Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Sok Edgy di Tengah Isu Omnibus Law biar Apa, Bos?

Fadlir Nyarmi Rahman oleh Fadlir Nyarmi Rahman
8 Oktober 2020
A A
cacat hukum ruu cipta kerja komnas ham asas hukum mojok.co omnibus law demonstrasi

cacat hukum ruu cipta kerja komnas ham asas hukum mojok.co omnibus law demonstrasi

Share on FacebookShare on Twitter

Demonstrasi yang menolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law di banyak daerah, boleh dan bahkan wajib dianggap sebagai gerakan yang mewakili kita semua. Mewakili saya, kamu, atau siapa pun yang nggak bisa ikut turun ke jalan.

Kemarahan, ketidakpuasan, dan semua energi yang melawan keputusan pemerintah dan DPR, terwakili oleh mereka: sebenar-benarnya wakil rakyat.

Tapi, ada saja beberapa orang yang meremehkan dan mempertanyakan efektivitas demonstrasi di media sosial. Adalah mereka yang bertanya-tanya, “Gimana hasil demonya? Pasti capek ya, teriak-teriak, marah-marah, keringetan?” Atau mereka yang mengunggah unggahan seperti, “Koar-koar kok di story, DPR nggak follow akunmu dan nyimpen kontakmu.”

Barangkali, mutual atau unggahan yang lewat di lini masa media sosial kalian ada yang bernada meremehkan macam itu. Jika ada dan membuatmu gemas juga, berarti kita satu frekuensi.

Mereka yang menunggah unggahan seperti itu, sebenarnya muncul bukan hanya pada gerakan kali ini. Pada gerakan #ReformasiDikorupsi tahun lalu, bahkan mungkin pada setiap aksi yang mampu menjadi arus dan menyeret simpati rakyat (kecuali gerakan 212), orang-orang dengan pemikiran sejenis itu selalu ada.

Saya menduga, mereka ini bukan buzzer pendukung pemerintah (buzzerRp), melainkan murni mencoba “mbedani” gerakan yang mewakili banyak orang. Sebab, bisa dikatakan, gerakan ini sudah menjadi arus mainstream, mereka mencoba menjadi pencetus unpopular opinion.

Sungguh menggemaskan mereka ini, ya. Nggak tahu diri sedang dibela hak-haknya. Dan karena itu, saya ingin menunjukkan kenorakan dan kesia-siaan mereka yang berusaha menjadi beda di tengah embusan kencang perlawanan kepada oligarki.

Pertama, mereka kerap menilai bahwa demonstrasi yang dilakukan merupakan kesia-siaan semata. Bagi mereka, demonstrasi cuma menghasilkan baju yang basah, tenggorokan kering dan perih, atau hal percuma lainnya.

Baca Juga:

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

Pengesahan RUU Kesehatan Bukan Salah DPR Saja, tapi Juga Salah Rakyat

Tapi, Bosku, walaupun demonstrasi nanti pait-paitnya nggak bisa membatalkan Omnibus Law, bagi mereka yang turun ke jalan, kesia-siaan itulah yang membuat mereka merasa hidup. Sebab, mereka memperjuangkan suara rakyat, yang sering dianggap suara Tuhan.

Daripada kamu, hidup kok apatis dan dipenuhi kesia-siaan.

Kedua, soal opini mereka yang menyatakan bahwa demo itu selalu marah-marah. Ya, memang. Wong kebangetan pemeritah itu, kok. Siapa yang nggak marah saat harta, nyawa, dan martabatnya terancam coba? Kemarahan orang-orang terhadap kebijakan ngawur pemerintah itu, sama halnya dengan kemarahan pada kekerasan aparat: nggak bisa dihindari.

Mereka nggak sampai di pemikiran itu, mungkin karena kepalanya berada di surga dan penuh dengan ilusi perundingan damai untuk menyelesaikan masalah ini. Akan tetapi, pemerintah dan DPR saja nggak mau berunding kok. Itulah kenyataan yang nggak mereka sadari, bahwa seluruh badan kita, termasuk mereka,—dari kaki hingga tulang cervical—berada di neraka.

Atau mungkin, mereka melahap mentah-mentah ungkapan bahwa kemerdekaan didapatkan melalui perundingan dan bukan hanya aksi massa, yang berakibat pada kecacatan berpikirnya untuk menghilangkan aksi massa yang sama pentingnya dalam revolusi kemerdekaan dulu.

Perundingan dan aksi turun ke jalan itu sama pentingnya. Jangan mentang-mentang yang disorot selalu para perunding, kamu serta merta meremehkan sebuah aksi!

Ketiga, saya mengatakan bahwa mereka hidup dengan kesia-siaan di poin pertama, karena usahanya untuk menjadi beda itu terlihat “trying so hard to be edgy” wqwqwq~

Wagu tur ramashook!

Melawan arus atau menjadi beda, bagi mereka mungkin sangatlah keren. Tapi, mereka lupa, gerakan ini adalah arus yang melibatkan banyak simpati orang-orang, apalagi di akar rumput, sehingga usaha mereka itu jangankan keren, nampak saja belum. Malahan, mereka hanya terkesan menginginkan keeksisan secara ekstrem, ingin dianggap lebih dan berbeda.

Unpopular opinion-mu nggak bisa berlaku, salah tempat, dan pansos banget, Bos! Lagian, unpopular opinion itu bertujuan untuk memberi pandangan baru terhadap suatu hal. Bukan untuk keren-kerenan!

Jika kamu ingin terus dianggap dan eksis, jadi Tuhan saja sana. Eh, tapi jangan, ding. Nanti kamu punya kekuasan dan malah memanfaatkannya untuk berbuat jahat kayak pemerintah.

Keempat, segala usaha mereka itu sama rendahnya dengan buzzer pendukung Omnibus Law. Bahkan, mereka lebih merugi. BuzzerRp kan dibayar, meski nggak tau duitnya halal apa haram. Tapi, paling tidak buzzerRp bisa makan. Lah mereka? Nggak dapat apa-apa. Dapat kerennya nggak, norak iya!

Dan yang terakhir, jika Mas Prabu mengajak menertawakan buzzerRp, saya akan mengajak siapa pun untuk bergidik najis pada mereka yang berusaha—meski sekecil apa pun—“mbedani” karena dianggap keren sehingga mencederai perlawanan terhadap kezaliman pemerintah. Sebab, mereka bukan lagi sampah, tapi lebih rendah dari sampah!

BACA JUGA Lupakan Kinerja Terawan, Mari Kita Bahas Gelar Beliau dan tulisan Fadlir Rahman lainnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2020 oleh

Tags: demonstrasiedgyomnibus lawUU Cipta Kerja
Fadlir Nyarmi Rahman

Fadlir Nyarmi Rahman

Seorang radiografer yang sedikit menulis, lebih banyak menggulir lini masa medsosnya. Bisa ditemui di IG dan Twitter @fadlirnyarmir.

ArtikelTerkait

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

10 September 2023
aksi mahasiswa

Aksi Mahasiswa Belum Selesai, Tergantung Sebebal Apa DPR dan Pemerintah

25 September 2019
Curhat Seorang Fakboi yang Diputusin karena Ikut Demo terminal mojok.co RUU Ciptaker

Mengenal Ego-Resiliensi: Melawan Trauma Pasca Demonstrasi Omnibus Law

12 Oktober 2020
Akbar Faisal Profesi PNS Adalah Kebanggaan Orang Tua yang Masih Abadi terminal mojok.co

Omnibus Law Bikin HRD Bakal Tambah Repot

13 Oktober 2020
Seandainya Sherlock Holmes Tinggal di Indonesia dan Ikut Melawan Omnibus Law terminal mojok.co

Seandainya Sherlock Holmes Tinggal di Indonesia dan Ikut Melawan Omnibus Law

7 Oktober 2020
Mari Bersepakat, 5 Oktober Adalah Hari Pengkhianatan Nasional terminal mojok.co RUU Ciptaker Omnibus Law

Mari Bersepakat, 5 Oktober Adalah Hari Pengkhianatan Nasional

6 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026
Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

Kecamatan Kalitengah Adalah Daerah Paling Ikhlas di Lamongan: Kebanjiran Dua Bulan dan Masih Mau Menyambut Bupatinya

18 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
4 Aturan Tidak Tertulis ketika Naik Transjakarta (Unsplash)

Hal-hal yang Perlu Pemula Ketahui Sebelum Menaiki Transjakarta Supaya Selamat dan Cepat Sampai Tujuan

16 Januari 2026
4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.