Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja (wikipedia.org)

Stasiun Delanggu Klaten sudah sejak lama jadi bagian penting dalam hidup warga lokal (warlok), setidaknya untuk saya. Dahulu, setiap sepekan sekali, saya pasti mengantar dan menjemput saudara di stasiun ini.

Bagi yang belum tahu ini, Stasiun Delanggu berada di sebelah timur Jalan Raya Solo-Jogja, dan tidak jauh dengan Pasar Delanggu. 

Jujur, stasiun kereta api Kelas 3 dengan bangunan berukuran mungil ini sangat membantu mobilitas warlok. Daerah-daerah yang berbatasan dengan Kota Delanggu seperti Tulung, Polanharjo, Wonosari dan sekitarnya mudah mengakses stasiun ini.

Kemudahan inilah yang jadi salah satu alasan mengapa stasiun mungil ini menjadi andalan warlok Delanggu dan sekitarnya untuk bepergian ke kota lain.

Baca juga Alun-Alun Klaten, Potret Ruang Publik yang Tak Sekadar Estetik, tapi Juga Menjawab Kebutuhan Warlok.

Stasiun Delanggu Klaten sempat berhenti beroperasi

Sebenarnya sejak kecil saya sudah akrab dengan Stasiun Delanggu Klaten. Dahulu, bapak saya sering mengantar saudaranya ke sini saat akan balik ke perantauan.

Akan tetapi, memasuki masa remaja, saya hanya melihat Stasiun Delanggu sebagai bangunan kosong saja. Sebab, pada 2011 Stasiun Delanggu tutup dan berhenti melayani penumpang.

Jika ingin bepergian dengan kereta api, saya (dan warlok lain) harus naik dari Stasiun Klaten dulu. Agak ribet memang karena jarak dari rumah ke Stasiun Klaten lumayan jauh. Itu kenapa, kereta api tidak pernah menjadi transportasi umum pilihan. 

Kami lebih memilih naik bus untuk bepergian karena lebih mudah dijangkau. Hingga kemudian, kami mendengar kabar baik, Stasiun Delanggu mulai beroperasi lagi. 

Stasiun Delanggu dibuka kembali pada bulan Februari 2021 untuk melayani penumpang rute KRL Commuter Line Solo-Yogyakarta, bersamaan dengan Stasiun Gawok, Stasiun Ceper dan Stasiun Srowot. Kini kami tidak harus pergi jauh ke Stasiun Klaten lagi jika ingin naik kereta api.

Stasiun andalan pelaju Solo-Jogja

Bagi warga lokal yang bekerja atau sekolah di Solo dan Yogyakarta, keberadaan Stasiun Delanggu Klaten sangat menguntungkan. Untuk mobilitas harian, kereta api lebih dipilih daripada naik kendaraan pribadi atau sarana transportasi umum lainnya karena bisa lebih diandalkan di beberapa faktor. Seperti terhindar dari macet dan  jadwal perjalanan yang lebih pasti dan  lebih cepat.

In this economy, di mana semua harga serba mahal, naik kereta api adalah pilihan pailing tepat. Mau naik kendaraan pribadi? Pertamax mahal! Mau beli pertalite? Antrian panjang, begitu antrian sudah maju, eh pertalitenya juga sudah habis! Sudah antri lama, eh malah nggak kebagiaan. 

Belum lagi ada biaya perawatan kendaraan pribadi, naik kereta api memang terhitung jauh lebih murah dari sisi ekonomi.

Menurut pola yang saya amati, Stasiun Delanggu Klaten tampak lebih ramai saat weekend. Di weekend, penumpang KRL didominasi oleh pelaju Solo-Jogja yang tinggal ngekos dan pulang seminggu sekali. Di hari Jumat sore, stasiun Delanggu ramai oleh pemudik yang datang dari luar kota. 

Dan, pada Minggu sore, Stasiun Delanggu ramai pemudik yang berangkat menuju luar kota tujuan mereka. Sedangkan saat liburan panjang, Stasiun Delanggu dipadati oleh penumpang yang akan berwisata ke Malioboro di Jogja, atau ke Pasar Gede di Solo.

Meskipun hanya melayani rute Solo-Yogyakarta, ternyata banyak penumpang yang bepergian selain ke Solo dan Yogyakarta lho. Dari stasiun Delanggu mereka akan transit ke stasiun yang lebih besar seperti Stasiun Purwosari di Solo atau stasiun Tugu di Yogyakarta yang melayani rute perjalanan kereta jarak jauh untuk melanjutkan perjalanan. Setidaknya, separo dari bagian perjalanan mereka sudah terbantu dari stasiun Delanggu.

Baca juga Klaten Diam-diam Lebih Urban daripada Bantul.

Fasilitas Stasiun Delanggu lengkap

Untuk stasiun berukuran mungil, fasilitas Stasiun Delanggu tergolong lengkap dan  bersih. Di lobi depan terdapat vending machine untuk top up saldo Kartu Multi Trip (KMT) secara mandiri. Jika butuh bantuan, tersedia juga loket dengan petugas yang selalu standby untuk membantu pembuatan kartu KMT baru maupun  isi ulang saldo KMT.  

Di ruang tunggu tersedia kursi yang berjejer nyaman lengkap dengan charging corner dan ada restroom area terbuka untuk merokok. Bagi muslim jangan khawatir ketinggalan waktu ibadah dalam perjalanan, karena tersedia mushala di sini.

Tersedia toilet yang bersih. Area parkir tersedia di area utara stasiun. Namun, sayangnya untuk saat ini  area parkir hanya tersedia untuk parkir  sepeda motor saja. Mungkin karena keterbatasan lahan sehingga belum ada area parkir mobilnya.

Siapa sangka, stasiun yang dulu sepi dan kosong selama bertahun-tahun, kini aktif dan ramai kembali. Hidupnya kembali Stasiun Delanggu memudahkan mobilitas kami yang tinggal di sisi utara dan timur kabupaten Klaten ini. Bagi kami, Stasiun Delanggu adalah pintu gerbang yang mengantarkan kami untuk menjelajah ke berbagai sudut kota lain.

Penulis: Fitri Handayani
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Exit mobile version