, dengan sendirinya pekerjaan tersebut akan diambil oleh mereka-mereka yang menawarkan tenaga kerja yang lebih murah. Bukan cuma supir bis, tapi posisi tinggi seperti akademisi dan peniliti di negara-negara kaya juga bisa diserobot oleh orang dari negara miskin. Jadi sobat minder aku, buang-buang jauh yah inferiority complex yang ada dalam benak kamu, mereka ga hebat-hebat amat kok.

Manusia bukan makhluk yang egois dan individualis

Kapitalis paling suka nih, sama argumen ini nih “ya pada dasarnya manusia tuh emang serakah, jadi boleh-boleh aja dong gue netapin ini itu asal ga ngelanggar hukum.” Ya harus saya akui, memang kita sudah banyak sekali melihat dan merasakan keserakahan manusia. Iklan bilang bisa bikin langsing tapi hasilnya nol. Klinik Tongseng katanya bisa nyembuhin semua penyakit, tapi yah gitu deh. Politisi korup makan uang orang lain. Dan semua kejahatan di bumi ini.

Tapi… salah jika kita melihat bahwa satu-satunya penggerak manusia adalah keserakahan. Ada banyak motif lain seperti cinta, kejujuran, solidaritas, loyalitas, patriotism, kohesi sosial, altruisme, harga diri, dll. Kakek saya dulu, perang sama belanda di barisan paling depan (untung slamet, jadi saya bisa lahir di dunia). Kalau kakek saya cuman cari untung buat dirinya sendiri, ya ngapain perang lawan belanda? Di garis depan lagi, kan gampang ketembak. Mending ga ikut perang. Ya iya, mending dicemooh sama temen sendiri dari pada mampus. Pun nyatanya Indonesia merdeka dari mereka-meraka yang mau berjuang bukan untuk dirinya sendiri. Sehingga naif jika melihat keserakahan manusia sebagai faktor satu-satunya dalam melakukan kegiatan ekonomi.

Membuat orang kaya makin kaya, tidak membuat orang miskin lebih baik hidupnya

Inilah yang disebut dengan trickle-down economics, sebuah asumsi yang melihat jika orang paling kaya semakin kaya, maka mereka akan melakukan investasi dan menyerap tenaga kerja. Hal yang terlewatkan dari asumsi ini adalah kalkulasi domino effect yang salah.

Mari kita asumsikan 10 orang kaya punya kekayaan berjumlah Rp. 1 miliar tiap orang, sementara sisanya 1.000 orang miskin punya kekayaan sebesar Rp. 500.000 tiap orang.  Orang bakal berinvestasi jika produknya ada yang beli. Dengan ilustrasi di atas, orang-orang miskin cuman bisa ngasih makan keluarganya sangat pas-pasan. Uang Rp. 500.000 bakal abis buat beli kebutuhan pokok. Dengan demikian, tidak ada permintaan yang cukup buat beli barang lain seperti HP, mobil, baju, dan barang-barang lain. Mereka akan sangat berhemat sehingga karna ga mampu beli. Kalau ga mampu beli, maka banyak barang yang ga laku di pasaran. Kalau ga laku, ngapain investor investasi? Karena ga investasi, jadinya ga ada lapangan pekerjaan dan siklus ini kian parah dan kian memburuk.

Baca Juga:  Pesan Moral dari Film Akhir Kisah Cinta Si Doel: Jangan Cari pasangan yang Terlalu Baik

Intinya membuat orang yang sudah kaya makin kaya dalam kapitalisme, tidak akan menghasilkan ekonomi yang bertumbuh.

Perencanaan dan regulasi tentang ekonomi ga boleh ada

Poin ini berkaitan dengan poin nomor satu tentang pasar bebas. Soviet sebagai pionir ekonomi terencana sudah ambruk, sehingga perencanaan ekonomi hanya akan membuat perekonomian kian terpuruk. Biarkan saja pasar menjadi, sekali lagi, bebas dari pengaruh segala macam rencana ekonomi, terutama regulasi dan campur tangan pemerintah, sehingga perusahaan dan pasar menjadi lebih efisien.

Pertama, kita saat ini masih hidup dalam ekonomi terencana. Hal ini bisa dilihat dari seberapa sering anda melakukan rapat di kantor? Semuanya terencana dan punya tujuan yang ingin dicapai. Kedua, perihal rencana dan campur tangan pemerintah. Fakta menunjukan bahwa banyak perusahaan yang sukses atas berkat bantuan pemerintah. Pada saat Ford—perusahaan mobil di Amerika—sedang memproduksi mobil secara massif, inovasi dalam hal lini perakitannya tidak akan berguna banyak jika dan hanya jika, pemerintah tidak membangun jalan aspal. Sehingga kesuksesan Ford sebagain besar merupakan hasil campur tangan pemerintah.

Bukan soal apakah perencanaan ekonomi itu baik atau buruk, tetapi tentang rencana apa yang paling baik bagi perekonomian suatu negara.

Kebijakan ekonomi yang baik tidak memerlukan ekonom yang baik

Ya saya tau, what the hell right???? Tapi ayo kita lihat argumennya, Chang melihat keberhasilan ekonomi negara-negara maju, tidak dihasilkan oleh ekonom terbaik dalam jajaran top manager. Jepang behasil secara ekonomi meskipun dijalankan oleh pengacara. Taiwan dan Cina sukses meskipun dijalankan oleh teknisi dan ilmuan. Korea juga kebanyakan dipimpin oleh jenderal dan pengacara. Mereka memahami bahwa industri memerlukan waktu yang cukup panjang untuk bertumbuh dan menjadi hebat.

Chang melontarkan kritik tajam pada para ekonom pasar-bebas yang selama tiga dekade—1980-1990-2000-an—tidak berhasil menyajikan sebuah tatanan ekonomi yang baik. Dunia semakin diwarnai krisis, jurang ketimpangan kian lebar, dan ketidakpastian yang kian memburuk. Oleh karena itu, paradigma ekonomi pasar bebas haruslah dikritisi sedemikian rupa dan beralih kepada paradigma ekonomi yang lain guna menyajikan kebijakan yang tepat dalam meregulasi pasar dan membuat potensi warga negara dapat perform secara optimal.

Chang mengajukan ide tentang active economic citizens, yang mana warga negara dapat terlibat dalam setiap diskursus kebijakan ekonomi, memanfaatkan demokrasi, agar tidak terjadi monopoli kuasa yang hanya akan berujung pada kebijakan yang membuat orang kaya semakin kaya dan orang miskin makin miskin. Betapapun kecilnya suara anda dalam alam demokrasi, itu tidak sia-sia.

BACA JUGA Mencoba Memahami Alasan Rencana Revisi UU Ketenagakerjaan atau tulisan Rizky Adhyaksa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
21


Komentar

Comments are closed.